Dulu bayi-bayi yang lahir prematur dianggap tidak bisa diselamatkan. . Mereka biasanya dibiarkan mati begitu saja. Pada pada awal tahun 1900-an, dunia kedokteran saat itu melihat bayi prematur sebagai kesalahan alam dan dianggap tidak memiliki masa depan. Tapi seorang bernama Martin Arthur Couney melihat bayi-bayi prematur ini dan ia melihat harapan. Ia menciptakan inkubator bagi bayi prematur. Couney adalah penyelamat bayi prematur pertama di dunia dengan alat inkubatornya. Inspirasinya datang dari Pameran Dunia Chicago, di mana ia melihat inkubator ayam digunakan pada bayi.
Couney merawat bayi-bayi prematur itu dalam inkubator dan menjadikannya sebagai pertunjukan. Couney menggelar pertunjukan di Coney Island, sebuah taman hiburan.
Di sana ia memamerkan bayi prematur di dalam inkubator, sebagai bagian dari sebuah pertunjukan. Ya, pertunjukan. Karena itulah satu-satunya cara untuk mendanai perawatan mereka. Couney mengelola fasilitas inkubatornya untuk bayi prematur di Coney Island dari tahun 1903 hingga 1943 dan menyelenggarakan pameran serupa di Pameran Dunia dan taman hiburan di seluruh Amerika, serta di London, Paris, Meksiko, dan Brasil. Pameran bayi prematur itu sangat populer di kalangan masyarakat Chicago yang membayar 25 sen dan berbondong-bondong datang dalam jumlah ratusan ribu untuk melihat bayi-bayi itu. Dari sinilah Couney membiayai perawatan dan peralatan inkubator yang digunakannya untuk menyelamatkan para bayi yang ‘ditolak’ oleh rumah sakit itu.
Karena cara dan latar pertunjukan tempat ia berpraktik, karier Couney selalu kontroversial. Banyak profesional medis memandang “dokter inkubator” itu dengan curiga dan bahkan dengan sikap permusuhan langsung. Masyarakat New York untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Anak telah berulang kali menuduh Couney mengeksploitasi bayi-bayi itu dan membahayakan nyawa mereka dengan memamerkan mereka. Couney terus-menerus dikritik dan berbagai upaya dilakukan untuk menutup pamerannya, yang oleh banyak orang dianggap “melawan kodrat keibuan.” Namun, Couney tetap bertahan dan menyediakan perawatan medis bagi anak-anak dari orang tua yang tidak mampu membiayainya. Pada tahun 1930-an, metoda inkubator Couney akhirnya dianggap serius sebagai pelopor medis. Pada saat pameran Luna Park-nya ditutup pada tahun 1943, metode Couney telah digunakan di rumah sakit umum.

Teknik yang digunakan Couney tergolong maju pada masa itu meski pun biaya operasional fasilitasnya mahal. Namun, ia tidak mengenakan biaya sepeser pun kepada orang tua bayi prematur; sebaliknya, masyarakat membayar untuk melihat bayi-bayi tersebut dalam inkubator. Ia mengklaim tingkat kelangsungan hidup bayi prematur mencapai 85 persen. Pada tahun 1939, ia telah merawat lebih dari 8.000 bayi dan menyelamatkan nyawa 6.500 orang. Salah satunya adalah putrinya, yang beratnya kurang dari tiga pon saat lahir.
Meski semula Couney dianggap sebagai dokter ternyata sebenarnya Couney bukanlah seorang dokter. Seorang penulis buku tentangnya menyelidiki dan ternyata Couney tidak pernah bersekolah medis di Jerman seperti yang pernah dikira.
Apa yang dilakukan oleh Couney ini mengingatkan saya langsung pada seorang teman, dosen teknik UI bernama Prof. Dr. Raldi Artono Koestoer. Beliau adalah penggagas Inkubator Gratis. Tahun 1994, Prof Raldi Artono Koestoer sudah membuat inkubator. Tahun 2010 ketika ada dana dari Bank Dunia, ia memperbarui alat itu lalu menyerahkannya ke RS di Depok dan dua lagi ditaruh di kantornya dan rektorat UI. Ide Inkubator Gratis ini kali pertama lahir pada awal tahun 2000. Kala itu, ia banyak mendengar cerita bayi prematur yang meninggal lantaran orangtuanya tak punya uang membayar sewa inkubator di rumah sakit.
“Bayi tidak ada ibunya, akan stres. Nah ibu tidak ada bayinya juga stres. Jadi dua-duanya stres, double masalah sebenarnya. Nah sekarang kita satukan, semua penyakit bayi 50 persen hilang, karena apa? Karena si bayi sudah sama ibunya di rumah,” jelasnya.
“Jadi jangan-jangan selama ini bukan takdir kalau bayi mati, tetapi memang karena tidak ada usahanya,” sambung Raldi. Persis seperti apa yang disampaikan oleh Couney.
Bertahun bereksperimen, pada 2012, dua inkubator buatannya rampung. Ukurannya besar, persis seperti yang ada di rumah sakit. Daya listrik yang dibutuhkan juga besar 200 watt lebih. Karena ukuran yang gede itu, rupanya menyulitkan keluarga pengguna inkubatornya memboyong ke rumah yang kebanyakan ada di gang-gang, pun minim listrik.
Raldi kemudian meriset lagi inkubatornya. Dan kini, Inkubator Gratis itu sudah lebih kecil. Beratnya 13 kilogram dan hanya memerlukan daya listrik tak lebih dari 50 watt. Bahan dasarnya terbuat dari acrylic dan kayu dengan ukuran 40x50x60 cm. Jumlah inkubatornya ada 60. Pemakaian alat itu lewat program peminjaman inkubator gratis sejak 2012 sampai Desember 2020 telah menyelamatkan 4.500 bayi prematur di Tanah Air. Ia mendirikan Yayasan Bayi Prematur Indonesia. Yayasan itu ia dirikan untuk memberi pinjaman inkubator secara gratis bagi bayi prematur dari keluarga miskin. Untuk melakukan niat itu ia mengajak warga menjadi agen relawan. Saat ini agen relawan yang tergabung dalam Yayasan Bayi Prematur Indonesia ada di 134 kota dan kabupaten se-Indonesia. Pengurus dan agen siap sedia 24 jam menerima permintaan peminjaman inkubator.
Saat ini, ribuan orang hidup karena orang-orang yang berani menentang ‘takdir kematian’ karena ketidakberdayaan dan ketidakmampuan situasi yang ada yang kemudian diubah menjadi sebuah harapan. Couney dan Raldi bukanlah dokter tapi upaya mereka berhasil menyelamatkan banyak bayi. Harapan ini mereka wujudkan dengan cinta kasih, keyakinan kuat dan kerja keras. Kita harus memberikan penghargaan yang tinggi untuk para pejuang kehidupan bayi prematur ini.
Surabaya, 12 Juni 2025
Satria Dharma