Saya sedang menikmati istirahat di kamar dengan kaki saya tumpangkan di kursi yang lebih tinggi. Kaki saya minta diperlakukan agak spesial. Setelah saya pakai jalan belasan ribu langkah pagi ini kaki saya minta perlakuan khusus. Rasanya begitu nyaman sehingga saya hampir saja tertidur. Tiba-tiba HP saya berbunyi. Seorang kerabat jauh yang tinggal di Bali menelpon. Saya angkat dan kami pun ngobrol.
Ternyata ia sedang di Kalianget Madura karena orang tuanya yang sudah berusia 90 tahun sakit. Sudah sepuluh hari tidak bisa bangun. Sebagai anak yang berbakti ia harus datang ke Kalianget meski ia juga sedang kesulitan. Kesulitan finansial maksudnya. Ia memang tidak punya pekerjaan tetap. Dan orang yang tidak punya pekerjaan tetap jelaslah tidak punya penghasilan tetap juga. Dan itu sumber kesulitannya. Tapi karena ibunya sakit maka ia harus mengusahakan untuk datang ke Madura. Dengan segala cara…
Ia terus bercerita dan saya berusaha menimpali dengan sebaik-baiknya. Saya lupakan dulu kaki saya yang protes karena saya hentikan posisi nyamannya tersebut.
Tiba-tiba saya sadar…
Tentu saja ia tidak menelpon saya hanya karena rindu lama tak bersua atau sekedar mau cerita tentang ibunya yang sakit atau bagaimana ia menempuh kesulitan dari Bali ke Madura dengan motor bututnya. Tentu saja ia punya maksud dengan menelpon saya tapi ia kesulitan untuk menyampaikannya. Memang ada orang-orang tertentu yang tidak mampu menyampaikan apa sebenarnya inti dari komunikasinya.
Setelah menyadari apa yang ia kehendaki saya segera menimpali dan berkata, “Kalau sampeyan tidak bisa mampir ke rumah saya di Surabaya karena kerepotan saya mau titip uang bensin saja. Apa sampeyan ada nomor rekening?”
“Alhamdulillah…!” demikian jawabnya lega. I can hear it clearly from his voice. “Nanti saya minta no rekening keponakan. Soalnya saya tidak punya nomor rekening.”
Tak lama kemudian nomor rekening keponakannya mendarat di HP saya.
Problem solved. Kaki saya boleh minta terapi dilanjutkan… 😁
Surabaya, 18 Januari 2025
Satria Dharma