Saya dan istri suka travelling. Itu sebabnya kami sudah mendatangi semua propinsi di Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan sudah mendatangi banyak negara di lima benua. Semakin banyak kami travelling semakin ingin kami mendatangi negara-negara yang belum kami datangi. Travelling is truly addicted. 😁
Bertualang bagi saya adalah mendatangi daerah yang baru dan melihat hal-hal baru. Saya selalu suka mendatangi daerah-daerah baru dan melihat hal-hal baru. Dan itu ternyata tidak harus pergi jauh. Kalau tidak ada kesempatan travelling ya saya bertualang dengan jalan kaki pagi memasuki jalan-jalan di sekitar di mana kami tinggal. Dan itu ternyata cukup menyenangkan. Banyak hal-hal yang kita lihat dan temui dan tidak pernah kita duga.
Saya dan istri memang punya kebiasaan untuk jalan kaki pagi setiap hari. Tapi kami tidak jalan kaki pagi di lapangan olahraga. Kalau jalan kaki pagi di lapangan olahraga seperti teman saya yang rutin olga di stadion olahraga itu memang olahraga tapi tidak ada unsur petualangannya. Saya suka jalan kaki sambil olahraga sambil bertualang mendatangi daerah-daerah baru dan melihat hal dan pemandangan baru. Dan hal-hal baru itu ternyata sangat banyak kita temui di kota di mana kita tinggal. Cobalah masuki jalan-jalan dan gang-gang di sekitar kompleks perumahan kita dan temui hal-hal yang tidak pernah kita duga ternyata ada di sana. Bagi saya itu termasuk bertualang ndek-ndekan. Bagi saya everyday is an adventure day. 😁
Olahraga jalan kaki pagi ini istri saya tidak ikut. Katanya ia harus mengawasi proyeknya sejak pagi. Lagipula beberapa hari ini target jalan kakinya yang hanya 6.000 langkah selalu berlebih. Kapan hari malah pernah 12.000 langkah dan bikin kakinya gempor. Berarti target dua hari terselesaikan dalam sehari, begitu katanya. Baiklah kalau begitu… Berarti ini kesempatan bagi saya untuk jalan mengambil jalur baru. 😎
Kalau saya jalan sendiri maka saya memang suka mengambil jalur baru, uncharted and longer route. Rute baru yang belum pernah saya lewati dan bikin saya penasaran ke mana akan berujung. Kali ini saya ambil jalur ke Bukit Cinta. Entah mengapa daerah ini disebut Bukit Cinta. Apakah banyak orang sedang jatuh cinta di puncak bukit ini atau orang sekedar memberi nama saja. Nama daerah di Balikpapan ini cukup romantis. Ada yang kelurahan Damai, kelurahan Damai Bahagia (di mana kami tinggal), dan ini Bukit Cinta. Jelas nama ini lebih menenangkan ketimbang Bukit Pocong, umpamanya. 😁

Karena namanya Bukit Cinta maka jelas jalannya menanjak dan bikin napas ngos-ngosan. Jalanan menanjak seperti ini yang tidak disukai oleh istri saya dan dia bisa ngembek dan tidak mau meneruskan karena bikin kakinya ‘goblok’. Tapi saya justru menikmatinya. Dulu waktu masih muda saya suka naik gunung jadi kalau cuma bukit mah cemen. Enaknya adalah jalan ini termasuk jalan yang sepi karena penduduknya belum terlalu banyak. Meski demikian saya surprised Ketika melihat ada bangunan besar berdiri sendiri di perbukitan. “Kantor apa gerangan yang sebesar itu?” demikian pikir saya. Setelah sampai di atas ternyata ada pintu gerbang menuju gedung tersebut dan dijaga oleh Satpam. Setelah saya tanya lalu diberitahu bahwa itu adalah gedung sekolah Islam AISBA. Katanya sekolah ini beru beroperasi dua tahun. Tapi setelah saya lihat spanduknya ternyata sekolah ini katanya sudah mendapatkan akreditasi “A”. Kok bisa…?! 🤔
Selain gedung sekolah besar yang baru saya ketahui saat itu, saya juga menemukan gedung besar bertingkat dan ternyata adalah rusun (rumah susun) Perusda. Tampaknya ini rusun yang belum lama berdiri karena masih tampak baru dan terawat. Biasanya rusun itu kalau sudah lama tampak kumuh dan berantakan. Saya berjalan sampai tembus ke Gunung Malang dan balik melalui jalur yang biasa saya lewati.
Pagi ini saya berjalan sebanyak 9.534 langkah sesuai dengan aplikasi Pedometer di HP saya. Lumayanlah… 😁
Balikpapan, 20 September 2024
Satria Dharma