Dalam posting saya soal “Haruskah Manusia Beragama” seorang mengirimkan pendapat Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi yang berbunyi : Umat Islam saat ini sedang digiring untuk toleran terhadap segala macam perbedaan, termasuk agama, ideologi, dan ajaran sesat. Setelah itu diarahkan agar mau menerima kebenaran agama, ideologi, dan aliran sesat yang jelas berbeda itu. Tapi anehnya di sisi lain umat Islam juga didorong agar tidak toleran terhadap sesama kelompok/golongan/mazhab yang masih termasuk dalam aqidah syariat Islam. Marilah berfikir cerdas.”
Saya mau menanggapi kalimat pertama Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi tersebut dulu.
Tampaknya memang ada pemahaman yang keliru tentang apa itu toleransi dan sikap toleran. Toleransi adalah sikap saling menghargai, menghormati, dan menerima perbedaan antara individu atau kelompok dalam hal keyakinan, pendapat, atau kepercayaan. Secara etimologi, kata “toleransi” berasal dari bahasa Latin “tolerare” yang berarti sabar dan menahan diri. Secara terminologi , toleransi mengacu pada sikap yang tidak memaksakan kehendak, tidak mencela, dan tidak merendahkan orang lain karena perbedaan yang ada.

Tampaknya Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi perlu benar-benar memahami arti ‘toleransi’ ini. Mengapa? Karena tampaknya beliau TIDAK SETUJU kalau umat Islam TOLERAN terhadap segala macam perbedaan baik itu perbedaan agama, ideologi, dan bahkan ajaran yang dianggap sesat oleh umat Islam. Padahal umat Islam memang HARUS TOLERAN yang artinya menghargai, menghormati, menerima perbedaan, tidak memaksakan kehendak, tidak mencela, dan tidak merendahkan perbedaan yang ada antara umat Islam dengan umat lain, meski pun kita anggap umat atau golongan lain itu memiliki aqidah yang sesat menurut Islam. Justru seharusnya beliau juga MENDORONG umat Islam untuk toleran dan bukan malah mengajak untuk menentang atau memusuhi mereka yang berbeda tersebut. Bukankah dalam Islam sendiri sikap toleran itu jelas sekali dalam ayat Lana a’maaluna walakum a’maalukum (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu)”
Ayat “Jika mereka mendustakan-mu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan”. [Yunus/10: 41]” sesungguhnya adalah sikap yang harus dilakukan oleh umat Islam jika menghadapi orang kafir atau orang yang dianggap sesat. Ayat ini mengajari umat Islam untuk TIDAK MENGIKUTI ajaran atau amalan kelompok atau golongan kafir dan BERLEPAS DIRI dari apa yang mereka ikuti tapi sekaligus mengajari untuk TIDAK MERECOKI DAN TIDAK MENGURUSI apa yang mereka lakukan. Bagiku amalku dan bagimu amalmu. Marilah kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan masing-masing TANPA HARUS SALING MERECOKI DAN MENGGANGGU.
Selain ayat tersebut ada ayat lain yang perlu kita pahami yaitu surah Al An’am: 108 yang berbunyi, “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.” Ayat ini jelas-jelas melarang kita untuk MEMAKI, MENGHINA, dan MERENDAHKAN sesembahan dari agama atau kepercayaan lain. Mengapa? Karena mereka pasti akan membalas memaki, menghina, dan merendahkan Tuhan yang kita sembah. Jadi umat Islam benar-benar DILARANG untuk melakukan perbuatan memaki dan merendahkan keyakinan umat lain. Biarkanlah mereka dengan sesembahan dan ritual mereka agar mereka juga membiarkan dan menghormati keyakinan dan ritual kita. Itulah yang disebut TOLERANSI.
Jadi bahkan dalam soal aqidah terhadap orang kafir dan dianggap sesat pun, umat Islam DIAJARI untuk BERSIKAP TOLERAN alias tidak saling mengganggu dan tidak saling merecoki, apalagi dalam soal muamalah. Kalau kita harus berbeda (dan pasti akan sangat banyak perbedaan dalam sikap, prilaku, dan tindakan kita) maka marilah kita menunjukkan SIKAP TOLERAN alias tidak saling mengganggu, tidak saling merecoki, tidak saling menghina, tidak saling mengecam, tidak saling mencari-cari kesalahan, tidak saling menyalah-nyalahkan, dlsb. Marilah kita sepakat pada sikap Lana a’maaluna walakum a’maalukum (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu) karena itu yang diajarkan oleh agama Islam pada umatnya.
Jadi terhadap kaum Syiah, Baha’i, Yahudi, Nasrani, bahkan terhadap kaum atheis pun umat Islam HARUS TOLERAN yang artinya biarkanlah mereka menganut ideologi, agama, akidah, syariat mereka. Kita juga ingin agar mereka membiarkan kita, umat Islam, aman damai dan sentosa dengan menjalankan apa yang kita anggap sebagai kebenaran dan kebaikan kita.
Lana a’maaluna walakum a’maalukum (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu). Sepanjang tidak melanggar hukum positif ya mari kita menjalankan apa yang kita anut dan percayai masing-masing.
Jakarta, 11 September 2024
Satria Dharma