Meski pun sudah menikah selama lebih dari 32 tahun tapi saya dan istri masih tetap mesra dan selalu gandengan tangan. “Koyok sik pacaran ae…” kata seorang teman. “Ojok salah rek. Waktu pacaran aku malah gak wani gandengan tangan.” Gandengan tangan itu ada fungsinya, terutama kalau di mall. Kalau saya lepaskan sebentar saja gandengan saya bisa-bisa istri saya lepas, hilang, dan ketika ketemu sudah bawa tas belanjaan macam-macam. Jadi sebaiknya digandeng saja. 😁
Kalau ada yang tanya apa resep membuat istri selalu bahagia maka jawabnya ada 3, yaitu uang, money, dan piti. Anda boleh tidak percaya tapi uang bisa membuat istri bahagia, berapa pun usia istri Anda. Saya sudah membuktikannya sendiri. Saya sudah mencoba dengan leluconnya Cak Lontong, puisinya WS Rendra, kata-kata mutiara dari Rumi, esai dari Goenawan Muhammad, dll tapi tidak ada yang seefektif transferan ke rekeningnya. Begitu uang masuk ke rekeningnya, senyumnya otomatis mengembang, merekah bahagia. “Terima kasih sayang.” katanya, ”Lebih banyak lebih baik.” I guess so…
Money can’t buy happiness, demikian kata pepatah. Of course you cannot buy happiness because happiness is not for sale. But money can buy things which may make women happy. Maksud saya, jangan pelit sama istri. Kalau dia butuh 100 ribu berilah 150 ribu. Dia perlu sejuta beri dua juta. Pokoke sak mblengere… Walau pun kita tahu bahwa istri kita tidak akan pernah mblenger sama uang. Edan po…! Istri yang bahagia adalah resep perkawinan yang langgeng. Survei membuktikan bahwa wanita yang uangnya banyak wajahnya lebih cling ketimbang yang gak punya uang blas. Ada skincare mahal yang melindungi wajah mereka.
Rahasia kami untuk tetap rukun adalah pembagian tugas. Tujuannya agar tidak terjadi konflik karena salah paham dalam menangani masalah yang sama. Suami ingin ke kondangan pakai baju yang santai si istri ngotot harus pakai batik tertentu yang katanya sudah dia siapkan sejak dua minggu yang lalu. Kan berabe kalau dalam segala hal kita bertengkar. Itu sebabnya perlu ada pembagian tugas. Kata istri saya sebagai suami saya sebaiknya menangani hal-hal penting saja sedangkan yang remeh-remeh biar dia yang tangani. Saya tentu saja merasa tersanjung karena diberi tugas-tugas yang penting. Untuk apa saya mengurusi hal-hal remeh? 😎 Waktu saya tanya hal penting apa yang harus saya tangani dijawab, “Ya hal penting yang berhubungan dengan kemaslahatan umat manusia, bagaimana menangani pemanasan global, memikirkan masalah kelangkaan air di NTT, apakah sebaiknya Indonesia ini lebih fokus pada energi terbarukan atau gas alam, dlsbnya. Jadi urusan rumah tangga dan seisinya, apa jenis dan merk mobil yang mau dibeli, mau kredit atau cash, anak mau sekolah di mana atau mau gak sekolah sekalian, rumah mau direnovasi atau tidak, dll itu urusan istri. Saya kebagian tugas luar mikiri apakah anjing laut di kutub sana cukup merasa dingin atau tidak, bagaimana agar Putin dan Zelensky tidak eker-ekeran terus, berapa nilai dolar yang pas untuk rupiah, dlsbnya. Semua hal tersebut diserahkannya pada saya untuk saya urus sepenuhnya. Sekali lagi saya merasa tersanjung. ☺️
Alhamdulillah karena tugas sudah dibagi demikian maka potensi konflik di antara kami langsung anjlok. Begitu saya mempertanyakan mengapa ada tambahan sofa di rumah maka saya pasti akan diingatkan bahwa itu di luar yurisdiksi saya. Sebaiknya saya mengurusi ikan lumba-lumba di Sungai Mahakam yang diprediksi semakin menyusut jumlahnya. Itu masalah genting yang belum ada yang menangani. Biarlah masalah sofa menjadi urusannya. Terlalu remeh untuk saya urusi, katanya. “Tidak level dengan kapasitas intelektual, Yayang.” katanya. Saya langsung sadar dan bertobat setelahnya. Astagfirullah…! Untung istri saya mengingatkan. 😂
Jadi begitulah indahnya kalau sudah ada pembagian tugas dalam rumah tangga. Suami cari uang dan istri yang mengelola. Saya bagian pemasukan, istri bagian pengeluaran. Sungguh harmonis. 😁
Madigondo, 2 September 2024
Satria Dharma