Seorang teman yang sebenarnya lembut sekali tiba-tiba menulis posting mengecam dan menghujat Jokowi yang disindir dan dikecamnya sebagai Si Tukang Kayu yang diberi amanat mengurus negeri, justru diacak-acak sesuka hati.
Saya kaget dan prihatin bahwa teman yang begini lembut kok bisa tiba-tiba jadi garang karena ikut gelombang ‘Peringatan Indonesia Darurat’. Jadi saya menulis komentar di FBnya tersebut sbb : “Anda yakin bahwa orang yang Anda sebut sebagai tukang kayu itu melakukan keburukan yang Anda tuduhkan? Anda tahu sendiri, dan benar-benar tahu, atau sama saja dengan orang-orang lain yang menuduhnya hanya karena dengar-dengar belaka? “Barangsiapa yang menuduh seorang muslim dengan tuduhan yang tidak benar, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka hingga ia dapat membuktikan tuduhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Teman saya tersebut diam saja dan sama sekali tidak membalas atau menjawab komen saya. Ia memang orang yang lembut dan mungkin tidak ingin beradu pendapat dengan saya meski di wallnya sendiri.
Tapi seseorang menjawab komen saya tersebut setelah cukup lama dan saya pikir sudah selesai. Begini komennya : “Tinggal dibalik ini sih. Anda yakin bahwa tukang kayu itu tidak melakukan keburukan? Anda tahu sendiri, dan benar-benar tahu, atau sama saja dengan orang-orang lain yang menjunjungnya?
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan” (QS. Huud 113).
Jadi saya jawab. :” JUSTRU KARENA SAYA TIDAK TAHU maka saya TIDAK AKAN MENYEBARKAN APA YANG SAYA TIDAK TAHU. Mengapa? Karena itu BERPOTENSI menjadi FITNAH. Sedangkan menyebarkan fitnah adalah dosa.
Begitulah kita…. 😔
Kadangkala kita itu memang sangat cenderung untuk membenarkan apa asumsi dan praduga kita meski SEBENARNYA kita sendiri tidak memiliki fakta yang sebenarnya. Kita menganggap bahwa jika mayoritas di sekitar kita menyatakan sesuatu maka kita cenderung menganggap itu sebagai fakta dan kebenaran.
Mengapa saya menegur teman saya tersebut? Karena saya sayang kepadanya. Ia tidak perlu harus hanyut dalam pusaran kebencian yang sungguh tidak ada gunanya tersebut. Apalagi jika alasan yang ia gunakan dalam menyemburkan rasa benci dan amarahnya itu tidak benar-benar ia ketahui dan hanya berdasarkan asumsi-asumsi, praduga dan prasangka yang spekulatif. Berhati-hati dalam melemparkan tuduhan buruk kepada siapa pun adalah jauh lebih baik ketimbang turut dalam gelombang para penuduh dan pemfitnah. Jika ternyata apa yang dituduhkan itu tidak benar maka kita jelas sudah berdosa karena melontarkan fitnah dan tuduhan yang salah. Jika kita benar maka kita juga tidak mendapatkan pahala atau jasa apa pun karena sudah ikut menyebarkan tuduhan meski pun seandainya itu benar.
Saya sering heran dengan orang yang merasa HARUS ikut dalam gelombang melawan Jokowi dan pemerintahannya. Mereka menganggap diri mereka sebagai kaum yang kritis dan peduli pada bangsa. Mungkin mereka merasa melawan ‘pemerintah yang zalim’ adalah sebuah jihad fisabilillah. Mereka sudah benar-benar yakin bahwa pemerintah sekarang, khususnya Jokowi, adalah zalim dan harus diperangi. Padahal kalau ditanya “Apakah Anda yakin bahwa pemerintah sekarang dan khususnya Jokowi adalah zalim dan harus diperangi? Apakah Anda punya bukti-bukti yang nyata?’ tentu hanya akan mengeluarkan pendapat-pendapat orang yang asumtif spekulatif juga. Jadi untuk apa sebenarnya ikut-ikutan arus politik semacam itu yang tidak ada manfaatnya untuk kita?
Mahfud MD baru-baru ini juga melontarkan tulisan yang membuat saya sedih. di platform media sosial X melalui akun pribadinya Mahfud MD, menulis dengan kalimat yang syahdu menyerupai puisi.
“Kalau kemarin, Engkau Sahabat, bisa berbuat apa saja menurut nafsu serakahmu maka sekarang engkau akan melemah sampai waktunya tak bisa berkutik. Kalau sekarang, Engkau Kawan, mendapat kesempatan untuk berkuasa maka kelak engkau juga harus lepaskan kekuasaanmu. Pilihannya, apakah Engkau mau turun dengan manis atau turun dengan pahit. Itu tergantung caramu mengendalikan hawa nafsumu.”
Mengapa saya sedih? Karena saya TIDAK AKAN mengritik atau mengecam seseorang yang saya anggap sahabat secara publik seperti ini. Saya yakin Mahfud MD juga paham soal itu. Beliau kan orang yang alim soal agama. Tapi mungkin Mahfud MD punya pertimbangan lain kepada ‘sahabatnya’ itu.
Saya jadi ingat kasus ketika beliau mengecam Fadli Zon yang menulis puisi yang dianggapnya sebagai penistaan dan penghinaan.
Wakil Ketua DPR Fadli Zon di tahun 2019 membuat puisi berjudul ‘Doa yang Ditukar’. Dalam puisinya, dia menyindir soal agama yang diobral hingga penguasa tengik.
“Doa sakral. Seenaknya kau begal. Disulam tambal. Tak punya moral. Agama diobral, “Doa sakral. Kenapa kau tukar. Direvisi sang bandar. Dibisiki kacung makelar. Skenario berantakan bubar. Pertunjukan dagelan vulgar,” dst
Mahfud MD menilai puisi itu bermasalah secara etika lantaran telah menyinggung Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah, KH Maimun Zubair atau Mbah Moen. “Mau dihukum tidak bisa, tapi secara etik dia dianggap penistaan, penghinaan lah terhadap seorang Mbah Maimoen. Sehingga menyikapinya secara politik saja, orang ini pantas enggak sih menjadi wakil rakyat. Politik, kan, gitu,” kata Mahfud. Itu di 2019 dan sekarang sudah 2024. 😎
Meski demikian saya akan tetap mencintai Mahfud MD sebagai orang yang saya anggap idealis, jujur, dan berani. Kemarin saya itu nyoblos 03 juga karena faktor beliau jadi cawapresnya kok. 😁
Surabaya, 31 Agustus 2024
Satria Dharma
Sumber berita :
[1] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190213135055-32-368881/mahfud-sebut-puisi-fadli-secara-etika-penistaan-ke-mbah-moen
[2] https://www.kompas.tv/nasional/40904/soal-puisi-fadli-zon-mahfud-md-itu-pelanggaran-etika