Semakin hari semakin banyak posting-posting bernada kebencian dan fitnah bersliweran. Herannya yang melakukan justru orang-orang yang selama ini menampilkan dirinya sebagai intelektual, agamis, relijius, aktifis, dan bahkan guru. Saya ngeri melihatnya. 🥺
Sebuah hoax disebarkan di salah satu WAG keluarga besar tentang Bobby, menantu Jokowi, yang katanya rumahnya digeledah dan tiga koper berkas dibawa lalu rumahnya dikosongkan KPK dan dipasang police line.
Saya lalu tanya apakah berita ini sudah dicek kebenarannya. Apakah sudah yakin benar bahwa ini bukan berita bohong? Bukankah kita sebagai umat Islam diwajibkan untuk tabayun sebelum menyebarkan berita. Kalau belum dicek kebenarannya kok berani sekali menyebarkannya ke publik? Apa tidak takut dosa?
Tapi tidak digubris dan malah saya dituduh baper.
Saya lalu menunjukkan berita bantahan dari media utama bahwa berita itu hoax dan berpotensi fitnah.
Tapi berita bantahan saya tersebut ternyata malah membuatnya berang dan bahkan semakin membabi buta. Dia lalu mengeluarkan lebih banyak lagi hoax dan berita-berita yang bernada kebencian pada Jokowi dan keluarganya. Semakin diingatkan semakin banyak pula ia mengeluarkan posting senada. Masih banyak kalau mau, katanya.
Ya Allah….! 🥹
Inilah bahayanya membenci berlebihan. Tuhan sudah melarang kita membenci berlebihan. Kita dilarang berlaku tidak adil karena rasa benci (QS. Al-Maidah: 😎
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Kebencian pada seseorang atau kaum akan mendorong kita menjadi tidak adil. Di sini kita bisa melihat bahwa kebencian pada seseorang bisa mendorong kita menyebarkan fitnah yang keji padahal kita tahu bahwa menyebarkan fitnah sangat terlarang dalam agama kita. Kita tidak lagi bisa merasa bahwa itu sebagai larangan dan dosa. Kita hanya ingin memberi makan dan memuaskan rasa benci kita.
Ini juga bukti bahwa meski pun kita selalu salat wajib dan salat sunnah, berpuasa sunah dan baca Alqur’an, wiridan dlsbnya, tapi jika kita sudah membenci berlebihan maka kita akan kalap dan tidak peduli lagi pada larangan Tuhan. Bahkan jika kita mengeluarkan ayat Alquran dan hadis yang melarang fitnah justru kita yang dianggap merasa benar sendiri dan baper.
Sungguh ngeri…! 🥺
Balikpapan, 24 Agustus 2024
Satria Dharma