Para pekerja konstruksi di kawasan Ibu Kota Nusantara, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur masuk ke kawasan proyek pembangunan Istana Negara. ANTARA FOTO. https://indonesia.go.id/
Seorang teman memposting tentang perekonomian Indonesia yang sudah di lampu kuning dan kalangan ekonomi menengah yang terancam menjadi miskin. Saya lalu komen dengan berita tentang larisnya karcis konser SOS dan Taylor Swift serta semakin banyaknya orang yang antri naik haji dan umroh. Dia lalu marah dan menganggap saya tidak berempati pada kesulitannya.
Saya jadi bingung. Kenapa harus marah dengan komentar saya? Mungkin dia sedang menghadapi masalah dengan pekerjaan (atau perekonomian keluarganya) lalu bilang bahwa perekonomian Indonesia sedang gawat, tidak baik-baik saja, dlsb. Mungkin dia ingin sekedar curhat dan komentar saya dianggap tidak berempati pada kesulitannya. Waduh…! 🥺
Dia tidak salah. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan akhir-akhir ini. Dan itu memang fakta. Tapi apa yang saya sampaikan adalah juga fakta. Ada banyak fakta di Indonesia ini yang bertentangan dengan fakta lain. Apalagi kalau cuma pendapat. Saya toh tidak bilang bahwa ia berbohong dengan fakta yang ia sampaikan. Saya hanya menunjukkan bahwa ada fakta lain yang bertolak belakang dengan fakta yang ia kemukakan. Dan itu hal yang biasa saja. Ada Yin ada Yang, dan itu tidak berarti salah satu dari Yin atau Yang itu salah.
Di posting lain lebih sangar lagi. Ketika ada posting teman berita tentang lampu kuning dari kelas menengah lalu saya komentari dengan berita dari Bank Indonesia dan Mentri Perekonomian bahwa perekonomian Indonesia baik-baik saja dan mengalami pertumbuhan yang signifikan tiba-tiba ada yang marah dan berkomentar “Satria Dharma bapak ngga capek nyampah di komen orang lain?”


Lho piye tohi ki…?! Apakah berita yang valid dan jelas sumbernya itu dianggap sampah olehnya? 🤔
Saya paham bahwa ia tidak suka dengan berita yang saya sampaikan karena itu bertentangan dengan apa yang ia yakini bahwa perekonomian Indonesia sedang suram (seperti yang diposting). Dan ia tidak ingin keyakinannya itu dibantah atau tidak dipercaya oleh komen lain. Ia hanya ingin mendengar berita yang sama dengan ia yakini. Baginya berita yang bertentangan dengan yang diposting adalah sampah dan menyakitkan baginya.
Apakah perekonomian negara kita (atau perekonomian keluarga kita) sedang gawat, lampu kuning, menuju resesi, atau sebaliknya baik-baik saja, tumbuh dengan stabil, dipuji oleh Bank Dunia, dlsb itu bergantung darimana kita melihatnya dan berada di mana posisi kita. Untuk perekonomian makro ya sebaiknya kita melihat dari laporan Bank Dunia, Bank Indonesia, Mentri Keuangan, Pedagangan, Investasi, dlsb. Kalau Anda mau menilai secara subyektif ya silakan saja tapi faktanya perekonomian negara kita tidaklah buruk. Sila baca berita tentang hal ini di berbagai media.
Apakah ini membantah fakta bahwa saat ini banyak PHK di mana-mana dan pengangguran meningkat? Ya, tidak. PHK di mana-mana, pengangguran meningkat, penjualan barang tertentu anjlok, beberapa mall sepi dan ditinggalkan oleh pengunjung, dlsb bukan berarti bahwa perekonomian negara kita juga anjlok. Seperti yang saya sampaikan bahwa ada fakta lain yang menunjukkan bahwa banyak orang yang tidak kesulitan keuangan dengan bukti larisnya tiket konser yang mahal, semakin meningkatnya peminat haji dan umroh, penuhnya mall, café, resto, tempat rekreasi tertentu, dll. Kita hanya melihat gambaran yang berbeda dengan gambaran yang kita yakini sedang terjadi. Anda tidak salah dengan fakta yang Anda tunjukkan tapi kalau ada orang yang menunjukkan fakta lain yang berbeda dengan fakta Anda ya tidak perlu marah atau jengkel. We just look at different sides. Don’t take it personally. 🙏
Balikpapan, 9 Agustus 2024
Satria Dharma