Negara Jepang menghadapi ancaman serius. Kelihatannya remeh tapi serius, yaitu masalah penuaan usia warganya.
Untuk pertama kalinya, lebih dari satu dari 10 orang di Jepang kini berusia 80 tahun ke atas. Data nasional juga menunjukkan 29,1% dari 125 juta penduduk berusia 65 tahun ke atas – sebuah rekor. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 40% pada tahun 2055, ketika jumlah penduduknya akan menyusut dari saat ini 127 juta menjadi tinggal 90 juta. Bayangkan kalau negara warganya semakin menyusut jumlahnya dan yang ada tinggal para gaek yang sudah masanya pensiun. 🥺
Jepang merupakan salah satu negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia dan telah lama berjuang untuk memenuhi kebutuhan penduduk lanjut usia yang mereka miliki saat ini. PBB menyatakan bahwa Jepang merupakan negara dengan populasi tertua di dunia, diukur berdasarkan proporsi penduduk berusia 65 tahun ke atas.
Berdasarkan data statistik resmi pemerintah Jepang, pada Oktober 2023 Jepang memiliki sekitar 124,34 juta orang penduduk. Jumlah penduduk Jepang itu sudah berkurang 0,4% dibanding Oktober 2022, atau menyusut 2,3% dibanding sepuluh tahun lalu.
Jepang memiliki angka harapan hidup tertinggi di dunia, dengan rata-rata harapan hidup sekitar 85 tahun. Akibatnya adalah Jepang memiliki lebih dari 50.000 orang yang berusia lebih dari 100 tahun, menjadikannya salah satu pemimpin dunia dalam hal warga berusia seratus tahun.
Artinya, seiring dengan populasinya yang menyusut, penduduk Jepang saat ini didominasi oleh orang-orang tua. Bayangkan kalau negara didominasi oleh para ‘the tuwirs’ usia 85 s/d 100 tahun…! 🥺
Pada Oktober 2023, jumlah penduduk Jepang yang masuk kategori lanjut usia (65-100 tahun ke atas) jika digabungkan mencapai 36,2 juta orang, setara 29,1% dari total populasi dan akan meningkat 34,8% dari populasi pada tahun 2040. Jumlah penduduk Jepang yang masuk kategori usia kerja (15-64 tahun) jika digabungkan mencapai 73,9 juta orang, setara 59,5% dari total populasi. Namun, jika dirinci, penduduk usia kerja Jepang juga didominasi oleh orang-orang tua, yakni kelompok 50-54 tahun dan 45-49 tahun.
Upaya untuk meningkatkan angka kelahiran juga tidak membuahkan hasil di tengah meningkatnya biaya hidup dan jam kerja yang sangat panjang. Angka kelahiran memang melambat di banyak negara, termasuk negara tetangga Jepang, namun permasalahan ini sangat akut di Jepang. Semakin sedikit bayi dilahirkan.
Negara ini diperkirakan memiliki kurang dari 800.000 bayi yang lahir tahun lalu – jumlah terendah sejak pencatatan dimulai pada abad ke-19. Pada tahun 1970an, angkanya mencapai lebih dari dua juta.
“Jepang sudah menghadapi kekurangan tenaga kerja. Pada 2022, hampir separuh perusahaan Jepang mengandalkan pekerja yang berusia di atas 70 tahun,” kata tim WEF dalam laporannya (28/9/2023). Itu artinya mereka tidak pensiun dan menikmati masa bermain dengan cucu-cucu mereka meski sudah berusia 70 tahun.
“Tingkat kelahiran di Jepang juga mencapai rekor terendah pada 2022. Ini merupakan bom waktu bagi sistem jaminan sosial Jepang, yang berjuang memenuhi biaya pensiunan dengan lebih sedikit pekerja yang membayar pajak,” lanjutnya. Yang membayar pajak semakin sedikit tapi yang butuh dana pajak semakin banyak dan semakin panjang usianya. Cilaka…! 😥
Jepang terus menerapkan undang-undang imigrasi yang ketat meskipun ada beberapa pelonggaran, namun beberapa ahli kini mengatakan bahwa peraturan tersebut harus dilonggarkan lebih lanjut untuk membantu mengatasi masyarakat yang menua. Mosok orang berusia 70 tahun disuruh bekerja terus. Lha kapan pensiunnya?
Turunnya angka kelahiran didorong oleh berbagai faktor, termasuk meningkatnya biaya hidup, semakin banyaknya perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi dan memilih bekerja, serta semakin besarnya akses terhadap kontrasepsi, sehingga menyebabkan perempuan memilih untuk memiliki lebih sedikit anak atau bahkan tidak ingin menikah sekalian.
Lalu siapa nantinya yang akan memelihara dan merawat para orang tua yang semakin lemah dan tak berdaya tersebut?
Midori Ide, salah satu wanita di Jepang, masih harus bangun beberapa kali semalam untuk membantu neneknya yang berusia 96 tahun menggunakan toilet. Untuk memastikan dia bisa segera membantu, Midori tidur tepat di samping neneknya. Apa boleh buat…!
Ini bukanlah tugas yang dinikmati oleh banyak orang berusia 29 tahun sepertinya. Namun dia merasa bersalah karena dia hanya bisa melakukannya seminggu sekali. Midori bekerja enam malam lainnya dalam seminggu di panti jompo merawat orang lanjut usia lainnya sementara neneknya tinggal di fasilitas lain agar dapat penghasilan.
“Ini dilema, tapi saya perlu mencari uang karena keluarga saya tidak kaya,” katanya. “Saya juga ingin terus bekerja karena sejak kakek saya meninggal saat saya berusia 15 tahun, saya memutuskan untuk menjadi perawat dan itu adalah panggilan saya.”
Tapi itu harus dibayar mahal. Midori bermimpi bisa pergi jalan-jalan ke luar negeri. Dia rindu menghabiskan waktu bersama teman-temannya. “Aku tidak ingin nenekku mendengar ini, tapi aku hampir berusia 30 tahun dan aku khawatir apakah aku bisa memulai keluargaku sendiri suatu hari nanti,” bisiknya. “Tetapi saya tidak ingin memikirkan kapan nenek saya akan berhenti membangunkan saya. Saya ingin bersamanya saat dia mencapai mimpinya untuk berusia 100 tahun (masih empat tahun lagi),” katanya. Padahal kedua orang tua Midori juga sudah tua dan mungkin perlu dirawat olehnya juga setelah ini.
Bayangkan betapa lelahnya hidup Midori…! 🥺
Midori hanyalah satu dari 177.600 orang di Jepang berusia antara 15 dan 29 tahun yang merawat anggota keluarga. Tidak banyak di antara mereka yang ikhlas dengan keputusan merawat orang tua seperti Midori. Banyak yang ogah-ogahan dan lebih suka jadi anak durhaka.
Selain itu ada juga peningkatan jumlah rumah tangga di mana satu orang lanjut usia merawat orang lain yang membutuhkan perawatan.
Bulan lalu, seorang suami berusia 71 tahun ditangkap karena membunuh istrinya yang menderita demensia. “Saya terlalu lelah menjaganya,” akunya, menurut media lokal. “Aku juga ingin bunuh diri.” 🥺
Berumur panjang, sehat, dan memiliki uang pensiun yang cukup adalah harapan setiap pensiunan. Tapi seberapa panjang usia kita di mana kita tidak akan merepotkan keluarga, lingkungan, atau negara? Lha wong Jepang yang negara maju dan kaya saja kerepotan menghadapi warganya yang semakin lama semakin berumur panjang tersebut. Nah, usia tua itu berkah atau bencana…?! 😎
Bengkulu, 24 Juli 2024
Satria Dharma