Aktris dan komedian veteran, Miriam Margolyes, mengritik keras Israel.
Margolyes mengungkapkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza menghantui pikirannya setiap waktu. “Setiap hari ketika saya bangun, saya memikirkan Gaza,” ujarnya. Ia menyoroti penderitaan warga sipil yang kehilangan tempat tinggal dan terus menjadi sasaran serangan meskipun telah diminta untuk berpindah lokasi.
“Jika Anda datang ke Israel dan Anda melihat, seperti yang saya lakukan pada tahun 2012, terakhir kali saya ke sana, dan Anda melihat bagaimana orang Palestina diperlakukan, bagi saya itu seperti pintu yang terbuka, tirai yang diangkat dan saya baru melihat fakta sebenarnya yang terjadi,” kata Miriam Margolyes dalam diskusi meja bundar Double Down News baru-baru ini bersama tokoh budaya Yahudi Inggris lainnya, Michael Rosen dan Alexei Sayle.
“Jika orang dapat memperlakukan orang lain seperti itu, mereka adalah orang-orang jahat, dan apa yang mereka lakukan dan katakan tidak dapat diterima, mereka tidak dapat dipercaya. Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri dan saya tidak akan pernah melupakannya. Dan saat itulah saya menjadi sangat pro-Palestina.”
Ia menegaskan bahwa komunitas Yahudi memiliki tanggung jawab moral yang besar. “Orang Yahudi harus memegang standar yang lebih tinggi. Saya tidak ingin bangsa saya menjadi jahat. Kita yang pernah menderita, yang pernah berada di ujung kehancuran dan kekejaman, tidak boleh melakukan hal yang sama,” tegas Margolyes. Sebagai seorang keturunan Yahudi, ia merasa terkoyak dan menyatakan rasa malu yang mendalam terhadap kebijakan dan operasi militer Israel. Ia mengecam tindakan Israel di Gaza sebagai “biadab, genosida, dan nasionalis” yang menyebabkan penderitaan luar biasa pada perempuan dan anak-anak. Sebagai seorang Yahudi ia merasa sangat terpukul karena melihat bangsanya sendiri melakukan kekerasan. Ia menyebut tindak tanduk Israel seolah-olah Hitler telah menang, karena telah mengubah sifat welas asih orang Yahudi menjadi penindas.
Ia mendesak semua orang Yahudi di seluruh dunia untuk memohon, berteriak, dan mendesak diakhirinya konflik serta segera memberlakukan gencatan senjata. Ia secara konsisten menyatakan solidaritasnya untuk Palestina (seperti mendukung rekan mainnya di Harry Potter, Emma Watson) dan menolak penyamaan antara mengkritik Israel dan bersikap anti-Semit.
Surabaya, 10 Juni 2026
Satria Dharma