Salah satu jasa besar Habibie sebagai presiden Indonesia yang mungkin tidak pernah disebut-sebut adalah ketika ia mengadakan referendum nasib TimTim. Ia melakukan tindakan yang sangat mengejutkan dunia internasional dan bahkan dalam negeri Indonesia sendiri, yaitu menyetujui diadakannya referendum untuk penentuan nasib warga TimTim.
Setelah dianeksasi dan dipaksa untuk ikut menjadi bagian dari negara Indonesia Habibie memberikan pilihan bagi warga TimTim apakah mereka benar-benar memang ingin merdeka atau mau terus bergabung dengan bangsa Indonesia. Habibie sudah tidak tahan menghadapi kecaman dunia internasional atas aneksasi TimTim yang semakin lama semakin keras.
Habibie memutuskan referendum untuk Timor Timur karena berbagai alasan, termasuk tekanan internasional dan perjuangan rakyat Timor Timur yang semakin kuat. Habibie perlu fokus pada reformasi di Indonesia setelah tumbangnya Orde Baru. Ia juga menilai bahwa biaya menjaga Timor Timur tidak seimbang dengan manfaatnya dan melihat referendum sebagai jalan keluar yang demokratis untuk menghargai hak menentukan nasib sendiri rakyat Timor Timur, seperti yang diatur dalam perjanjian internasional.
Bayangkan…! Tentara Indonesia menyerbu TimTim, mendudukinya, dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi Indonesia (Propinsi ke 27 )selama 24 tahun dan selama itu membiayai kehidupan mereka dan melakukan pembangunan macam-macam di sana tapi perlawanan rakyat Timtim untuk lepas merdeka tidak pernah surut. Warga TimTim yang tergabung dalam Fretilin tidak pernah berhenti untuk memberontak dan melakukan gerilya perlawanan bersenjata terhadap pemerintah Indonesia. Mereka terus menuntut untuk merdeka dan menolak bergabung dengan Indonesia. Disusui dan diberi makan selama 24 tahun tapi tetap tidak mau ikut Indonesia. Dari luar negeri kecaman demi kecaman atas pendudukan ini tidak pernah surut. Indonesia benar-benar dalam situasi maju kena mundur kena. Yang mana pun sikap yang akan diambil akan tetap merugikan Indonesia. Kalau TimTim lepas maka kita akan mendapatkan kerugian yang sangat besar akibat biaya pendudukan TimTim selama 24 tahun tersebut. Tapi kalau tidak diadakan referendum maka Indonesia akan terus dikecam oleh dunia internasional dan dianggap sebagai penjajah. Dan warga TimTim yang pro Fretilin akan terus memberontak dan memprovokasi warga TimTim untuk membangkang pada pemerintah Indonesia.
Jadi tindakan Habibie sangatlah tepat. Adakan referendum. Kalau mau ikut Indonesia maka kami akan menganggapmu sebagai saudara sebagaimana kami mengurusmu selama 24 tahun dengan biaya begitu besar. Dan jangan lagi ada pemberontakan dan perlawanan. Kalau masih ada perlawanan maka tentara Indonesia akan menghabisi kalian dan kalian tidak akan bisa lagi berlindung di ketiak negara-negara lain yang selama ini menuduh Indonesia sebagai penjajah. Ini adalah pilihan kalian sendiri.
Tapi kalau kalian mau lepas dari Indonesia maka kami akan keluar dari wilayahmu dan selanjutnya silakan hidup mandiri. Kami tidak akan lagi membiayaimu sepeser pun. Cukup sudah kalian membuat propinsi-propinsi lain di Indonesia iri dengan banyaknya biaya yang kami gelontorkan buat kalian selama 24 tahun ini. Ini memang akan merugikan kami tapi yang mana pun pilihan kalian akan jauh lebih baik ketimbang membiarkan kalian seperti ‘kerikil dalam sepatu’ yang menghambat kemajuan kami.
Sejarah akhirnya mencatat bahwa warga TimTim memilih merdeka lepas dari Indonesia dan Indonesia harus keluar dari wilayah tersebut. Sebanyak 78,5 persen (344.580) warga Timor Timur memilih untuk merdeka dan menolak otonomi,
Ini tentu menyakitkan banyak pihak tapi ini adalah JALAN KELUAR TERBAIK bagi semua pihak. Dan itu adalah atas jasa Habibie sebagai presiden pada waktu itu yang berhasil membuang ‘kerikil dalam sepatu’ (pebble in the shoe) kita itu. Istilah itu datang dari Ali Alatas mantan Menlu kita yang legendaris itu. Ali Alatas menulis satu buku khusus tentang Timor Timur, The Pebble in the Shoe: The Diplomatic Struggle for East Timor (2006). Ia menyebut persoalan Timor Timur sebagai “kerikil dalam sepatu” perjuangan diplomasi Indonesia.
Pada 30 Agustus 1999 secara resmi Provinsi Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia. Selanjutnya 20 Mei 2002, Timtim diakui secara internasional sebagai negara Timor Leste dengan dukungan penuh dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).
Apakah Indonesia lebih baik tanpa adanya TimTim? Saya rasa demikian. Untuk apa terus menerus membiayai ‘anak pungut’ yang tidak pernah mau mengakui kebaikan dan bahkan durhaka pada orang tua pungutnya? Lebih baik melepas Propinsi ke 27 itu dan membiayai propinsi-propinsi lain yang jelas merupakan bagian dari Indonesia.
Apakah TimTim lebih baik merdeka seperti sekarang ini ketimbang ikut jadi bagian Indonesia? Nah itu sebaiknya ditanyakan pada warga TimTim yang sekarang telah berubah menjadi Timor Leste. Yang jelas menurut laporan resmi Bank Dunia tahun 2020, disebutkan pertumbuhan ekonomi Timor Leste masih lambat dibandingkan negara-negara Asia Tenggara. Negara dengan nama resmi Republica Democratica de Timor Leste ini masih jadi salah satu negara paling miskin di dunia.
Bandara Soetta, 2 Nopember 2025
Satria Dharma