Waktu masih anak-anak saya sholat karena disuruh oleh orang tua, utamanya oleh ayah saya. Saya bahkan dipukul kalau belum bangun, utamanya pada waktu sholat Subuh. Yang dipukul selalu paha sehingga ‘kucingen’. Itu istilah Bahasa Jawa untuk rasa sakit tertentu ketika otot paha dipukul dan bengkak sesaat. Hal itu membuat saya jadi waspada setiap kali ayah saya masuk ke kamar. Saya selalu terbangun lebih dahulu sehingga ayah saya tidak jadi memukul paha saya lagi. No more cats okey, Dad… 🥹
Kami bersaudara setiap Subuh selalu digiring untuk sholat di masjid Alfalah Raya Darmo Surabaya. Kami tinggal di Darmokali sekitar 200 meter dari masjid tersebut. Jadi kami berangkat ke masjid sambil menyeret kaki karena terkantuk-kantuk, utamanya saya karena suka selalu begadang malamnya. Saya jengkel pada ayah saya tentunya pada saat itu. Gak ada keluarga lain yang dipaksa sholat macam kami saat itu. Pokoknya keluarga kami rasanya paling soleh deh… 🥺
Meski selalu dipaksa untuk sholat tapi saya seringkali mangkir dan tidak sholat. Kalau ditanya selalu saya jawab, “Sudah…!”. Waktu sholat kalau bisa saya hindari ya saya hindari. Terlalu banyak kegiatan bermain di luar yang harus saya ikuti saat itu dan sholat selalu menghalangi kesenangan saya bermain. Saya kan masih belum baligh jadi belum wajib sholat. I knew it very well. Tapi sebelum usia 15 tahun saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa jika saya sudah berumur 15 tahun saya tidak akan pernah lagi mangkir atau meninggalkan sholat pada waktunya. Ada semacam kesadaran diri yang muncul dalam hati saya tentang kewajiban sholat bagi yang sudah baligh. Jadi begitu usia saya pas 15 tahun saya sudah tidak pernah lagi meninggalkan sholat saya. Saya sholat dengan tertib dan dengan kesadaran diri sendiri. No need to tell me to do it again. Ayah saya juga tahu dan melihat perubahan diri saya tersebut dan anehnya sejak itu beliau tidak pernah lagi menyuruh-nyuruh atau menanyai saya lagi soal sholat. Kewajiban beliau untuk menyuruh saya sholat sudah lepas.
Jadi sejak usia 15 tahun saya sudah sholat dengan tertib, di mana pun saya berada dan pada situasi apa pun. Ketika saya naik gunung ya saya tetap sholat sambil menggigil kedinginan. Sesibuk apa pun saya selalu sempatkan untuk sholat. Di pesawat, di kereta, di bis, di mana pun ya saya tetap sholat dengan posisi duduk dan tayammum. No sweat… Dan disiplin sholat inilah yang membentuk kedisiplinan saya dalam hal lain. Lha wong sholat 5 kali sehari saja bisa kulakukan dengan disiplin kok mosok hal lain tidak bisa… Cemenlah itu… 😁
Karena sudah melakukan sholat sejak usia 15 tahun dengan tertib maka sholat menjadi salah satu kegiatan utama saya dalam hidup keseharian. Dan sedikit demi sedikit saya mulai mendapatkan kenikmatan dalam sholat. Setelah puluhan tahun melakukannya saya mulai bisa merasakan kenikmatan sholat yang mistis meski hanya sekian detik dalam sholat saya yang berdurasi antara 3 – 4 menit tersebut. Jadi dari 180 – 240 detik sholat saya tersebut ada beberapa detik di mana saya benar benar merasakan kenikmatannya. Hanya beberapa detik (dan sisanya saya mungkin memikirkan hal lain) tapi momen di mana saya merasakan kenikmatan bertemu dengan Tuhan itu, entah ketika mengucapkan ‘Allahu Akbar…” dan mulai sholat, entah ketika rukuk atau sujud, benar-benar nikmat seolah saya tenggelam dalam pelukan Tuhan dan membuat saya benar-benar merasa melayang dan jadi ketagihan. “Tuhanku Di pintu-Mu aku mengetuk Aku tidak bisa berpaling…” demikian kata Chairil Anwar dalam salah satu puisinya. Saya menjadi ketagihan untuk bisa bertemu dan dipeluk oleh Tuhan, Sang Pencipta yang Maha Pengasih dan Penyayang, meski hanya sekejap. Dalam sholat saya merasa bahwa saya masuk ke dalam pelukan Tuhan atau merasa Tuhan mendatangi saya dan memeluk saya meski hanya sekejap. Tuhan seolah berkata pada saya, “Engkau kusayangi dan kulindungi. Tak perlu engkau cemas dan takut atas apa pun di dunia ini. Aku akan melimpahimu dengan berkah, rahmat, kasih dan sayangKu.” Dan saya bisa menangis dalam sholat ketika perasaan disayangi dan dilimpahi dengan berbagai berkah itu saya rasakan. Dada saya rasanya penuh dengan rasa syukur dan bahagia. Kenikmatan dalam sholat ini benar-benar membuat saya ketagihan sehingga saya selalu menunggu-nunggu waktu sholat. Saya selalu ingin merasakan kembali detik-detik saya menghambur dan masuk dalam pelukan Tuhan yang begitu nikmat dan tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan lain apa pun. It’s like heaven already. Saya bahkan bangun jam 02:30 setiap malam untuk sholat tahajud dan menikmati rasa syukur dan bahagia bersama Tuhan. Itu masa-masa saya bisa menikmati kebersamaan dengan Tuhan dengan lebih lama.
Pada saat seperti itulah saya lalu berterima kasih pada ayah saya yang dulunya memaksa dan memukul saya agar sholat di masjid setiap Subuh. Beliaulah yang mengenalkan saya pada Tuhan Sang Pencipta yang Maha Pengasih dan Penyayang sehingga saya bisa merasakan nikmatnya dipeluk olehNya. “Thank you so much, Dad. You’re my hero.” 🙏
Balikpapan, 26 Maret 2025
Satria Dharma