Ternyata ini yang diharapkan oleh OCCRP dengan tuduhannya kepada Jokowi, yaitu KERUNTUHAN YANG KEJAM ATAU REVOLUSI BERDARAH. Jadi jelas-jelas sekali bahwa OCCRP menginginkan agar bangsa kita itu terjadi revolusi berdarah dan pecah seperti Suriah. Sungguh jahat agenda mereka itu. Dan itu terang-terangan disampaikan oleh Pendiri OCCRP sendiri. Tuduhannya sendiri ngawur. Pemerintah kok dituduh menjarah sumber daya alamnya sendiri. Lha gitu kok ada orang yang mengaku intelektual dan akademisi yang katanya cinta pada bangsa dan negaranya malah MENJADI ANTEKNYA OCCRP yang jelas-jelas mau men-Suriah-kan Indonesia. Astagfirullah hal adzim….! 😔
Ada yang mau membela Drew Sullivan ini dengan mengatakan bahwa itu adalah perkiraan potensi konflik bila korupsi tak diwaspadai dan dicegah. Sungguh pembelaan yang gombal amoh…! Lha wong jelas-jelas OCCRP ini memasukkan Jokowi ke dalam daftar finalis fitnah tersebut begitu kok. Nah, mari kita lihat kenyataan yang ada dan cocokkan dengan pernyataan Sullivan ini.
“Pemerintah yang korup ini melanggar hak asasi manusia, memanipulasi pemilu, menjarah sumber daya alam, dan pada akhirnya menciptakan konflik akibat ketidakstabilan yang melekat pada diri mereka. Satu-satunya masa depan mereka adalah keruntuhan yang kejam atau revolusi berdarah,” kata Sullivan.
Nah, apakah Jokowi melanggar HAM? Kapan dan di mana? Apakah Jokowi memanipulasi pemilu? Apakah konflik yang ada ini karena Jokowi? Atau karena ada pembenci Jokowi yang sampai saat ini masih belum mau sadar dan masih terus menebarkan fitnah? Apakah masuk akal kalau pemerintah dianggap menjarah sumber daya alam negaranya sendiri? Kelihatan sekali betapa dia tidak suka pemerintah Indonesia memanfaatkan SDA-nya untuk kemakmuran bangsa Indonesia sendiri. Yang paling menyolok adalah kesimpulannya bahwa masa depan Jokowi adalah keruntuhan yang kejam atau revolusi berdarah. Jelas sekali bahwa Jokowi turun dari jabatannya dengan sangat mulus dan disambut dengan sangat penuh cinta oleh warganya di mana-mana. Bahkan saking cintanya rakyat Indonesia (kecuali pembencinya tentunya) sehingga mereka memilih pasangan calon presiden yang memilih anak Jokowi, Gibran, sebagai pasangannya jadi wapres. Jadi yang runtuh secara kejam hanyalah harapan para pembenci Jokowi dan yang berdarah-darah adalah hati para pembencinya sampai sekarang.
Jadi apa kesimpulan Pendiri OCCRP yang cocok dengan Jokowi? Tidak ada sama sekali. Tapi toh tuduhan tetap dilontarkan dengan tujuan agar rakyat Indonesia terpecah dan nantinya akan berperang satu sama lain seperti yang ia inginkan. Lha wong begini ceto welo-welo kok ya masih juga dibela toh…! Sungguh menyedihkan.
Surabaya, 3 Januari 2025
Satria Dharma