Tulisan saya berjudul “Lulusan Harvard yang Cemen” saya sebarkan di beberapa WAG yang saya ikuti. Pagi ini seorang admin WAG menegur saya. Katanya “ berani menulis opini di media seperti Tempo rasanya tidak main main alasannya apalagi seorang akademikus… karena berisiko dituntut. Saya sarankan pak Satria take out tulisan dan komen ini… Plis… 🙂🙏 buat saya pribadi, pak Jokowi sdh selesai diomongin… 😂 terlepas baik buruknya hehehe..”
Saya keberatan.
Saya jawab. “Sampeyan aja yang hapus.
Saya BERANI mempertanggungjawabkan tulisan ini bahkan di depan penulis artikel tersebut. Lha wong dia berani menyebarkan disinformasi, fitnah, dan kebencian kok saya tidak boleh menentangnya melalui tulisan juga.
Apa sebenarnya yang DITAKUTKAN oleh admin WAG ini?
Saya bertanggungjawab sepenuhnya pada tulisan saya. 🙏”
Lalu ada anggota WAG yang berkomentar, “Menanggapi opini orang lain dengan kecendekiawanan dan kearifan memang bukan perkara mudah.”
Saya jawab, “ Jadi sampeyan anggap itu opini? Itu bukan opini tapi semburan DFK.
Kalau itu dianggap opini kenapa tulisan saya yang membantah tidak dianggap sebagai opini yang sama?
What’s going on? Apakah menurut sampeyan apa yang ditulis Sukidi itu mencerminkan kecendikiawanan dan kearifan?”
Lalu dijawab, “Coba Pak tulis di Tempo.”
Saya jawab, “Tentu saja tidak akan diterbitkan di Tempo. Tapi bukan itu pertanyaan saya. Apakah menurut sampeyan apa yang ditulis Sukidi itu mencerminkan kecendikiawanan dan kearifan? Apakah kalau ditulis di Tempo maka pasti mencerminkan kecendikiawanan dan kearifan? Saya bahkan berharap tulisan saya ini bisa disampaikan ke penulis artikel (kalau ada yang kenal) dan saya bersedia menghadapinya kalau dia tidak terima.”
Teman tadi tidak menanggapi. Katanya, “Kalau saya tanggapi ntar ramai dan berkelanjutan. Males saya Pak.”
Karena tidak ada lagi yang menanggapi maka saya tulis.
“Saya malah heran kalau ada yang keberatan saya bilang penulisnya adalah lulusan Harvard cemen padahal penulisnya itu dengan kejamnya menyamakan mantan Presiden Jokowi dengan Hitler. Kok tidak ada yang keberatan dengan penyamaan yang kejam dan penuh kebencian tersebut? Saya menjelaskan pendapat saya dengan argumentasi dan bukan asal saja.”
Kalau tulisan saya di WAG tersebut dihapus maka saya akan lebih baik keluar dari WAG tersebut. Saya tidak sudi ditekan untuk menghapus pendapat saya karena saya menganggap apa yang saya tulis bukanlah pelanggaran aturan WAG. Saya juga berani mempertanggungjawabkan tulisan saya. Tapi kalau admin menganggap ini sebuah pelanggaran dan menghapus tulisan saya ya artinya WAG itu sudah tidak cocok dengan aspirasi saya. I better leave it.
Jakarta, 22 Oktober 2024
Satria Dharma