Cenk Uygur, pendiri media independen The Young Turks, dan keponakannya, Hasan Piker, salah satu streamer politik terbesar di Twitch, dicekal masuk ke Inggris (UK). Awal Juni 2026. Cenk Uygur dan Hasan Piker dijadwalkan terbang ke London untuk menjadi pembicara utama dalam festival industri kreatif bergengsi, SXSW London. Cenk juga dijadwalkan memberikan pidato di forum debat legendaris Oxford Union. Tiba-tiba Cenk mengetahui dirinya dilarang masuk sesaat sebelum menaiki pesawat di bandara setelah petugas menyatakan dokumen Electronic Travel Authorisation (ETA)— telah dicabut secara sepihak oleh pemerintah.
Kementerian Dalam Negeri Inggris (Home Office) mengonfirmasi pencabutan izin tersebut menggunakan klausul diskresi “Demi Kebaikan Publik” (not conducive to the public good). Ini adalah Tuduhan Retorika Antisemit, yaitu katanya ada kekhawatiran pemerintah bahwa kehadiran mereka dapat memperburuk ketegangan sosial dan memicu antisemitisme. Cenk Uygur dituduh menggunakan kiasan bernada bias saat berdebat di acara Piers Morgan, termasuk klaim bahwa lobi Israel memiliki kontrol terlalu besar atas politik Amerika Serikat.
Cenk Uygur dan Hasan Piker, komentator sayap kiri AS tersebut langsung melayangkan protes keras melalui media sosial dan siaran langsung (live stream) mereka. Cenk Uygur menyebut keputusan ini sebagai tindakan pembungkaman hak berbicara yang tidak masuk akal. Ia menuduh pemerintah Inggris menerapkan standar ganda, di mana masyarakat bebas mengkritik negara mana pun kecuali pemerintah Israel. Jadi hanya Israel yang tidak boleh dikritik oleh pemerintah Inggris. Sangat mencengangkan dan tidak masuk akal. “Di bawah pemerintahan Barat saat ini, kita diizinkan mengkritik pemerintah kita sendiri, kita bebas mengkritik negara Barat mana pun yang kita mau, KECUALI pemerintah Israel. Jika kalian pikir ini normal, berarti ada yang salah dengan otak kalian!” Demikian kata Cenk Uygur.
Hasan Piker menambahkan dalam siaran langsungnya bahwa keputusan ini membuktikan betapa besarnya pengaruh organisasi advokasi dan lobi pro-Israel dalam mendikte kebijakan kebebasan berbicara di negara sekutu seperti Inggris. Inggris benar-benar sudah berada dalam cengkraman kekuasaan lobi Israel dan Inggris sudah menjadi kacungnya Israel.
Dampak dan Kontroversi dari Kebebasan Berbicara
Kasus ini memicu perdebatan politik baru di Inggris. Sejumlah aktivis kebebasan berbicara mengecam langkah pemerintahan Perdana Menteri Keir Starmer yang dinilai melakukan sensor politik berlebihan terhadap figur publik yang memiliki pandangan kritis terhadap kebijakan luar negeri Inggris.
Banyak netizen Inggris menulis komentar pedas di platform X dan Instagram, menyebut pemerintahan Partai Buruh (Labour) di bawah Keir Starmer terlalu tunduk pada pengaruh organisasi lobi pro-Israel. Frasa seperti “UK is Israel’s bitch” dan “UK politics is occupied” menjadi tren di kolom komentar. Aktivis kebebasan berbicara di Inggris (FIRE) menilai keputusan menggunakan instrumen imigrasi (“Demi Kebaikan Publik”) untuk mencekal pembicara sebuah festival kreatif (SXSW London) hanya karena opini politik mereka adalah kemunduran demokrasi yang memalukan. Mereka menyentil bahwa Inggris kini ketakutan menghadapi adu argumen ideologis secara terbuka. Foundation for Individual Rights and Expression (FIRE) menegaskan bahwa menggunakan instrumen imigrasi untuk mencekal pembicara dari sebuah konferensi kreatif (SXSW London) murni karena opini politik mereka adalah preseden yang sangat berbahaya. Aktivis HAM menilai Inggris menerapkan standar ganda: masyarakat bebas mengkritik kebijakan domestik Inggris atau negara lain, tetapi ruang berekspresi mendadak ditutup total ketika kritik tersebut diarahkan kepada sekutu dekatnya, Israel.
MENGAPA INGGRIS BEGITU MATI-MATIAN MEMBELA ISRAEL?
Sikap teguh Inggris dalam membela hampir setiap kebijakan Israel tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari akar sejarah kolonial berusia seabad, aliansi strategis di bawah bayang-bayang Amerika Serikat, serta faktor politik domestik yang sangat kuat.
Faktor utama mengapa London secara konsisten mempertahankan dukungannya terhadap Israel adalah sbb:
1.Warisan Sejarah dan Tanggung Jawab Moral (Deklarasi Balfour).
Inggris adalah aktor utama di balik lahirnya eksistensi geopolitik Israel melalui Deklarasi Balfour pada 2 November 1917. Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, Arthur Balfour, secara resmi menjanjikan dukungan Kerajaan Inggris untuk membangun “tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi” di Palestina. Setelah memegang mandat resmi Liga Bangsa-Bangsa atas wilayah Palestina pasca-Perang Dunia I, Inggris memfasilitasi gelombang imigrasi massal warga Yahudi. Jadi Inggrislah yang mendirikan negara Israel dulu. Di koridor elite politik London, terdapat rasa tanggung jawab historis dan moral yang mendalam untuk terus menjamin keselamatan dan keberlangsungan negara yang ikut mereka bidani tersebut. Jadi boleh dikata Israel adalah ‘anak kandung’ dari Inggris. Inggrislah yang melahirkan Israel dan kini Inggris merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatan ‘anak kandung’nya tersebut betapa pun jahatnya anaknya tersebut kini.
2. Doktrin Hubungan Spesial (Special Relationship) dengan Amerika Serikat
Kebijakan luar negeri Inggris modern dirancang untuk hampir selalu selaras dengan kepentingan geopolitik Washington. Amerika Serikat adalah pelindung finansial, militer, dan diplomatik nomor satu Israel di dunia. Sebagai sekutu terdekat AS di panggung global dan sesama pemegang hak veto di PBB, Inggris memandang bahwa mendukung Israel adalah bagian dari menjaga keutuhan aliansi strategisnya dengan Gedung Putih. Jadi ‘anak’ yang dilahirkan Inggris itu kini telah diangkat menjadi ‘anak kesayangan’ Amerika Serikat yang merupakan partner in crimenya Inggris.
3. Tekanan Politik Domestik dan Polarisasi Isu Anti-Semitisme
Politik internal Inggris memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap isu Yahudi dan anti-Semitisme. Pengaruh Kelompok Lobi Organisasi-organisasi seperti Labour Friends of Israel (LFI) dan Conservative Friends of Israel (CFI) memiliki pengaruh yang luar biasa besar di dalam dua partai penguasa di parlemen Inggris. Parlemen Inggris benar-benar telah dicengkram oleh lobi politik Israel. Partai Buruh (Labour Party) yang saat ini memegang pemerintahan di bawah PM Keir Starmer, dianggap tunduk pada lobi Israel. Mengapa? Karena Pendanaan Politik dan Donasi. Investigasi media independen seperti Declassified UK menunjukkan bahwa sejumlah donor penting yang mendanai kampanye Keir Starmer dan anggota kabinetnya memiliki hubungan erat dengan kelompok lobi. Selain itu, organisasi seperti Labour Friends of Israel (LFI) tercatat membiayai perjalanan dinas luar negeri bagi puluhan anggota parlemen (MPs) Partai Buruh untuk berkunjung ke Israel.
PENOLAKAN TERHADAP PENGARUH ISRAEL
Mayoritas warga Inggris saat ini memiliki pandangan yang sangat kritis, tidak setuju, dan menolak dominasi serta kuatnya pengaruh lobi Israel pada kebijakan pemerintah mereka. Berdasarkan berbagai data jajak pendapat (polling) independen terbaru dari lembaga riset terkemuka seperti YouGov, Ipsos, dan Opinium Research, terjadi kesenjangan atau jurang pemisah yang sangat lebar (significant gulf) antara sentimen masyarakat umum Inggris di akar rumput dengan kebijakan politik luar negeri yang diambil oleh pemerintah mereka di London.
Sentimen negatif warga Inggris terhadap Israel memang semakin menguat. Bahkan mayoritas anak muda di Inggris tidak percaya bahwa Israel harus ada, demikian ungkap sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh UnHerd, yang memberikan bukti lebih lanjut bahwa dukungan terhadap negara apartheid telah mencapai rekor terendah. Menurut survei YouGov baru-baru ini, hanya 16 persen masyarakat Inggris yang menyatakan solidaritasnya dengan Israel. Survei UnHerd mensurvei 1.012 pemilih tentang kebijakan luar negeri. Salah satu temuan yang paling mengejutkan adalah mayoritas generasi muda Inggris tidak percaya bahwa Israel seharusnya ada. Sebanyak 54 persen responden berusia 18-24 tahun berpendapat demikian, sementara hanya 21 persen yang tidak setuju.
Sekedar info, sentimen ketidakpuasan terhadap pengaruh Israel ini sangat masif didorong oleh generasi muda Inggris (usia 18–24 tahun). Jajak pendapat dari lembaga Focaldata dan UnHerd menemukan data mengejutkan di mana mayoritas anak muda Inggris menganggap eksistensi geopolitik Israel saat ini bersifat apartheid dan tidak memiliki legitimasi moral.
Mari kita melihat perkembangan politik Standar Ganda Inggris itu di masa depan dan bagaimana nantinya akan berakhir.
Balikpapan, 3 Juni 2026
Satria Dharma