Selama tiga hari ini (16 – 18 Januari 2026) Ikatan Guru Indonesia (IGI) akan mengadakan Musyawarah Nasional ke 4 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta. Pada Munas ini, ada sekitar 500 perwakilan IGI dari berbagai provinsi dan kota/kabupaten di Indonesia yang akan datang ke Jakarta untuk mengikuti Munas. Waktu IGI awal berdiri namanya Kongres, bukan Munas. Atas pertimbangan pengurus yang ada saat ini namanya diubah. Doesn’t matter. Pada Munas ini para pendiri dan Pembina IGI diundang. Alhamdulillah beberapa dari kami bisa datang, yaitu: Pak Bagiono Djokosumbogo, Pak Indra Djati Sidi, Cak Nanang Ahmad Rizali, Cak Habe Arifin, dan Cak Sururi Azis. Hadir juga pentolan IGI sejak awal seperti Pak Mardjuki dan Bu Rusnani. Sayang sekali bahwa Daeng Ramli (Ketum IGI kedua) dan Mas Ihsan (Sekjen IGI 1) tidak bisa hadir.
Undangan yang hadir pada acara pembukaan tadi malam adalah : Pak Putra Asga (perwakilan Kemendikdasmen), Dr. Fesal Musaad (Direktur GTK Madrasah), DR. H. TB Ace Hasan Sadzili (Gubernur Lemhanas), Anis Matta (Wamenlu), Imelda Usnadibrata (Deputi Chief of Party Kreasi Save the Children).
Saya gembira bisa hadir pada acara IGI ini. IGI kini jauh lebih besar dan maju ketimbang pertama kali saya pimpin dulu. Guru IGI saat ini ada di 39 propinsi. Pasti ada yang tanya kok sampai 39 propinsi? Kan Indonesia hanya ada 38 propinsi. Benar. Guru IGI ada di semua propinsi di Indonesia ditambah 1 ‘propinsi’ yaitu Luar Negeri. Jadi IGI juga punya anggota dari guru Indonesia yang mengajar di LN. Di seluruh Papua juga ada guru IGI meski di Papua Tengah hanya 5 orang.
Para guru IGI adalah guru-guru istimewa. Guru di Indonesia berdasarkan statistic jumlahnya 3,47 juta orang. Guru IGI katanya ada sekitar 200 ribuan di seluruh Indonesia. Pada periode 17-19 Agustus 2025, sebanyak 4.675 guru hebat resmi bergabung menjadi anggota baru IGI. Artinya hanya 0,5% dari jumlah guru Indonesia tapi kiprah mereka bisa ditanyakan kepada Kemendikbud dan Pemda di seluruh Indonesia. Merekalah penggerak utama bagi kemajuan pendidikan di daerah masing-masing. dalam lima tahun terakhir, IGI mengalami peningkatan lebih dari 70 ribu anggota baru. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa IGI telah menjadi rumah bersama bagi guru dari guru, oleh guru, dan untuk guru.
Saya sangat gembira bahwa sekarang semakin banyak guru hebat yang mau bergabung dengan IGI. Dulu untuk menjadi guru IGI itu tidak mudah. Ada banyak tantangan, hambatan, dan perjuangan berat untuk menjadi anggota di banyak daerah. Utamanya dari organisasi PGRI yang tidak ingin anggotanya berpindah ke IGI. Seolah menjadi anggota IGI itu adalah sebuah pengkhianatan pada organisasi mereka. Di banyak propinsi dan kota sampai saat ini masih ada saja tekanan, ancaman, dan intimidasi bagi guru yang mau masuk jadi anggota IGI. Tapi jelas IGI sekarang sudah berkibar sebagai organisasi profesi guru paling terkemuka di Indonesia. Dengar-dengar PGRI itu adalah justru organisasi massa.
Mengapa IGI menjadi sangat popular? Ya karena di IGI kami memang banyak sekali kegiatan peningkatan mutu guru dan pembelajaran. Banyak yang heran bagaimana IGI bisa menyelenggarakan begitu banyak kegiatan di setiap kota dan propinsi padahal tidak ada iuran bulanan bagi anggota. Untuk datang ke Munas ini saja itu perjuangan yang berat karena mereka tidak dibiayai oleh sekolah mereka, tidak dibiayai oleh Disdik, apalagi dibiayai oleh sponsor mana pun. Mereka pakai biaya sendiri. Jadi IGI itu ya benar-benar harus mencari biaya sendiri dan upaya lain jika ingin mengadakan acara dan kegiatan apa pun. Jadi tidak ada protes kok tiap bulan gaji kita dipotong tapi tidak ada kegiatan apa pun seperti di orprof lain.
Para guru IGI adalah guru-guru yang merdeka bukan hanya dalam berpikir tapi juga dalam bertindak. Mereka tidak mau menjadi guru yang hanya disetir kesana kemari oleh pengurus yang justru bukan guru. Mereka semua percaya diri bahwa mereka bisa mengatur diri sendiri tanpa harus ada pejabat dalam struktur pengurus organisasi IGI. Mereka semua bergerak dengan cita-cita dan keinginan untuk membuat perubahan yang berarti dalam pendidikan di Indonesia dan mereka telah membutkikan bahwa mereka mampu bergerak dengan mandiri.
Saya hendak menyampaikan bahwa Anda semua adalah orang-orang berprofesi guru yang hebat. Anda tidak puas dengan apa yang ada dan yang terjadi dan Anda bertekad untuk mengubah dan menjadikannya jauh lebih baik dengan bersatu di IGI. Dengan berada di IGI Anda memiliki modal yang besar untuk melakukan perubahan besar bagi bangsa dan negara.
Mercure, Ancol, Jakarta, 17 Januari 2026
Satria Dharma













