28 September 2025
MENUJU XINJIANG
Setelah makan siang di resto hotel yang mewah (kami selalu diberi tempat VIP) kami lalu meluncur ke stasiun kereta untuk naik kereta menuju Turpan. Turpan sudah masuk wilayah Propinsi Xinjiang. Kami naik kereta cepat karena kalau lewat darat butuh waktu 8 jam sedangkan kalau naik kereta cepat hanya 3 jam 20 menit. Jadi kami ke Turpan tidak naik bis lagi tapi naik KA Cepat atau Bullet Train pada jam 16:58 dan nanti akan mendarat pada pukul 20:20. Stasiunnya terletak di Liuyuan Town sekitar 2 jam perjalanan dari Dunhuang tapi masih berada di Distrik Gansu. Kami tiba di stasiun Liuyuan jam 15:00 dan melewati pemeriksaan paspor dan barang. Meski kata Peter pemeriksaannya ketat karena kami akan memasuki propinsi paling sensitif di China tapi ternyata tidak terlalu ketat. Kami sudah pernah melalui pemeriksaan yang jauh lebih ketat (dan menjengkelkan) di perbatasan Pakistan dan India.
Kami berpisah dengan Peter di stasiun karena dia akan kembali ke kotanya dengan kereta yang lain. Ada perasaan sedih berpisah dengannya. Peter adalah pemandu yang sangat baik dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik pula. Ia selalu berupaya untuk melakukan yang terbaik untuk kami. Semoga suatu saat kami bisa bertemu dengannya lagi.
PERJUANGAN BERAT
Perjuangan berat justru terjadi ketika tiba waktu kami naik kereta. Kami antri berdesakan untuk masuk dan ternyata harus turun lewat tangga. No problem karena ada escalator. Ketika antri lagi untuk naik kami sudah was-was karena kami melihat tangga dan tidak melihat escalator. Wah…piye iki? Lha kami semua bawa minimal dua koper besar dan berat. Mosok diangkat…?!
To our horror ternyata memang tidak ada escalator dan yang ada hanya tangga undak-undakan. Jadi kami harus mengangkat koper-koper jumbo kami ke lantai atas di mana kereta menunggu. Dan ini harus dilakukan masing-masing karena kami semua membawa koper semua. Tak ada porter yang bisa dimintai tolong seperti di stasiun kita. Ini sungguh perjuangan berat utamanya bagi ibu-ibu yang sudah berumur dan bawa koper jumbo. Mana waktunya mepet pula… Saya berhenti beberapa kali di tangga sebelum sampai di atas karena kehabisan napas. Kalau saya saja begitu kecapekan bayangkan bagaimana perjuangan peserta ibu-ibu yang sudah berumur (Eh…, ternyata saya yang paling tua di antara semua peserta. 😁)
Satu informasi yang bikin kami ketar-ketir adalah bahwa waktu untuk turun dari kereta di Turpan nanti hanyalah dua menit. Dua menit…! 😳 Bayangkan semua penumpang berebut untuk turun dengan membawa koper masing-masing dan kami semua, entah berapa penumpang dalam setiap gerbong, harus secepat mungkin keluar dari gerbong dengan membawa semua bawaan kami. Mudah-mudahan tidak berpapasan dengan penumpang yang mau naik dan bawa koper jumbo juga. Bisa chaos suasananya.
Untuk mengantisipasi situasi maka kami sepakat untuk bersiap turun di stasiun 7 menit sebelumnya dengan membawa koper-koper kami. Jadi kami sudah mengantri di depan pintu gerbong kereta sebelum kereta tiba di stasiun Turpan. Begitu kereta berhenti dan pintu dibuka maka kami langsung ‘woosh’ keluar dengan mendorong koper-koper kami. Rasanya tidak sampai satu menit kami sudah keluar semua dari kereta. Orang Indonesia itu kalau kepepet memang langsung keluar jurus-jurus hebatnya. 😁
Ketika turun dari stasiun ternyata masih ada cobaan lain yaitu kami harus turun ke lantai bawah dan ternyata escalatornya rusak. Jadi kami harus turun tangga mengangkat semua bawaan kami sampai lantai bawah. Ini kebalikan dari di stasiun Liuyuan. Kalau di Liuyuan harus kami angkat sambil naik tangga kalau di Turpan kami harus turun sambil angkat koper. Sangarlah pokoknya… 😁
TURPAN
Kota ini Indah dan modern. Leyaknya di sebelah timur Propinsi Xinjiang. Turpan disebut sebagai Kota Terpanas di Tiongkok: Turpan dikenal sebagai “Huo Zhou” (Tanah Api) karena merupakan kota terpanas di Tiongkok, dengan musim panas yang sangat panas. Selain itu Turpan memiliki Danau Aydingkol yang merupakan titik terendah kedua di dunia, di bawah permukaan laut. Turpan memiliki sejarah Jalur Sutra yang panjang. Turpan merupakan pusat perdagangan dan budaya penting di sepanjang Jalur Sutra kuno, tempat Timur dan Barat bertemu serta bertukar barang dan gagasan.
Turpan identik dengan anggur dan minuman anggur, produk unggulan daerah ini. Meskipun panas menyengat dan iklim kering, anggur yang lezat dan segar dibudidayakan di sini berkat sistem irigasi canggih yang dibangun lebih dari 2.000 tahun lalu, yang mengalirkan air dari gletser. Pengunjung mengunjungi Lembah Anggur untuk mencicipi buah anggur yang berair dalam kondisi terbaiknya.
Waktu Subuh di Turpan jam 06:22. Tapi sampai jam 08:00 kota ini masih sepi, senyap dan sama sekali tidak suara Toa apalagi raungan knalpot sepeda motor seperti di kota di Indonesia. Luar biasa tenangnya kota ini. I love it…! 😍
Turpan, 29 September 2025
Satria Dharma





