Beberapa hari ini saya berada di Balikpapan dan sibuk dengan beberapa agenda. Keponakan saya Prita Dona Sapira, anak dari adik saya Indah Sukmawati, menikah dengan kekasihnya Nanda Mahardika Putra di Hotel Grand Senyiur, Balikpapan kemarin. Istri saya menjadi ketua panitia dari pernikahan ini dan sudah sejak beberapa bulan yang lalu sibuk merancang, merencanakan, mengatur segala pernak-pernik dari pernikahan mereka. Jadi istri saya telah sibuk sejak beberapa bulan yang lalu di Balikpapan untuk mengatur segala sesuatunya mulai dari mencari hotel, merancang menu, mencari catering, menentukan dan sekaligus mendiskusikan semua acara bersama wedding organizer, mencari dan membeli souvenir bagi tamu, mencetak undangan, membeli baju seragam bagi pengantin dan keluarga, dan segala hal yang berhubungan dengan pernikahan ini. Pokoknya super sibuk. Sebelum acara akad nikah dan resepsi di hotel sehari sebelumnya sudah ada acara adat ‘Cemme Botting’ atau Siraman, Barzanji atau mengaji dan doa-doa, dan Mappacci atau Midodareni. Acara pernikahan ini kami adakan dalam adat Bugis karena keluarga kami ini sebenarnya berdarah Bugis dan kebetulan adik saya itu Ketua IWSSB (Ikatan Wanita Sulawesi Selatan Bersatu). Pokoknya keluarga besar kami sibuk dengan acara pernikahan ini dan mereka bilang ini Royal Wedding karena begitu meriah dan megahnya acara pernikahan ini. Tamu yang diundang sekitar 1000 orang lebih tapi yang datang ke acara sebanyak 2.700 orang berdasarkan laporan dari Wedding Organizer. Saya tanya sama istri saya kok tahu kalau yang datang sebanyak itu dan dijawab karena memang dihitung pakai alat penghitung dijital oleh Wedding Organizernya. Mereka harus menghitung karena berhubungan dengan makanan yang disediakan dan juga souvenir yang harus dibagikan.
Tamu-tamu keluarga kami berdatangan dari Jakarta, Surabaya, Makassar, Pekalongan, Samarinda, Bontang, Banjarmasin, Jombang, Bali, Lombok, dan entah dari mana lagi. Sangat kebetulan bahwa acara ini diadakan pada saat long weekend liburan panjang. Saya kebetulan didapuk sebagai wakil ayahnya Prita untuk berdiri di atas panggung menemani adik saya untuk menerima para tamu. Karena saya sudah bertugas sejak pagi sekali di acara akad nikah sampai resepsi dengan berganti-ganti kostum maka kaki saya lumayan capek berdiri. Lha tamu resepsi telah berdatangan sejak jam 11 dan belum berhenti sampai jam 15:30. Istri saya segera menghentikan acara terima tamu di panggung karena jam 16:00 acara harus sudah selesai. Para tamu sendiri semakin lama semakin asyik karena band yang jadi penghibur acara sangat pintar mengajak para tamu untuk menyanyi dan menari bersama. Mosok pernikahan kok lagunya ‘Poco-poco’. Ya pada turun semualah para tamunya berjoget. Apalagi Prita dan Nanda diminta turun untuk ikut berjoget bersama mereka. Kalau tidak dihentikan bandnya mungkin mereka mau berjoget sampai maghrib. Terusno…! 😎
Karena para kerabat dan famili dari berbagai kota datang dan kami tempatkan di guest house yang baru saja kami bangun maka kami adakan rencana rekreasi sekalian, yaitu ke Pasar Tumpah Pringgondani di Manggar dan setelah itu mendatangi IKN di Sepaku. Ada 13 mobil yang kami pakai untuk menuju ke IKN beriring-iringan. Karena untuk datang ke IKN itu harus daftar dulu ke pengelola IKN maka jauh-jauh hari sebelumnya kami sudah mendaftar siapa saja yang mau ikut. Ternyata teman-teman saudara kami dari berbagai kota pada ingin ikut melihat IKN. Kapan lagi bisa melihat IKN kalau tidak sekarang. Mumpung ada panitia yang mengatur segalanya. Belum tentu pada kesempatan datang lagi ke Balikpapan bisa berkunjung ke IKN. Lagipula kami mendapat pengawalan dari kepolisian untuk masuknya. Jadi kami tidak perlu turun di rest area dan naik bis masuk ke IKN seperti para pengunjung lainnya. Kami bisa masuk langsung dan parkir di depan istana.
Meski pun pagi itu hujan belum benar-benar berhenti dan masih terus gerimis rintik-rintik tapi para pengunjung tidak ada yang menyerah dan terus berdatangan. IKN ini benar-benar seperti lokasi wisata yang menarik tamu dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Padahal sebenarnya IKN belum benar-benar siap menerima tamu sebanyak itu. Tamu benar-benar melimpah ruah padahal sebenarnya jatah jumlah pengunjung setiap harinya sudah dibatasi dan yang bisa masuk harus sudah terdaftar sebelumnya. Jadi kita tidak bisa datang begitu saja dan masuk ke IKN kalau tidak daftar lebih dahulu.
Kata Yubi, anak saya, dia lebih terkesan dengan Putra Jaya di Malaysia ketimbang IKN. Tentu saja. Dia pernah kuliah di Malaysia dan Kawasan Putra Jaya itu sudah selesai dan telah tertata sangat rapi dan megah sedang IKN ini kan masih sedang dikerjakan. Tukang-tukang masih sibuk bekerja di gedung dan bangunan yang mereka kerjakan, Jadi masih berantakan di sana-sini. Tapi jelas IKN ini akan jadi lokasi yang sangat indah nantinya. Saya sungguh beruntung bisa datang dan melihat ‘warisan’ legacy dari Pak Jokowi ini.
Sepulang dari IKN kami masih ada acara lagi, yaitu acara ulang tahun adik saya Mulia Hayati Deviantie alias Tammy, yang kami adakan di Gedung Cheng Ho. Ini acara surprise untuknya. Dia sama sekali tidak menduga bahwa kami merencanakan acara ultah baginya secara meriah. Ya kan mumpung para keluarga masih ada maka kami kumpulkan saja sekalian di Gedung Cheng Ho, milik kampus Universitas Mulia, untuk merayakan ultah pemilik nama kampus kami itu. 😁
Acara ini tentu sangat berkesan bagi saudara kami tersebut karena pada acara ini kami bersaudara menyampaikan apa kesan kami terhadapnya. Tentu saja kami semua memiliki kesan yang sangat baik pada saudara kami tersebut karena ia memang sangat sabar, dermawan, dan ngemong kepada semua saudara dan keponakan-keponakannya. Jam 22:00 saya sudah tidak tahan lagi dan pulang ke rumah untuk istirahat. Eh, lha kok ternyata saya masih ada tamu datang ke rumah. Ternyata tamu adik saya masih kerabat dengan teman SMA saya yang tinggal di Balikpapan. Jadi datanglah teman saya ke rumah dan kami ngobrol sampai hampir jam 23:00. What a day…! 😁
Saya masih akan berada di Balikpapan sampai awal bulan Februari nanti. Saya sudah ditunggu acara raker di Bali awal bulan nanti. Sementara ini saya mau menikmati keberadaan saya di Balikpapan. 😁
Balikpapan, 27 Januari 2025
Satria Dharma

























