Pada tanggal 29 Januari 2001, ribuan mahasiswa melakukan demonstrasi dengan tujuan menuntut Presiden Indonesia saat itu yakni Gus Dur untuk lengser dari jabatannya. Tuntutan Mahasiswa agar Gus Dur mundur karena diduga terlibat dalam berbagai skandal pada masa itu seperti Buloggate dan Bruneigate.
Apakah gerakan mahasiswa ini murni dari mahasiswa dan beralasan? Sila pikirkan sendiri.
Saat itu Presiden Abdurrahman Wahid digoyang aksi demo oleh sekitar 1.000 mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa se-Indonesia. Mereka menggelar unjuk rasa di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta pusat. Mereka menuntut Presiden Wahid mundur dari jabatannya sebagai presiden. Mereka juga mengajak masyarakat melakukan mogok nasional. Presiden ke-4 Indonesia itu dituduh menyelewengkan dana Yanatera yang berbuntut dibentuknya pansus oleh DPR pada September 2000 untuk menyelidiki kasus ini bersama kasus Bruneigate. Ia dituduh menyelewengkan USD2 juta sumbangan dari Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah untuk rakyat Aceh. Pasalnya, penerimaan sumbangan ini disebut berbagai sumber dilakukan di luar jalur resmi dan tak ada rekam catatan pembagian sumbangannya di Aceh.
Keterlibatan Gus Dur sendiri tak pernah terbukti dalam kedua kasus tersebut. Namun, MPR tetap menggunakan kasus ini sebagai salah satu alasan memakzulkan Gus Dur. Jadi tidak perlu bukti untuk bisa menggulingkan seorang presiden.
Pada akhirnya Presiden RI. Gus Dur dilengserkan dari jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI selaku lembaga tertinggi negara saat itu melalui Sidang Istimewa. MPR menarik mandat yang diberikan kepada Gus Dur dan menetapkan Megawati Soekarnoputri sebagai pengganti presiden. Padahal, dia baru menjabat sebagai presiden selama 21 bulan, terhitung sejak 20 Oktober 1999. Detik-detik pelengseran Gus Dur terasa mencekam. Rakyat yang mendukung presiden keempat RI itu menyemut di Istana Kepresidenan Jakarta, berhadapan dengan militer yang berseliweran di sekitarnya.
Laporan Kompas menyebutkan bahwa ada 300.000 relawan berani mati yang siap berangkat ke Jakarta untuk membela Bapak Pluralisme tersebut. Namun, kala itu Gus Dur menahan massanya. Dia tidak mau ada kerusuhan, apalagi pertumpahan darah sesama anak bangsa. Gus Dur pun meminta Alissa untuk membawa Sinta Nuriyah dan adik-adiknya pulang ke kediaman di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Gus Dur dan putrinya pun berdebat sampai-sampai Alissa menangis karena tak mau pergi. “Keadaan sudah bahaya, biar Bapak sendiri saja yang hadapi di Istana. Karena ingat nasib Bung Karno, saya melawan. Eyel-eyelan. Apa pun yang terjadi, kalau Bapak ditangkap kami akan ikut. He wouldn’t be alone (dia tidak akan sendiri),” kata Alissa dikutip dari laman resmi NU. Mengenang ini saya kok rasanya pingin nangis… 😭
Nuansa haru juga mewarnai momen tersebut tatkala Gus Dur tak kuasa menahan air matanya. Di hari pemakzulan, rakyat pula yang akhirnya mengawal Gus Dur angkat kaki dari Istana Presiden. “Besoknya rakyat menjemput dan mengawal beliau lewat pintu gerbang depan Istana, menuju panggung rakyat di Monas. Kalah politik, tetap bermartabat,” kenang Alissa.
Hingga Gus Dur turun tahta, kasus hukum yang dituduhkan kepadanya tak pernah terbukti. Bahkan, Jaksa Agung dan Kepolisian sendiri sudah menyatakan bahwa Gus Dur tidak terkait dengan kasus yang dituduhkan kepadanya. Pasca peristiwa itu, dalam sejumlah kesempatan Gus Dur menyatakan bahwa yang menimpa dirinya murni persoalan politik kekuasaan yang dimanfaatkan oleh sejumlah orang. Oleh karenanya, upaya pelengseran ini merupakan tindakan inkonstitusional. Mahfud MD juga menyatakan hal yang sama.
Gus Dur mengatakan, dalang dari peristiwa pelengseran tersebut adalah Amien Rais dan Megawati Soekarnoputri. Hal tersebut disampaikan Gus Dur dalam sesi wawancara pada acara talkshow ‘Kick Andy’, seperti dilihat Pikiranrakyat-Bekasi.com pada 23 Juli 2021. “Dua. Amien Rais dan Megawati,” ujar Gus Dur. Menurut Gus Dur, pelengseran dirinya sebagai tersebut sangat kental dengan nilai politis lantaran tidak terbukti secara hukum. “Saya dilengserkan secara politis. Secara hukum belum pernah dibuktikan saya bersalah,” kata Gus Dur. Kendati demikian, Gus Dur mengungkap bahwa dirinya telah memaafkan Amien Rais dan Megawati Soekarnoputri yang berjasa dalam pelengseran tersebut. “Maafkan, lupa sih enggak. Mereka merasa dirinya benar, ya sudah. Besok-besok akan terbukti oleh bangsa ini sendiri, kok,” ujar Gus Dur.
Sebuah buku berjudul ‘Menjerat Gus Dur’ meramaikan publik beberapa waktu yang lalu. Buku ini menyeret sejumlah nama-nama penting yang diduga terlibat dalam skenario pelengseran Presiden ke-4, Abdurrahaman Wahid (Gus Dur), 23 tahun lalu. Buku karya Virdika Rizky Utama yang terbit pengujung 2019, bersandar pada sebuah dokumen yang menurut sang penulis sebagai naskah rahasia. Kalau tertarik sila cari buku tersebut dan baca. Saya hanya ingin mengenang bagaimana mahasiswa telah ikut menggulingkan Gus Dur hanya dengan tuduhan dan fitnah tanpa perlu memberi bukti. Dan mereka juga tidak pernah merasa bersalah, apalagi minta maaf. 🥺
Surabaya, 30 Agustus 2024
Satria Dharma