Kalau kita bukan orang kesehatan atau berhubungan dengan medis maka istilah Epidemi Opioid mungkin terasa asing. Epidemi opioid (dikenal juga sebagai krisis opioid) adalah istilah yang merujuk pada penggunaan obat opioid yang berlebihan, baik yang berasal dari resep dokter maupun dari sumber ilegal. Opioid adalah sebuah kelas obat-obatan yang berasal dari, atau memiliki sifat yang mirip dengan zat-zat alami yang ditemukan di tumbuhan opium. Opioid menghasilkan efek yang mirip saat menggunakan morfin. Epidemi opioid atau epidemi penyalahgunaan opioid merupakan masalah besar dalam kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Epidemi ini berlangsung secara perlahan-lahan di Amerika Serikat sejak akhir tahun 1990-an, kemudian mengalami lonjakan penyalahgunaan yang masif dalam beberapa tahun terakhir yang turut berkontribusi menyebabkan 70.000 kematian akibat overdosis di AS pada tahun 2018 saja. Pada tahun 2019, opioid masing-masing bertanggung jawab atas 15,8 dan 6,4 kematian per 100.000 orang di AS dan Kanada.
Epidemi opioid ini digambarkan sebagai problem yang unik dan hanya terjadi di Amerika Serikat saja, di mana tingkat penggunaan resepnya saja berada di 40 persen lebih tinggi daripada negara maju lainnya, seperti Kanada dan Jerman. Epidemi atau krisis opioid ini kemudian menjadi salah satu krisis penyalahgunaan obat terburuk dalam sejarah Amerika Serikat. Opioid menyebabkan lebih banyak kematian setiap tahun daripada angka yang ditimbulkan oleh kecelakaan mobil atau senjata. Akibatnya, pemerintah mulai menindak apoteker dan dokter yang meresepkan obat penghilang rasa sakit opioid.
Meskipun sulit untuk menentukan penyebab utama krisis ini, para ahli menunjukkan adanya pengaruh dari perusahaan farmasi, peraturan yang tidak memadai, pemberian resep yang berlebihan oleh profesi medis, dan meningkatnya penggunaan heroin ilegal dan opioid sintetik. Penjelasan atas lazimnya penggunaan atau penyalahgunaan obat-obatan golongan ini adalah daya ketagihannya yang sangat tinggi. Akibatnya, 60.000.000 orang berjuang melawan efek kecanduan opioid secara global dan lebih dari 100.000 orang meninggal setiap tahun karena overdosis opioid, banyak dari mereka menderita fentanil, obat analgesik yang 50–100 kali lebih kuat dibandingkan heroin atau morfin.
Kematian akibat opioid mulai meningkat pada tahun-tahun setelah obat penghilang rasa sakit yang diresepkan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996. Obat tersebut dipasarkan ke dokter karena memiliki risiko kecanduan yang rendah. Kematian yang terkait dengan opioid yang diresepkan, termasuk OxyContin, yang tersedia dalam dosis tinggi dan dalam formulasi aslinya mudah dihancurkan untuk menjadikannya lebih kuat, meningkat dengan cepat hingga tahun 2011.
Krisis opioid semakin dalam setelah OxyContin memasuki pasar dan menjadi semakin kompleks. Oxycontin biasa digunakan untuk meredakan rasa nyeri sedang hingga berat serta mengurangi rasa sakit pada perawatan penyakit kanker. Oxycontin mengandung bahan aktif Oxycodone yang termasuk dalam kategori obat analgesik opioid atau obat narkotik. Terlepas dari statusnya sebagai obat resep, OxyContin tetap sangat membuat ketagihan.
Pada awal 2000, laporan luas mengenai penyalahgunaan OxyContin muncul. Laporan ini didapatkan dari program proaktif pengawasan penyalahgunaan bernama Researched Abused, Diversion, and Addiction-Related Surveillance (RADARS) yang disponsori oleh Purdue Pharma L.P. mengumumkan bahwa Oxycontin dan hydrocodone merupakan merek pereda nyeri yang paling sering disalahgunakan.
Anggota keluarga Sackler yang memiliki perusahaan pembuat OxyContin Purdue Pharma telah dianggap sebagai penjahat utama dalam epidemi opioid di AS. Keluarga Sacklerlah pemilik Purdue Pharma, perusahaan farmasi yang mengembangkan dan memasarkan obat penghilang rasa sakit OxyContin, meskipun Arthur Sackler meninggal sebelum obat tersebut dirilis. Tiga dokter bersaudara – Arthur, Mortimer dan Raymond Sackler – membeli perusahaan obat yang dikenal sebagai Purdue Frederick pada tahun 1952. Arthur, yang tertua, adalah pionir pemasaran obat-obatan, termasuk Valium, kepada dokter. Keturunannya menjual saham mereka di perusahaan tersebut setelah kematiannya pada tahun 1987, beberapa tahun sebelum OxyContin memasuki pasar.
Pada 2003, Badan Narkotika Amerika Serikat menemukan bahwa metode agresif Purdue telah “sangat memperburuk penyalahgunaan OxyContin yang meluas”.
Pada 2004, West Virginia Attorney General mengugat Purdue Pharma untuk mengganti biaya “resep berlebihan” untuk dibayarkan ke negara. Negara menggugat Purdue dengan penipuan marketing. Dalam putusannya, hakim pengadilan menulis “bukti yang ada menunjukan bahwa Purdue bisa melakukan pengujian keamanan dan efektivitas dari OxyContin pada 8 jam, dan bisa mengubah label dari obat tersebut tetapi mereka tidak melakukannya”. Kasus tidak pernah sampai ke pengadilan, Purdue setuju untuk berdamai dengan membayar ke negara sebesar $10 juta (sama dengan $14 juta pada 2020) untuk program menghilangkan kecanduan obat, dengan seluruh bukti berada dibawah segel dan bersifat rahasia.
Pada 2012, The New England Journal of Medicine menerbitkan penelitian yang menemukan bahwa “76% orang yang mencari pertolongan atas kecanduan heroin mulai menyalahgunakan narkotika produksi perusahaan farmasi, terutama OxyContin” dan menggarisbawahi keterlibatan antara kegiatan marketing OxyContin dengan epidemi heroin selanjutnya di Amerika Serikat.
Investigasi tahun 2016 oleh Los Angeles Times melaporkan banyak pengguna OxyContin dengan jadwal pelepasan 12 jam tidak cukup mengendalikan rasa nyeri, mengakibatkan gejala putus obat termasuk keinginan yang besar untuk mengkonsumsi obat. Hal ini memberikan petunjuk “mengapa banyak orang yang menjadi kecanduan”. Menggunakan dokumen dan catatan Purdue, mereka menyatakan Purdue menyadari hal ini bahkan sebelum obat-obatan dipasarkan tetapi “bertahan dengan klaim pelepasan sepanjang 12 jam, untuk melindungi pendapatan karena pasar OxyContin yang dominan dan berharga tinggi -mencapai ratusan dolar per botol-bergantung pada 12 jam durasi pelepasan.
Pada Mei 2018, enam negara bagian (Florida, Nevada, Carolina Utara, Dakota Utara, Tenessee, dan Texas) mengajukan tuntutan mengenai praktik penipuan marketing, menambah menjadi 16 tuntutan hukum oleh Amerika Serikat dan Puerto Rico. Sampai dengan Januari 2019, 36 negara bagian menuntut Purdue Pharma. Jaksa Agung Massachusetts Maura Healey dalam tuntutannya meminta delapan anggota keluarga Sackler bertanggung jawab secara pribadi terhadap penipuan ini. Dia menuduh anggota keluarga Sackler “mengatur secara mendetail” kampanye penjualan yang menipu.
Pada Maret 2019, Purdue Pharma mencapai kesepakatan damai sebesar $270 juta dengan Oklahoma, yang menuduh bahwa opioids menyebabkan kematian ratusan orang.
Pada Agustus 2019, Purdue Pharma dan keluarga Sackler bernegosiasi untuk berdamai dengan tuntutan hukum dengan membayar biaya pengganti sebesar $10–S12 miliar. Seluruh keuntungan Purdue akan diserahkan kepada para penggugat dalam kasus ini. Selain hal tersebut, Keluarga Sackler akan berkonstribusi sebesar $3 miliar tunai. Keluarga juga akan menjual Mundipharma dan berkonstribusi sebesar $ 1,5 miliar dari penjualan untuk proses penyelesaian sengketa.
Setelah Purdue mengajukan kebangkrutan pada tahun 2019 saat menghadapi ribuan tuntutan hukum, penyelesaian keluarga Sackler pada tahun 2023 mengharuskan keluarga tersebut membayar $6 miliar untuk memerangi kecanduan opioid sekaligus melindungi mereka dari tanggung jawab perdata pribadi terkait dengan tuntutan hukum tersebut.
Pada Oktober 2020, Purdue setuju untuk berdamai dengan membayar $8 miliar termasuk didalamnya $2 miliar penyitaan kriminal, $3,54 miliar denda kriminal, dan $2,8 miliar uang pengganti kerusakan untuk tuntutan perdata. Purdue menyatakan diri bersalah terhadap tiga tuntutan hukum, dan akan berubah menjadi public benefit company dibawah perserikatan yang mementingkan kesehatan publik Amerika. Keluarga Sackler tidak diizinkan untuk turut serta dalam perusahaan tersebut. Pokoknya mereka benar-benar ingin dimiskinkan…
Tapi itu belum selesai…
Warga Amerika belum puas dengan apa yang telah mereka capai dengan tuntutan mereka. Museum Arthur M. Sackler di Harvard kini digugat dan Universitas Harvard diminta untuk mencopot nama Sackler dari nama museum Harvard. Pada bulan Oktober 2022, proposal untuk menghilangkan nama Museum Arthur M. Sackler dan Gedung Arthur M. Sackler telah diajukan, dan komite penasihat telah merilis tinjauan proposal tersebut ke Universitas. Pada bulan Juli 2024 Universitas Harvard telah memutuskan bahwa mereka tidak akan menghapus nama keluarga Sackler dari dua gedungnya, meskipun ada protes bertahun-tahun dari keluarga korban overdosis opioid dan kelompok anti-opioid.
Keputusan Harvard ini berbeda dengan keputusan beberapa institusi di seluruh dunia termasuk Universitas Tufts di Massachusetts, Museum Seni Metropolitan dan Guggenheim di New York, Museum Louvre di Paris dan Tate Modern serta Tate Britain di London yang semuanya telah menghapus program atau papan nama bernama Sackler dari dua institusi tersebut.
Masyarakat menghajar habis-habisan keluarga dan perusahaan yang dianggap mencari keuntungan dari penderitaan dan kematian banyak orang.
Jakarta, 21 Agustus 2024
Satria Dharma