Karena tahu saya sedang di Bandung seorang teman datang mengunjungi saya di hotel. Waktu ketemu di lobi hotel wajahnya tampak segar dan gembira. Beda dengan setahun lalu waktu kami bertemu. Waktu itu wajahnya kusut dan mendung. Ia menyalami saya dengan genggaman yang kuat.
“Aku udah kerja sekarang,” katanya dengan wajah berseri-seri. Saya ikut senang tentunya. Lha dia Jodi (jomblo ditinggal mati) punya anak tiga dan lama tidak punya pekerjaan tetap sebelumnya. Saya termasuk langganannya. Langganan ditubruki kalau kepepet. Waktu nganggur ya dia posisi kepepet terus. 😁
“Saya bagian sarpras di sebuah perkantoran.” tambahnya.
“Lumayan tah bayaranmu?” tanya istri saya kepo.
“Sekarang sudah naik jadi 3 juta. Tapi dipotong BPJS dll ya masih bawa pulang 2,6.”
“Tapi anakmu kan 3, cukup tah?” tanya istri saya semakin kepo. Meski ngopeni tiga anak tapi tak ada anaknya yang ikut dia. Ada yang masuk pesantren, satu ikut tantenya, dan satu ikut embahnya. Mungkin ini program ‘burden sharing’ dengan keluarga istrinya ketika dia nganggur lama dulu. 😁
“Ya mepet alias pas banget. Tapi Alhamdulillah…!” jawabnya. Tentu saja kalau dibanding waktu dia kerja serabutan penghasilan gak jelas maka punya gaji tetap itu alhamdulillah. 😎
“Soalnya sekarang ini banyak tetanggaku yang dulunya pengusaha jadi bangkrut. Yang kerja juga kena PHK. Akeh sing nganggur.” tambahnya. Ia menarik napas lega.
Pantesan kok dia bersyukur meski gaji THP-nya tidak sampai 3 juta. Lha daripada tetangga-tetangganya yang pada nganggur kan posisinya lebih alhamdulillah. 😁 Saya lalu ingat anak saya yang gajinya jauh lebih besar, ngopeni diri sendiri tapi masih sering sambat. Mungkin perlu saya pertemukan dengan teman saya ini agar ketularan alhamdulillah. 😎
Mendengar kisahnya tentang tetangganya yang pada kena PHK saya jadi kepikiran. Tentunya sangat sulit hidup tanpa pekerjaan dan penghasilan tetap. Apalagi punya anak dan istri. Saya lihat di Bandung ini banyak sekali pengamen dan peminta-minta di setiap lampu lalin. Bahkan saya melihat ada tiga perempuan berjilbab jadi penyanyi jalanan pakai sound system lengkap.
Whaaat…?! 😳 Saya tidak pernah lihat yang seperti ini di kota lain. Life must be tough for them. Di Surabaya dan Balikpapan sudah lama tidak ada pengamen dan pengemis di perempatan jalan. Di Bandung malah tumbuh subur. Apakah kehidupan di Bandung lebih sulit ketimbang di Surabaya dan Balikpapan (atau bahkan dengan kota kecil seperti Madiun)? 🤔
Tapi anehnya hotel-hotel, mal, pusat perbelanjaan, dan toko oleh-oleh di Bandung kok penuh dan ramai sekali. Semua tempat makan juga penuh. Istri saya beli nasi goreng take away di Solaria saja antrinya setengah jam lebih. Perputaran uang tampaknya kencang tapi kok… 😳
Bandung, 7 Juli 2024
Satria Dharma