Tidak semua niat atau perbuatan baik kepada orang lain akan diterima dengan baik pula. Kadang-kadang kita bisa disalahpahami oleh orang tersebut.
Ada orang yang justru tersinggung ketika kita menawarkan bantuan padanya. Kita MENGIRA orang tersebut butuh bantuan dan kita menawarkan bantuan padanya tapi ia mungkin akan MENGANGGAP itu sebagai gangguan atau bahkan penghinaan atas ketidakmampuannya. Jadi persepsi kita tidak sama dengan persepsinya. Dan itu bisa menimbulkan kesalahpahaman.
Ketika saya olahraga jalan kaki dan bertemu atau berpapasan dengan sesama olahragawan pagi, baik yang saya kenal atau pun tidak, saya biasanya (membiasakan diri, tepatnya) untuk menyapanya dengan ucapan ‘Selamat Pagi…!’ dan tersenyum. Pokoknya saya sebarkan, “Selamat pagi” sebanyak mungkin. Sebenarnya ini adalah cara saya untuk memberi selamat kepada diri sendiri di pagi itu. Tapi kan tidak mungkin saya mengucapkan selamat pagi pada diri sendiri sepanjang jalan. Jadi saya menyapa orang-orang yang saya temui, baik saya kenal atau pun tidak. Hampir semua menyapa balik dengan ramah pula. Orang Indonesia gitu loh…! Kan kita ini terkenal sebagai bangsa yang ramah. 😁
Sebenarnya saya ini orang yang introvert dan lebih suka menikmati kesendirian. Menyapa orang yang tidak dikenal sebenarnya “Not Me” Itu perbuatan yang ‘lalar gawe’. Olaopo wong gak kenal kok disopo. 😁 Tapi saya belajar dan sadar bahwa bersikap ramah pada orang yang dikenal mau pun tidak itu JAUH LEBIH BAIK daripada jadi orang yang menjauh dan menarik diri dari lingkungan. Jadi saya belajar untuk bersikap ramah dan menikmati percakapan remeh-temeh. It’s good to be kind and nice to anybody.
Tapi selalu saja ada orang-orang yang tidak menerima sapaan saya tersebut dengan baik. Ada orang yang memang dasarnya pencuriga atau juga pemarah (atau mungkin habis dimarahi istrinya). Mereka ini tidak mudah menerima sapaan dari orang lain, apalagi yang tidak mereka kenal, dan mungkin bahkan menganggap itu sebagai gangguan. Jadi jangan mengharap sapaan balik yang ramah dari orang semacam ini. Kalau ia mendengus saja itu sudah bagus. 😁
Ada juga orang yang memang butuh waktu untuk meyakinkan dirinya bahwa orang tidak dikenal yang menyapanya itu tulus dan tidak punya kepentingan terhadapnya. Saya sering menemui orang seperti ini yang semula hanya mendengus dan acuh tak acuh ketika saya sapa tapi beberapa saat kemudian ia mulai membalas sapaan saya dengan ucapan selamat pagi juga. Pada pertemuan atau papasan berikutnya ia akan mulai tersenyum melihat saya tersenyum dari jarak jauh. Setelah itu ia akan membalas sapaan saya dengan ramah pula. Dalam hal ini saya akan memberi selamat pada diri saya ,”You made it, bro!” sambil salto ke belakang tiga kali. Tentu saja hanya dalam hati. Pingin mrotoli tah balunganmu… 😂
Satu kebiasaan saya kalau olga pagi sekarang adalah memberi uang sarapan atau membelikan sarapan orang-orang yang saya anggap butuh sarapan pagi sepanjang jalur olga pagi saya. Selalu ada orang-orang yang senang hati menerima uang sarapan atau nasi bungkus untuk sarapan mereka. Di sepanjang jalan selalu ada saja orang yang berjualan nasi bungkus dengan harga hanya 10 ribu atau bahkan kurang. Mereka tentu senang kalau jualannya terbeli. Saya beli dua atau tiga bungkus lalu saya bawa sambil olga pagi. Nasi bungkus itu saya berikan pada tukang sampah, pemulung, tukang becak, gelandangan, peminta-minta, atau siapa saja yang saya pikir butuh makan pagi. Selalu saja kita bisa menemui orang demikian di pagi hari. Biasanya mereka selalu senang menerimanya dan berterima kasih atas pemberian itu.
Tapi kadang-kadang saya bisa apes juga…
Suatu ketika saya melihat di depan saya seorang tua berambut putih yang tampak lusuh pakaiannya, rusak sandalnya, berjalan terseret-seret dan membawa dua kantong plastik besar di kedua bahunya. Saya pikir ia seorang gelandangan yang baru bangun dari tidurnya di depan toko karena tokonya akan buka. Saya meraih kantong saya dan mengambil uang 20 ribu. Saya lalu melangkah mensejajarinya dan memberikan uang saya tersebut kepadanya. “Untuk makan pagi.” kata saya.
Tiba-tiba ia berteriak membentak saya, “Opo ae…! Ojok cedek-cedek aku.” dengan wajah marah. Matanya melotot merah dengan sikap mau menyerang. Saya kaget dan melompat. Saya lalu sadar bahwa dia adalah orang gila yang agresif. Dia bisa memukul saya kalau Saya tidak segera menjauh.
Saya segera melangkah dengan cepat menjauh dari orang tersebut.
“Aku gagal kali ini…” Kata saya dalam hati.
Lalu saya sambung sendiri, “tanpa tangis dan duka. Hanya titik air mata. Dan senyum kehancuran…” 🎹. (Panbers mode on) 😁
Citilink SUB-CGK, 4 Juli 2024
Satria Dharma