Pensiun Kaya, Tapi...
Ketika bekerja Joni sangat cemas dengan masa pensiunnya. Ia melihat begitu banyak orang yang menderita ketika sudah pensiun. Banyak orang yang tidak siap untuk pensiun dan akhirnya menderita ketika masa pensiunnya tiba. Jadi ia hidup sangat hemat dan ia menabung setiap sen yang dia bisa untuk masa pensiunnya. Bahkan ketika ia telah pensiun di usia 60 ia masih hidup dengan sangat hemat karena kuatir uangnya akan habis ketika ia masih akan hidup sepuluh atau dua puluh tahun lagi… Kini, di usianya yang ke 70 tahun, dia mempunyai lebih banyak uang daripada apa yang harus dia lakukan, namun hidupnya ternyata tidak seindah yang dia inginkan.
Sepanjang hidupnya, Joni sangat hemat dan dia terus menabung setiap rupiah yang ia terima. Dia bikin bekal makan siang sendiri dan tidak pernah beli makan di warung. Makan-makan di resto ketika baru gajian seperti teman-temannya adalah pantangan baginya. Dia merasa cukup dengan bekal makan yang ia buat sendiri. Murah dan sehat, katanya. Joni juga tidak pernah mau ganti mobil meski ia punya cukup uang untuk beli mobil baru. Dan lebih jauh lagi, Joni jarang mengambil cuti. Saat teman-temannya pergi berlibur, Joni memasukkan setiap uang cutinya ke dalam rekening pensiunnya. Ia ingin menikmatinya nanti ketika ia sudah pensiun.
Kini usianya sudah 70 tahun dan ia punya cukup banyak uang. Lebih banyak daripada tabungan teman-temannya sekantor dulu. Tapi Joni merasa kehilangan sesuatu. Ia merasa kehilangan kehidupan. Ia merasa tidak punya kesenangan dalam hidup. Ia bahkan mungkin tidak mengenal apa itu kesenangan. Ia hanya mengenal ‘frugal living’.
Joni merasa bahwa ia kehilangan waktu bersenang-senang bersama teman-temannya ketika bekerja dulu, bahkan kini setelah dia pensiun. Dia dulu menolak makan-makan di resto atau nongkrong di cafe. Baginya itu cara hidup yang boros. Ia lebih suka menghemat uang ketimbang menikmati kehidupan bersama teman-temannya. Akibatnya ia tidak punya banyak teman. Ia cenderung menjadi seorang penyendiri.
“Sekarang saya sudah pensiun meski punya cukup uang tapi punya sangat sedikit teman. Saya tidak punya momen menyenangkan untuk dikenang bersama teman-teman.” Katanya. “Saya punya banyak waktu dan uang untuk dijalani selama sisa hidup saya, tetapi saya tidak bisa membeli kembali waktu yang berlalu atau peluang yang hilang.”
Joni juga baru sadar bahwa masalah kesehatan dapat membatasi rencana pensiunnya – terutama seiring bertambahnya usia. Dia punya uang untuk bepergian sekarang, tapi kekuatan tubuhnya tidak bisa mengimbanginya.
“Saya berharap saya bisa melakukan banyak traveling ke mana-mana di usia pensiun.” kata Joni. “Tapi ternyata tubuh saya sudah ringkih. Sekarang bahkan bepergian singkat pun membuat saya kecapekan.”
Joni akhirnya sadar dan belajar dari pengalaman pahit bahwa penting untuk menyeimbangkan tabungan untuk masa depan dengan menikmati masa kini. Ia tidak pernah memasukkan anggaran hiburan atau pun liburan dalam rencana hidupnya. Ia lupa untuk bersenang-senang dan menikmati hidup. Hidupnya selama ini sungguh monoton dan tidak punya kenangan yang indah. Ia menyesal karena tidak pernah mau ikut berlibur atau traveling bersama teman-teman kantornya. Ia juga menyesal karena tidak meluangkan waktu untuk memiliki teman untuk menikmati hidup. Ketika ia pensiun semakin sedikit orang atau teman yang dapat ia ajak untuk sekedar ngopi atau menikmati kuliner.
Kita memang memerlukan keamanan finansial, tetapi tidak berarti kita perlu mengorbankan kehidupan yang baik dan memiliki teman untuk menikmatinya. 🙏
Surabaya, 4 Juli 2024
Satria Dharma