Beberapa hari yang lalu saya baru balik dari Rapat Koordinasi dari yayasan kami yang menaungi sekitar dua puluhan lembaga. Rakor ini diikuti oleh sekitar 70-an pimpinan dan stafnya. Rakor ini semacam laporan dan evaluasi program kerja dan rencana kerja setahun ke depannya.
Ada beberapa sekolah yang kami kelola dan sebagian di antara sekolah tersebut ternyata defisit secara keuangan. Tapi ini bukan hal baru. Ada sekolah yang sejak awal kami kelola sampai bertahun tahun kemudian masih juga defisit dan harus kami subsidi. Selain mungkin kesalahan manajemen alasan utamanya jelas karena jumlah siswanya tidak mencapai jumlah minimal agar pendapatan sekolah tidak tekor. Memang ada jumlah minimal siswa yang harus kami terima agar pendapatan sekolah seimbang dengan pengeluarannya. Pada semua lembaga kami jelas mengeluarkan modal yang cukup besar untuk mendirikan dan mengelolanya. Untungnya selalu ada bank yang bersedia membantu kami dengan kreditnya. Ada pengeluaran tetap yang harus dikeluarkan dalam mengelola sekolah tersebut. Dan jika pemasukan dari siswa yang kecil jumlah maka jelas sekolah tersebut harus kami subsidi.
Sejak pemerintah terus membuka sekolah-sekolah negeri baru, meski tidak dibarengi dengan fasilitas yang memadai, sekolah-sekolah swasta memang menghadapi hantaman yang cukup keras. Para orang tua berlomba-lomba untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah negeri yang baru dibuka ini. Para orang tua jelas berharap agar anak-anak mereka bisa bersekolah di sekolah negeri yang gratis. Apalagi mereka beranggapan bahwa sekolah negeri pasti lebih bagus daripada sekolah swasta. Akibatnya sekolah-sekolah swasta menjadi kekeringan siswa. Tidak banyak orang tua yang paham bahwa tidak semua sekolah negeri itu bagus dan dikelola dengan professional. Banyak juga sekolah negeri yang asal-asalan. Ada juga orang tua yang tahu bahwa sekolah swasta tertentu memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada sekolah negeri dan mereka lebih memilih sekolah swasta. Itu sebabnya banyak juga sekolah swasta yang tetap diburu oleh siswa meski mereka harus bayar mahal. Sekolah-sekolah semacam ini tentulah sekolah-sekolah yang memiliki sumber daya manusia dan berbagai fasilitas yang sangat bagus. Sekolah-sekolah swasta semacam ini biasanya memang ditujukan bagi kalangan menengah ke atas karena berbiaya mahal. Sekolah-sekolah swasta yang memiliki keunggulan yang menonjol dan tidak dimiliki oleh sekolah negeri semacam ini tidak terkena ‘tsunami’ dengan banyaknya sekolah-sekolah negeri baru yang dibuka. Ia hanya menghantam sekolah-sekolah untuk kalangan menengah bawah, seperti sekolah-sekolah yang kami dirikan.
Sekolah-sekolah kami memang kami dirikan untuk kalangan menengah ke bawah karena yang kami dirikan adalah sekolah menengah kejuruan. Amat sangat jarang orang tua kalangan menengah ke atas yang mau menyekolahkan anaknya di sekolah kejuruan sebagus apa pun sekolah tersebut. Mereka ingin anak-anak mereka masuk SMA dan setelah itu kuliah di kampus yang bagus pula. Ngapain masuk ke SMK… Sekolah kejuruan memang umumnya bagi anak-anak dari golongan ekonomi bawah. Nah, jika kemudian ada tawaran untuk masuk ke sekolah negeri yang gratis maka berlomba-lombalah mereka masuk ke sekolah tersebut meski kemudian juga banyak yang kecewa karena buruknya penyelenggaraan sekolah-sekolah negeri baru tersebut.
Jadi bagaimana kami menyikapi sekolah-sekolah kami yang defisit itu? Ya dengan berbagai cara yang tidak akan saya ceritakan di sini. Yang jelas kami tidak pernah kehilangan semangat untuk terus bertahan dan menjadi lebih baik. Di rakor itulah kami sampaikan apa yang perlu mereka lakukan untuk menghadapi tahun berikutnya dengan strategi baru yang mereka pikirkan.
Bagi saya pribadi, sebenarnya saya tidak terlalu peduli pada defisitnya. Sepanjang yayasan kami masih bisa mensubsidi ya jalan saja. Biasanya saya tutup mata saja. Toh secara keseluruhan yayasan kami tidak defisit. Masih ada pendapatan dari sana sini yang bisa dipakai untuk menutup kekurangan sekolah yang defisit. Saya selalu bangga bahwa yayasan kami bisa memberikan pendidikan yang tidak bisa diberikan oleh pemerintah daerah di mana kami mendirikan sekolah tersebut. Ini yang selalu saya katakan pada diri saya, “You do good things. Kamu telah mengambil peran yang penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Inilah yang harus selalu kamu lakukan dalam hidupmu. Bantu anak-anak bangsa untuk memperoleh pendidikan yang terbaik yang bisa kamu berikan.”. Dan saya merasa nyaman setelahnya.
Jadi kalau saya selalu bisa tidur nyenyak dan menikmati hidup saya selama ini ya karena saya selalu diliputi oleh perasaan nyaman tersebut. 😁
Surabaya, 1 Februari 2024
Satria Dharma