Salah satu hal yang sangat saya syukuri dalam hidup saya adalah karunia kehidupan bersuami-istri yang sangat mesra dan romantis. Meski telah berkeluarga selama 30 tahun lebih tapi rasa cinta kasih kami kepada masing-masing pasangan bukannya meluntur tetapi semakin mesra dan indah. Kami ini kalau berpisah selama seminggu lebih karena ada pekerjaan masing-masing (istri saya sekarang jadi kontraktor di Balikpapan dan saya juga harus sering bepergian ke mana-mana) maka kami akan saling merindukan seperti remaja atau pasangan pengantin baru yang ditinggalkan pasangannya. Ini memang aneh. Saya sendiri sering bertanya-tanya pada diri saya mengapa saya sekarang begitu bergantung pada istri. Saya saja sering heran mengapa saya yang dulunya dengan hepinya membujang selama 34 tahun sebelum menikah kini seolah tidak bisa hidup kalau ditinggal istri. Di mana ketegaranmu yang dulu, bro…! 😂
Kalau saya ditinggal istri, atau sebaliknya saya yang meninggalkan istri saya, maka rasanya itu seperti ada sesuatu yang tidak benar. Nothing is right. Seolah ada yang salah dalam hidup saya. Makan tak nyenyak dan tidur pun tak lezat. Berdiri salah, duduk salah, tidur pun salah. Senyaman apa pun kamar hotel yang saya tinggali jika bertugas tetap saja rasanya seperti ada yang kosong dan tidak benar. Saya seringkali terbangun pada malam hari just to realize that she’s not by my side. I really miss her. Begitu juga perasaan istri saya. Saya pikir perasaan seperti ini hanya berlaku pada remaja yang baru mengenal cinta atau pasangan muda yang masih asyik dengan bulan madunya. Ternyata orang setua saya masih juga terkena ‘guna-guna istri muda’, jatuh cinta terkiwir-kiwir pada istri yang selalu tampak muda di mata saya. 😍
Surabaya, 21 Juli 2025
Satria Dharma