Saya sudah di Balikpapan lagi. Seperti tahun-tahun sebelumnya keluarga besar kami akan berlebaran di Balikpapan. Ini tahun kedua kami lebaran tanpa orang tua sama sekali. Itu sebabnya ada saudara yang bilang tidak bisa datang ke Balikpapan karena mau mudik ke ortu mertuanya. No problem. Kami masih akan sungkeman, adakan lomba-lomba, bagi-bagi angpao, makan-makan, dan mungkin karaokean as usual. Tapi hari ini saya masih ada tugas yang perlu saya lakukan sebelum fokus ke lebaran yang tinggal beberapa hari ini. Saya harus ngecek ke para pimpinan lembaga kami apakah mereka telah menyelesaikan tugas berat mereka sebelum cuti lebaran, yaitu membayar semua kewajiban gaji, honor, bonus, dan THR.
Seperti perusahaan-perusahaan lain, lembaga-lembaga dan perusahaan di bawah kami juga harus menyediakan THR selain gaji, honor, dan bonus yang biasa diberikan. Ini adalah tugas berat para pimpinan di bulan Ramadhan. Mereka harus menyediakan THR setiap tahun yang harus sudah mereka pikirkan dari mana dananya jauh-jauh hari. Tentu saja bagi perusahaan atau yayasan yang hidup pas-pasan akan kesulitan untuk menyediakan dana untuk THR tersebut. Lha wong kadang untuk gaji dan honor bulanan karyawan saja bisa utang dulu ke kiri dan ke kanan. Dulu pertama kali jadi pimpinan saya juga pernah mengalami karena mewarisi kepemimpinan sebelumnya dengan kas kosong. Tapi ketika saya tinggalkan lembaga kami cukup kaya bahkan bisa membeli tanah luas di samping sekolah untuk perluasan dengan harga yang cukup tinggi. Pemiliknya tahu bahwa saya pasti akan mau membelinya berapa pun harganya karena letaknya sangat strategis persis di sebelah sekolah kami yang sedang berkembang.
Sekarang saya tidak perlu lagi memikirkan itu semua. Kami sudah punya direktur-direktur dan rektor yang bertugas untuk memikirkannya. Tugas saya sekarang hanya menanyakan apakah mereka sudah melaksanakan tugasnya dengan baik atau tidak. Kalau pun seandainya mereka tidak bisa melakukan dengan baik saya toh juga tidak bisa berbuat apa-apa. Saya tidak akan bisa mengutangi atau menalangi kebutuhan mereka yang cukup besar setiap bulannya tersebut. Apalagi kalau ketambahan bonus dan THR. Ini bisa bikin kepala cekot-cekot dan detak jantung lebih kencang.
Kemarin saya iseng tanya ke direktur kami di Bali berapa jumlah karyawan total dari semua perusahaan dan lembaga yang ada di bawah kami termasuk pimpinan, dosen, guru, staf kesekertariatan, CS, Satpam, baik yang tetap dan honorer. Ternyata jumlah mereka lebih dari seribu orang, 1261 orang tepatnya. Dosen kami saja baik yang tetap mau pun yang tidak tetap ada 400-an. Saya sangat kaget. 😳 Ternyata kami sudah berkembang begitu pesat tanpa saya sadari. Sedangkan yang di Balikpapan dan Samarinda totalnya ada 377 orang. Ini juga tidak saya sadari karena memang sudah lama tidak terlibat lagi dalam operasional. Saya mau mikir yang ringan-ringan saja. 😁
Jadi pagi ini saya hubungi para pimpinan in charge, baik yang di Balikpapan, Bali, mau pun Bandung untuk menanyakan apakah mereka sudah memberikan THR kepada para karyawan di bawah mereka masing-masing. Dan ini jawabannya.
Dari Bandung : Apakah para karyawan UTB sudah mendapatkan THR? Sdh Alhamdulillah Pak, Terima Kasih Pak.
Dari Balikpapan : Bagaimana kabar Yayasan hari ini? Apakah semua urusan keuangan dengan semua karyawan sudah bisa diselesaikan? 😁 Waalaikum salam warahmatullahi. Alhamdulillah semua sdh bisa nggoreng kopi, mente, kacang dan tmn2nya. (Bagi yang tidak paham ungkapan ‘riyoyo gak nggoreng kopi’ itu istilah guyonannya Srimulat kalau sedang tidak punya uang pada waktu lebaran)
Dari Bali : Mau tanya Pak. Apakah karyawan kita sudah menerima THR sampai hari ini? No answer yet…
Sampai saya menulis ini belum dijawab. Mungkin masih harus ngecek ke bawah. Tapi saya yakin bahwa mereka juga sudah menyelesaikan kewajibannya. Lha kemarin saya saja sudah terima kiriman THR dari Bali kok. Saya juga sudah bisa ‘nggoreng kopi’. But I still need to make sure. It’s my job. 🙏
Balikpapan, 25 Maret 2025
Satria Dharma