Saya membaca berita soal festival non-halal yang diprotes oleh ormas Solo dan saya merasa geram. Kok ya ada orang yang mengaku beriman tapi kerjaannya justru mengganggu dan mengusik orang lain yang tidak ada urusan dengan dirinya. Mana menggunakan alasan agama pula. Sungguh usil dan jahat. Padahal ngakunya agamanya itu rahmatan lil alamin. Mana buktinya…?! 🥴 Ada yang komentar ‘lihat patung takut, lihat makanan non-halal takut’. Mbok ya kayak banser gitu lho. Bahkan umat lain beribadah dilindungi. Itu baru jadi rahmatan lil alamin. 🙏
Saya cerita lain saja supaya tidak jengkel berketerusan melihat ulah sesama muslim yang suka mengganggu orang lain itu. 😁
Kemarin setelah acara di Bandung kami ditanya mau balik ke kota masing-masing naik apa. Istri saya mau balik ke Balikpapan dan milih naik pesawat dari bandara Kertajati. Saya mau balik ke Surabaya dan milih naik KA dari stasiun Bandung. Kenapa gak naik pesawat saja sekalian dari Kertajati? Karena tidak ada pesawat langsung ke Surabaya dan harus ke Bali dulu baru ke Surabaya. Itu juga nanti ganti pesawat di Bali. Waktunya 6 jam lebih. Sungguh lalar gawe. Itu namanya kombak-kambek. Mana mahal lagi tiketnya.
Kenapa tidak naik dari bandara Husein Sastranegara seperti biasanya dulu? Ternyata sekarang penerbangan BDO-SUB itu tinggal 2 kali seminggu. Memang lebih murah daripada yang dari Kertajati tapi tidak selalu tersedia.
Jadi saya memutuskan untuk naik kereta saja. Sebetulnya kalau saya bilang mau naik pesawat dan silakan panitia mengatur maka pasti akan dicarikan tiket entah lewat Kertajati entah mau lewat Cengkareng (artinya harus ke Jakarta via Whoosh). Memang lebih cepat dan lebih mahal ketimbang naik KA. Tapi saya kasihan sama panitia. Lha wong banyak jadwal KA kok ya milih yang ribet dan mahal. Hati saya yang pengasih melarang saya. 😎
Saya sungguh tidak suka merepotkan siapa pun dalam hidup saya ini. Lha wong selama acara sudah diperlakukan sebagai VIP dengan segala fasilitasnya. Pulangnya diamplopi dan ditambah diberi oleh-oleh mosok sih saya masih harus merepotkan mereka. Saya milih naik KA saja. Berangkat jam 20:00 dan sampai Surabaya pagi jam 07:00. Toh naik KA di zaman sekarang ini sungguh mewah jika dibandingkan dengan zaman saya ‘ngaypang’ dulu.


Ketika saya diminta untuk memilih jadwal KA yang saya inginkan ya saya menunjuk KA Mutiara Selatan yang jam 20:00. Tiket pun dibelikan dan kendaraan Innova beserta sopir pun disediakan seharian untuk kami gunakan. Everything is well settled. 😎 Saya bahkan masih sempat ketemuan teman SMP dan SMA yang jadi dokter di Cirebon tapi pas dolan ke Bandung juga. Meski hanya saknyukan tapi sudah ketemu dan memberi rasa hangat di hati kami masing-masing. 😁
Karena saya ingin dijemput anak saya di stasiun Gubeng maka anak saya Tara tanya jadwal KA saya. Lalu saya kirimlah foto tiket saya. Tara kaget dan bertanya, “Kok Bapak naik kereta ekonomi?” Haaah….! 😳
Ternyata saya salah pilih. Mestinya saya pilih KA yang eksekutif tapi karena tidak terlalu paham maka yang saya pilih malah yang klas ekonomi. Ya apbolbu… Salah peno dewwi…😁
So here I am di kereta Mutiara Selatan di kelas Premium tapi ekonomi. Keretanya memang tidak senyaman yang eksekutif tapi tetap saja nyaman buat saya. Pengalaman ‘ngaypang’ dulu memberikan hikmah buat saya bahwa apa-apa yang tidak seburuk dulu di zaman kehidupan yang sulit adalah kenyamanan. Compare it with your hard time in the past. Tidak ada yang perlu dikeluhkan. Lha wong sudah pernah ngalami jaman numpak sepur uyel-uyelan dan bahkan naik ke atapnya kok. Apa yang kudapatkan hari ini adalah kemewahan. 😁
Sekarang saya sudah sampai Mojokerto dan tak lama lagi saya akan sampai Surabaya. Suasana cerah dan saya sudah menghabiskan pesanan kopi saya. Hati saya penuh dengan rasa syukur. It surely a very good day. 🙏😁
Mutsel BDO-SUB, 8 Juli 2024
Satria Dharma