Saya punya langganan tukang becak di komplek perumahan saya. Bukan langganan naik becak tapi langganan sedekah. Kalau olahraga jalan kaki saya selalu bawa uang di saku. Selain untuk mampir ke pasar dan beli buah-buahan seperti pepaya, semangka, dan nanas, atau gorengan di pengkolan jalan, sebagian juga untuk saya sedekahkan pada orang-orang yang saya anggap mungkin memerlukan sarapan pagi. Tukang becak ini langganan karena dia memang mangkal di tempat yang sama di salah satu lintasan olahraga pagi saya. Kadang saya temui dia dalam keadaan tidur tapi saya tetap menyelipkan uang sarapan pagi di tangannya. Meski demikian tidak tiap hari saya melewatinya karena saya mengambil rute lain sehingga tidak sempat memberinya uang sarapan.
Suatu hari ketika mau kembali dari olahraga pagi uang di saku saya hanya tinggal 20 ribu. Saya sudah beberapa hari tidak memberinya uang sarapan karena lewat rute jalan lain. Jadi saya pikir sudah saatnya saya memberinya. Tapi pagi itu timbul keinginan saya untuk beli gorengan karena sudah lama juga saya tidak beli gorengan. Uang itu pas untuk sejumlah gorengan yang biasa saya beli.
Saya jadi ragu-ragu…
Tapi keinginan makan gorengan pagi itu membulat dan saya putuskan untuk beli gorengan saja dan saya akan melewatkan jatahnya tukang becak. Besok atau lusa sajalah saya memberinya.
Masalahnya adalah rute menuju ke penjual gorengan melewati jalan di mana tukang becak itu biasa mangkal. Kalau dia ada di sana maka saya tidak bisa tidak ya mesti memberinya. Jika ia melihat saya ia tentu berharap jatahnya pagi itu.
Jadi saya menengok dari jauh siapa tahu ia sedang tidak ada di tempat. Ternyata kosong… Ia tidak ada di tempat biasanya ia mangkal. Aman…! Saya akan beli gorengan pagi ini. 😁 Maka saya pun melangkahkan kaki dengan gembira. Pisang, tahu, dan tempe goreng menari-nari di kepala saya.
Tapi begitu saya hampir tiba di tikungan tiba-tiba ia muncul dengan mendorong becaknya. Wajahnya langsung berseri melihat saya muncul di depannya. Ia langsung menyapa saya sambil tersenyum lebar seperti biasanya. Saya kaget dan membalas sapaannya.
Pagi itu saya tidak jadi makan gorengan. Pagi itu ia mendapatkan jatah sarapan paginya seperti yang sudah diatur oleh Tuhan untuknya. 😁
Surabaya, 30 Juni 2024
Satria Dharma