Kami menginap di Hotel Royal Plaza, Yerevan. Kamarnya tidak terlalu besar tapi nyaman dan kesannya bersih karena baru.
Kalau di Jakarta sebelum Subuh jalanan sudah ramai tapi di Yerevan jam 7:30 masih sepi sekali. Jalanan lengang seolah warga Yerevan masih tidur semua. Pantas saja jadwal sarapan pagi di hotel adalah jam 7:30. Kalau di Indonesia sarapan di hotel sudah siap sejak jam 06:00. Pokoknya kalau soal makan orang Indonesia harus gasik. Kalau Anda tidak paham apa itu ‘gasik’ ya apa boleh buat. 😁
YEREVAN
Yerevan adalah ibu kota sekaligus kota terbesar di Armenia, yang juga dikenal sebagai salah satu kota tertua di dunia yang terus dihuni, didirikan pada 782 SM. Terletak di sepanjang Sungai Hrazdan, kota ini berfungsi sebagai pusat administrasi, budaya, dan industri Armenia. Dengan populasi sekitar 1,1 juta jiwa, Yerevan dijuluki sebagai “Kota Merah Muda” karena warna batu tufa yang digunakan dalam banyak bangunannya. Didirikan lebih dari 2.700 tahun yang lalu, kota ini memiliki akar sejarah yang dalam dari zaman Urartu (Erebuni).
Beberapa tempat yang kami kunjungi hari ini adalah sbb:
CASCADE COMPLEX
Kompleks Cascade adalah jantung kota Yerevan. Ini bukan hanya tangga raksasa yang terbuat dari batu kapur putih, tetapi juga museum terbuka yang menghubungkan pusat bawah (distrik Kentron) dengan kota atas. Apa yang bisa dilihat di dalam dan di luar: Pusat Seni Cafesjian: Di setiap tingkat (teras), kita bisa menemukan patung kontemporer unik karya seniman terkenal dunia.
Proyek Kompleks Cascade awalnya termasuk dalam rencana induk tahun 1924 untuk Yerevan Soviet. Arsitek Alexander Tamanyan membayangkan Cascade sebagai cara untuk menghubungkan distrik pusat dan utara Yerevan. Namun, proyek ini baru diwujudkan beberapa dekade kemudian, pada tahun 1970-an, di bawah kepala arsitek Yerevan, Jim Torosyan, dan kemudian, antara tahun 2002 dan 2009, dikembangkan lebih lanjut oleh Gerard Cafesjian, seorang pengusaha dan filantropis Amerika-Armenia. Sampai hari ini proyek ini masih terus dikerjakan.
Sayang sekali waktu kami ke lokasi yang indah ini hujan turun sehingga kurang bisa kami nikmati sepenuhnya.
Lokasi berikutnya yang kami kunjungi adalah :
MOTHER ARMENIA
Monumen Ibu Armenia memiliki makna budaya dan bagian dari sejarah. Kisah Ibu Armenia bermula pada abad ke-20.
Patung Ibu Armenia adalah salah satu patung tertinggi di Yerevan. Tingginya 22 meter (sekitar 72 kaki). Secara keseluruhan, monumen beserta patungnya memiliki tinggi 51 meter (sekitar 167 kaki). Patung dan alasnya terbuat dari bahan yang berbeda. Patung terbuat dari tembaga tempa dan alasnya terbuat dari basal. Patung ini bisa terlihat dari sudut mana pun dan dari gedung tinggi mana pun di Yerevan.
Patung ini dirancang oleh pematung Ara Harutyunyan. Patung Ibu Armenia melambangkan perdamaian melalui kekuatan. Dengan pedang besar di tangannya dan perisai di kakinya, ia mungkin mengingatkan orang pada tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah Armenia seperti Sose Mayrig (Ibu Sose) yang pemberani, yang diberi nama demikian karena kepedulian keibuannya terhadap Pemuda Armenia. Patung ini melambangkan semua perempuan yang tidak takut mengangkat senjata dan membela suami mereka selama bentrokan dengan pasukan Turki dan pasukan gerilya Kurdi. Jangan main-main sama wanita Armenia ya. Tak bacok gulumu… 😁
Ketika saya bilang sama teman di tanah air bahwa saya sedang di Armenia dia berkomentar, “Nonton bal-balan yo?” Wah…! Mungkin artikulasi saya kurang jelas sehingga Armenia terdengar seperti Aremania olehnya. 😁
Tour kami di Yerevan berakhir di sini. Sore ini kami kembali ke Tbilisi, Georgia, dan melintasi imigrasi lagi. Alhamdulillah urusan imigrasi tidak serepot waktu kami masuk sebelumnya.
Jam 16:30 kami sudah meluncur ke Tbilisi dan butuh waktu dua jam sampai di hotel. Kami menginap di hotel yang sama seperti dua malam yang lalu, yaitu Hotel Astoria. Ini hotel paling kuno dari semua hotel yang kami tinggali selama tour ini. Meski pun kamarnya lumayan besar tapi semua perabotnya sudah kuno, karpetnya bulukan, dan water heaternya tidak jalan. Padahal suhu di Georgia sangat dingin. 🥴 Kalau di Indonesia saya pasti akan hubungi petugas hotel untuk minta diperbaiki atau pindah kamar. Tapi di sini saya malas ngomong karena sudah capek dan ingin segera istirahat. Wis ben lah…! 😁
Tbilisi, 15 Mei 2026
Satria Dharma


























