Saya dan istri kalau bepergian dan masuk ke kamar hotel maka pertama-tama yang kami cek adalah apakah hotel kami ini termasuk ‘hotel muslim’ atau ‘hotel kafir’. 😎 Tentu saja tidak ada hotel yang muslim atau pun kafir. Itu hanya istilah kami untuk membedakan antara hotel yang kamarnya ada petunjuk arah kiblatnya dengan yang tidak. Jika kamar kami menyediakan petunjuk atau arah kiblat maka kami sebut sebagai ‘hotel muslim’ dan jika tidak maka kami sebut sebagai ‘hotel kafir’. 😁
Petunjuk arah kiblat itu biasanya diletakkan di plafon kamar (bisa dilihat di foto ini). Tapi kadang juga ditempel di atas meja atau bahkan di dalam laci meja. Jadi kami harus membuka laci meja baru bisa melihat petunjuk tersebut. Kalau di plafon kamar tidak tampak maka kami biasanya berkeliling mencari di tempat lain. Tapi kalau hotelnya ‘kafir’ ya memang tidak akan ada petunjuk. 😁

Mengapa arah kiblat dulu yang kami cari? Ya karena kami memang perlu sholat dulu sebelum mengerjakan hal lain atau kalau mau keluar dari hotel. Jadi petunjuk arah kiblat itu penting bagi kami. Kalau tidak ada maka kami harus membuka aplikasi ‘Qiblah Direction’ di HP kami yang kadang tidak akurat atau merepotkan. Tapi kalau di luar negeri maka mau tidak mau ya kami harus pakai aplikasi tersebut.
Meski penting bagi kami tapi ternyata petunjuk tersebut bisa bikin bingung orang asing. Mereka akan bertanya-tanya apa maksud petunjuk arah tersebut. Something mysterious is hidden in this room… 🥴 Bisa-bisa mereka mengira itu adalah petunjuk harta karun yang ada di kamarnya. 😁
Apakah kalau hotelnya termasuk hotel muslim’ maka kami kalau masuk kamar pakai salam dulu meski tidak ada orang? Tentu saja tidak. Edan po…! Lha kalau ada yang jawab apa gak njomblak kami. 🤣
Bandara Soetta, 14 Januari 26
Satria Dharma.