29 SEPTEMBER 2025
Ketika kami mau naik kereta ke Turpan, Peter tanya apakah saya pernah dengar hal buruk tentang Suku Uyghur dan Propinsi Xinjiang “Jangan percaya…!” katanya sambil tersenyum. Saya memang banyak membaca tentang propaganda Barat tentang kekejaman pemerintah Tiongkok terhadap umat Islam suku Uyghur di Xinjiang. Tapi saya juga membaca banyak bantahan tentang hal tersebut. Biasalah media Barat selalu memberitakan hal-hal buruk tentang pemerintah China meski tidak punya bukti sama sekali.
“Propinsi Xinjiang adalah daerah paling aman di China.” kata Peter. Haah…! Paling aman? Kok bisa …?!
“Ya, di daerah otonomi Xinjiang sangat banyak polisi, lebih banyak daripada di daerah lain. Itulah sebabnya maka Xinjiang sekarang menjadi Propinsi yang paling aman di China, ” sambung Peter.
Saya yakin Peter tidak seperti warga Indonesia yang kadang sinis terhadap pemerintahnya. Jadi tidak mungkin Peter sedang bergurau atau sedang sinis atau bahkan sarkastis soal keamanan di Xinjiang. Ia ingin meyakinkan kami bahwa Xinjiang adalah daerah yang benar-benar aman dan tidak seperti yang dipropagandakan oleh media Barat.
(Ketika malam hari di Urumqi kami jalan-jalan di sekitar hotel Yilite di mana kami menginap. Suasana sangat ramai dengan orang yang lalu lalang dan berbelanja. Tapi ternyata kami tidak melihat satu pun polisi di daerah tersebut. Apakah ini berarti bahwa daerah kami tinggal tersebut sudah tidak memerlukan polisi berkeliaran? 😁 Tapi memang kami hampir tidak menemukan seorang polisi pun selama kami di China, polantas pun tidak. Meski demikian lalu lintas sangat tertib.)
XINJIANG
Xinjiang sendiri merupakan rumah bagi 26 juta orang dengan sekitar 58% warganya merupakan penganut Islam. Etnis terbesar yang menempati Xinjiang adalah Uighur, ditambah Kazakh, Hui, Kyrgyz, dan etnis muslim lainnya. Untuk etnis Uighur sendiri, jumlahnya mencapai 12 juta orang.
Dahulu, masyarakat China biasa menyebut Xinjiang dengan Xiyu, yang berarti wilayah Barat. Namun seiring dengan berjalannya waktu, wilayah ini dikenal dengan sebutan Xinjiang atau Perbatasan Baru. Hal ini terjadi usai Xiyu dianeksasi oleh Dinasti Manchu pada abad ke-18. Provinsi ini berada di wilayah pegunungan yang relatif sepi dan terjal. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai penggembala dan petani. Di bidang kebudayaan, UNESCO mencatatkan muqam atau semi musik Uighur sebagai warisan budaya tak benda sejak tahun 2006.
China memiliki PLTS terbesar di dunia yang dibangun di gurun yang terletak di Urumqi, Xinjiang. Jadi kalau kita naik bis dari Turpan ke Urumqi kita akan melihat ratusan wind turbine untuk PLTS yang berdiri gagah dengan latar belakang gunung-gunung bersalju di belakangnya. Cina tampaknya akan mencapai total 1.200 GW energi angin dan matahari pada tahun 2025 ini. BUMN Cina menyatakan mereka telah berhasil menyambungkan panel surya terbesar dunia di pembangkit listrik di Xinjiang. Ladang pembangkit listrik surya seluas 200 ribu akre di daerah gurun di Urumqi sudah menyala sejak Juni 2024). Fasilitas itu akan menghasilkan 6,09 miliar kilowat per jam (kWh) setiap tahun. Dengan kapasitas sebesar itu cukup menyinari negara Papua Nugini selama satu tahun. Xinjiang akan jelas menjadi penyumbang energi tenaga surya sangat penting bagi Tiongkok.
Saat ini, sekitar sepertiga listrik yang disalurkan di Xinjiang berasal dari sumber energi bersih seperti tenaga angin dan surya. Pembangkit listrik ini menyalurkan lebih dari 270 miliar kilowatt-jam listrik hijau ke wilayah lain. Selain itu, semakin banyak perusahaan yang mengembangkan energi bersih di Xinjiang, mendorong pembangunan hijau di kawasan tersebut. Kategori industri manufaktur peralatan energi baru di Xinjiang, seperti wafer silikon, modul fotovoltaik, turbin angin, dan bilah turbin, terus diperkaya, dan rantai industrinya pun berkembang pesat.
Gurun pasir dan lahan tandus Xinjiang yang luas, yang dulu dianggap sebagai hambatan ekonomi, telah berubah menjadi tambang emas energi terbarukan.
Urumqi sendiri adalah kota modern yang tampaknya jauh lebih makmur ketimbang ibukota propinsi mana pun di Indonesia. Jadi tidak usah membandingkan China dengan Indonesia. Kita sudah ketinggalan sangat jauh. 🙏
FLAMING MOUNTAIN
Kunjungan kami pagi ini adalah ke Flaming Mountain (Gunung Membara).
Flaming Mountain adalah tempat terpanas di pedalaman Tiongkok, sehingga menarik banyak wisatawan setiap tahun. Namun, gunung ini bukan sekadar gunung. Gunung ini merupakan area yang luas dengan gunung merah yang megah dan banyak situs bersejarah. Flaming Mountain adalah objek wisata terkenal di Turpan, bahkan di Xinjiang. Gunung ini terletak di tepi utara Cekungan Turpan dan di bagian utara Jalur Sutra kuno. Penduduk setempat menyebutnya “kiziltag”, yang berarti “Gunung Merah”. Itulah sebabnya disebut Flaming Mountain, sebagian karena warnanya yang merah dan sebagian karena suhunya yang tinggi. Tempat ini merupakan tempat terpanas di pedalaman Tiongkok. Di bulan Juni dan Juli bisa mencapai 45 derci. Tapi saat ini tidak begitu panas, hanya sekitar 23 derci. Tempat ini pernah mencapai 89 derci panasnya tapi juga pernah turun suhunya sampai minus 55 derci. Cuaca ekstrim tersebut sampai dibuatkan tulisannya di tembok dan dijadikan tempat berfoto para pendatang.
Flaming Mountain terkenal karena kisah “Perjalanan ke Barat” (Journey to the West). Masih ingat Pendeta Tom Sam Cong dan Sun Go Kong ? 😁 Jadi kisah mereka dibuatkan muralnya di sepanjang dinding terowongan.
Tempat ini dulunya merupakan lokasi Kerajaan Gaochang kuno. Dan menurut legenda, inilah lokasi Pegunungan Berapi tempat Biksu Tang dan murid-muridnya meminjam kipas daun palem untuk memadamkan api dalam Perjalanan ke Barat. Oleh karena itu, Gunung Membara ini merupakan destinasi populer bagi banyak wisatawan yang mencintai budaya Tiongkok selama perjalanan mereka di Turpan.
GRAPE FARM
Kami balik ke Turpan untuk makan siang. Tapi kami berhenti sebentar untuk berkunjung ke salah satu pertanian anggur milik keluarga warga Uyghur. Kami dijamu dengan tari-tarian tradisional Uyghur dan buah-buahan segar yang manis dan setelah itu ditawari untuk beli kismis anggur kering.
JIAOHE
Tempat berikutnya yang kami datangi adalah Kota Kuno Jiaohe, maksudnya bekas reruntuhannya. Kota Kuno Jiaohe (Yarkhoto) adalah kota bangunan tanah terbesar, tertua, dan terlestarikan dengan baik di dunia. Maksudnya setelah dua ribu tahun lebih masih ada sisa-sisanya yang bisa dilihat. Kota ini juga merupakan warisan perkotaan terlengkap di Tiongkok dengan sejarah lebih dari dua ribu tahun.
Kota kuno Jiaohe tampak sebagai sebuah kota tanpa atap yang dibangun di atas tebing setinggi 30 meter. Uniknya Jiaohe dibangun langsung dari tanah dan batu, tanpa menggunakan genteng atau kayu sebagai penutup (atau mungkin sudah hilang). Hal ini membuatnya tampak seperti menyatu dengan alam. Kota Kuno Jiaohe adalah bekas ibu kota Kerajaan Cheshi. Kota ini bagaikan benteng militer raksasa yang berdiri di atas platform setinggi 30 meter. Kota ini wajib dikunjungi jika berkunjung ke Turpan.
Kota Kuno Jiaohe didirikan dan dibangun oleh orang-orang Cheshi dari abad ke-2 SM hingga abad ke-5 SM, dan mencapai puncaknya pada masa Dinasti Selatan dan Utara (420-589 M) dan Dinasti Tang (618-907 M). Dari abad ke-9 hingga abad ke-14, Kota Jiaohe dilanda perang berturut-turut karena posisi strategisnya yang penting, yang menyebabkan kemundurannya secara bertahap. Selama periode Chahetai di akhir Dinasti Yuan (1271-1368 M), Kota Jiaohe mengalami kerusakan parah dan akhirnya ditinggalkan. Seluruh kota telah digunakan selama hampir 2000 tahun dan telah ditinggalkan selama 700 atau 800 tahun. Sebuah kota yang ditinggalkan selama itu dan masih ada bekas reruntuhannya.
Pada tanggal 22 Juni 2014, pada pertemuan Komite Warisan Dunia UNESCO ke-38 yang diadakan di Doha, Qatar, Kota Kuno Jiaohe, sebagai situs “Jalur Sutra: Jaringan Jalan Koridor Chang’an-Tianshan” yang diajukan bersama sebagai Warisan Dunia oleh Tiongkok, Kazakhstan, dan Kirgistan, berhasil dimasukkan ke dalam daftar warisan dunia.
Dari Jiaohe kami meluncur menuju kota Urumqi (mereka membacanya ‘urumuci’).
Perjalanan dari Turpan ke Urumqi adalah sekitar 3 jam jadi kami mungkin akan sampai di sana jam 6 sore.
NB: Foto dan video terbatas karena kami kesulitan mengirim foto mau pun video di sini.
Urumqi, 30 September 2025
Satria Dharma












