Dua peristiwa politik yang luar biasa baru saja terjadi bersamaan di depan mata kita. Satu peristiwa Bupati Pati Sadewo didemo ribuan warganya dan bahkan terancam dimakzulkan oleh DPRD-nya. Peristiwa kedua adalah ketika Gibran mengunjungi Try Sutrisno untuk mengantarkan undangan peringatan 17 Agustus 2025 di istana.
Sudewo jelas sangat arogan dengan kata-katanya sehingga pepatah ‘mulutmu harimaumu’ akhirnya membuat harimau itu menerkamnya sendiri. Seorang pemimpin yang bersikap arogan memang tidak layak didukung. Semoga konflik di Pati tidak berlarut-larut dan menyebar ke daerah lain. Cukuplah itu sebagai pelajaran bagi para pemimpin lain. 🙏

Sebaliknya dengan Gibran adalah justru dengan kerendahan hatinya ia memenangkan hati orang yang pernah mengusulkan agar ia dimakzulkan. Try Sutrisno mungkin akan merasa malu bahwa ia pernah mengusulkan untuk memakzulkan seorang pemimpin muda yang begitu rendah hati dan penuh adab sopan santun terhadapnya. Tak ada sama sekali ungkapan rasa terluka, kemarahan, kekecewaan, perlawanan balik dari Gibran atas apa yang telah dilakukan oleh Try Sutrisno kepadanya.
Ia diam dan merendahkan dirinya kepada orang yang jauh lebih tua darinya. Ia datangi orang tersebut dan ia sampaikan rasa hormatnya dengan mengundang beliau ke acara kenegaraan. Anda tidak akan bisa menemukan contoh kerendahan hati yang lebih baik dari apa yang ditunjukkan Gibran ini. Ia adalah pemimpin yang sangat luar biasa rendah hati dengan hati yang penuh rasa pemaaf dan kasih kepada sesama.
Saya berharap agar kita belajar dari dua peristiwa ini dan bersedia juga turut menghilangkan arogansi dan kesombongan dalam hati kita serta mulai belajar pada Gibran tentang kerendahan hati dan ketulusan dalam bersikap dan berprilaku.
Surabaya, 14 Agustus 2025
Satria Dharma