Saya olahraga jalan kaki pagi itu kadang lumayan jauh juga. Kadang bisa sampai 2 jam lebih jalan kaki keluar masuk kampung. Sinambi rekreasi. 😁 Keluar masuk kampung dan melihat suasana dan dinamika warga di gang-gang sempit kadang memberikan inspirasi dan insight juga bagi saya.
Kalau saya sudah jalan sekitar satu jam lebih biasanya kaki saya sudah mulai protes minta istirahat. Maklumlah old legs…😎 Untuk itu saya akan mencari warung kopi pinggir jalan untuk beristirahat sambil menikmati secangkir kopi racikan girlan alias pinggir jalan. Saya sengaja tidak cari café yang cozy kecuali kalau saya benar-benar pingin ngadem dan cari suasana yang nyaman. Ngopi di pinggir jalan itu ada asyiknya sendiri karena kita akan duduk ngariung bersama warga kelas bawah dengan segala dinamika dan diskusinya. Kadang saya ikut nimbrung dengan topik yang mereka bicarakan agar saya tidak merasa terkucil dari mereka. 😁
Pagi ini ketika saya sedang menikmati kopi susu racikan ibu pemilik warung tiba-tiba datanglah seseorang sales yang menawarkan salon mini untuk karaokean. Mukanya ditutup masker tapi dari suaranya jelas ia seorang wanita. Dia menawarkan jualannya tapi tak seorang pun tertarik bahkan untuk bertanya sekali pun. Saya lalu iseng bertanya apakah ia sudah ngopi pagi ini dan dijawab belum. Ia lalu saya tawari untuk ngopi sekalian sarapan di warung tersebut dan ia dengan segera mengiakan. Seems like she hasn’t got any breakfast this morning. 😎
Ketika membayar kopi dan gorengan yang saya santap saya sampaikan pada pemilik warung untuk sekalian menghitung harga sarapan dan kopi susu yang diminta mbak sales tersebut. Ternyata lima puluh ribu masih ada kembaliannya. So cheap… 😁
Sebelum meninggalkan warung tersebut ada terlintas di hati saya untuk memberi uang sales tersebut untuk bekal makan siangnya nanti. Tapi hati kecil saya yang lain menolak dan merasa sarapan untuknya itu sudah cukup. 😎
Saya meneruskan jalan kaki pagi saya dan ketika saya masuk gang tiba-tiba saya merasa menyesal. Saya menyesal mengapa saya tidak mengikuti suara hati saya yang pertama untuk memberi uang saku pada mbak sales tersebut. Saya punya cukup uang di kantong saya dan sebenarnya memang selalu saya siapkan untuk bersedekah. Sepanjang perjalanan olga pagi saya memang selalu berbagi nasi bungkus pada para pengemis, pemulung, tukang sapu jalanan, tukang sampah, dll. Saya selalu suka berbagi seperti ini dan saya pikir justru itulah yang membuat kaki saya kuat terus melangkah meski bisa lebih dari 2 jam setiap hari. Berbagi membuat saya kuat dan gembira. 🙏
Sepanjang jalan sampai saya balik ke rumah saya masih saja merasa menyesal. Tapi ini bukan yang pertama kali. Sangat sering saya merasa menyesal seperti itu. Berkali-kali saya merasa bahwa semestinya saya memberi lebih banyak dan lebih sering tapi ada suara lain yang mencegah saya untuk melakukannya. Itu suara hati saya yang PELIT. Tapi ini bukan yang pertama kali. Suara hati saya yang pelit ini memang hampir selalu datang mempengaruhi saya untuk tidak memberi lebih sering dan lebih banyak. Dan ia sering membuat saya menyesal seperti saat ini.
Surabaya, 14 Juli 2025
Satria Dharma