Hanya orang bodoh dan punya niat buruk untuk memprovokasi masyarakat saja yang menyatakan bahwa kita semakin miskin setelah merdeka 79 tahun. Atau mungkin dia yang tidak kunjung membaik perekonomiannya dan menuding bahwa bangsa kita semakin miskin. Dia yang MERASA miskin tapi dia mau ngajak-ngajak orang lain merasa sama miskinnya dengannya. Sungguh konyol orang seperti itu. 😁
Berdasarkan sumber dan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik RI pada 7 Januari 2024 kemarin, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di urutan 40 negara di dunia dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di tahun 2023. Ekonomi dunia menempatkan negara kita di urutan 40 dengan pertumbuhan ekonomi terbaik dari 195 negara yang ada di dunia. Not bad at all. 👍😎
Kita tetap mampu mencetak pertumbuhan ekonomi yang konsisten dari tahun ke tahun. Berdasarkan penilaian IMD World Competitiveness Yearbook (WCY), peringkat daya saing Indonesia juga naik 11 peringkat dari peringkat 43 menjadi peringkat 32 pada tahun 2019, serta menjadi negara dengan peningkatan tertinggi di Asia Pasifik.
Baca buku “Factfulness”nya Hans Rosling. Menurut data ekonomi mana pun TIDAK ADA kelompok orang, bangsa, atau negara miskin yang semakin miskin. Tidak ada kelompok orang, kelompok bangsa, atau negara yang semakin bodoh. Yang ada adalah negara yang kaya semakin kaya dan masyarakatnya semakin pintar dan yang miskin semakin membaik meski pun ada negara yang hanya beringsut sangat pelan dan seolah tidak bergerak dari kemiskinannya. Yang terjadi adalah SEMAKIN JAUHNYA perbedaan kemajuan ekonomi dan iptek antara negara maju dengan negara terkebelakang. Tetangga kita mungkin beli Fortuner baru dan villa sedangkan kita hanya bisa kredit Brio dengan uang muka minimal. Tapi bukan berarti kita semakin miskin. Kita hanya kalah kaya dengan tetangga kita. 🤭
Hal yang salah kaprah lainnya adalah pernyataan bahwa ada JURANG KEMISKINAN antara orang kaya dengan orang miskin. Itu salah kaprah yang terus menerus kita pikir benar dan juga kita pakai sebagai dasar kita dalam berpikir. Yang ada justru BUKIT atau PIRAMIDA. Jadi antara orang-orang yang PALING KAYA dengan orang yang PALING MISKIN mereka dibatasi oleh sebuah bukit yang tinggi dan terjal di mana orang-orang yang ‘agak miskin’, ‘kalangan menengah’, dan orang-orang ‘kaya’ berada. Jadi kalau dibikin kurva maka kurvanya adalah kurva lonceng dan bukan kurva lonceng terbalik. Kurva pendapatan masyarakat itu sebenarnya TIDAK PERNAH berbentuk kurva lonceng terbalik. Dalam kurva lonceng terbalik antara titik ekstrim kiri dan ekstrim kanan akan dipisahkan oleh sebuah cekungan sehingga jika mau diibaratkan maka antara orang-orang yang paling miskin dan yang paling kaya terpisahkan oleh sebuah jurang. Tapi kurva semacam ini TIDAK PERNAH ada. Yang ada selalu berbentuk kurva lonceng di mana puncak kurvanya semakin lama semakin tinggi dan kurva ini dengan dinamis selalu bergerak ke kanan.
Apa artinya?
Artinya semua orang semakin lama semakin kaya dan yang dulunya SANGAT MISKIN akhirnya bergerak juga ke kanan menjadi tidak terlalu miskin, meskipun masih tetap miskin. Tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang bergerak ke kiri alias menjadi semakin miskin. TIDAK ADA…! Yang ada adalah pertumbuhan ekonomi mereka lebih lambat di bandingkan kelompok masyarakat lain yang merambat naik menjadi kelompok menengah yang berada di puncak kurva. Apalagi kalau dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi mereka yang berada di kurva paling kanan yang dengan cepatnya melaju pertumbuhan ekonominya. Ibaratnya pertumbuhan ekonomi ada negara yang bisa mencapai 6% tapi ada negara yang hanya 0,5%. Bedanya 12 kali lipat. Posisi ekonomi bangsa Indonesia saat ini dibandingkan dengan dengan perekonomian dunia adalah berada di Tingkat 3 dari empat tingkatan perekonomian dengan penghasilan $16 perhari. Arti sederhananya adalah kita juga semakin kaya dan semakin meninggalkan negara-negara miskin lain tapi juga sekaligus semakin ketinggalan dengan negara-negara kaya lain. Kita semakin kaya tapi kalah kaya dengan Tiongkok, apalagi dengan Singapura, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Apakah dengan demikian maka tidak ada ‘gap’ atau perbedaan antara orang kaya dan orang miskin…?! Jelas sekali bahwa posisi antara orang kaya dan orang miskin itu terpisah karena orang miskin berada di kurva paling kiri sedangkan orang kaya berada di kurva sebelah kanan. Tapi TIDAK ADA GAP di antara mereka karena di antara orang miskin dan orang kaya berdiri menjulang kelompok orang-orang berpenghasilan menengah yang membentuk kurva lonceng atau piramida yang semakin lama semakin tinggi puncaknya. Dan kita ada di tengah. Kalau perekonomian negara di seluruh dunia di bagi empat maka kita kini sudah masuk ke level 3.
Masih belum paham…?!
Bagaimana kalau kita cari perumpamaan lain? Mari kita bikin perbandingan antara orang jelek dan orang yang cantik dan ganteng. Apakah menurut Anda saat ini orang-orang semakin jelek dibandingkan dengan zaman kakek atau orang tua kita? Tentu saja TIDAK toh…. Hanya orang yang sakit mata atau tidak pernah keluar dari hutan yang mungkin bilang begitu.
Coba perhatikan bahwa orang-orang sekarang ini semakin lama semakin ganteng dan cantik. Setiap anak yang dilahirkan saat ini hampir selalu lebih keren, lebih rupawan, lebih cling ketimbang orang tuanya. Ahmad Dhani dulu di zamannya sudah termasuk ganteng banget tapi kalau dibandingkan dengan anak-anaknya, Al, El, dan Doel, saat ini maka Ahmad Dhani sudah ‘tekipai’. Anak-anak kita saat ini jelas lebih ganteng dan cantik ketimbang kita. Ada ‘perbaikan keturunan’ istilahnya. Kalau dulu waktu kita sekolah di SMP dan SMA hanya ada beberapa gelintir anak yang cantik sekarang jauh lebih banyak yang cantik dan kecantikannya juga jauh lebih cetar ketimbang anak-anak dulu. Semakin hari semakin banyak saja orang yang gagah, cantik, dan keren. Ustad Das’ad bilang bahwa itu barang bagus. 😁
Jadi kalau ada orang yang bilang bahwa Indonesia semakin miskin setelah merdeka 79 tahun tolong dijauhi saja. Dia mungkin mau memprovokasi Anda untuk ikut demo agar dapat nasi bungkus. 😂
Balikpapan, 22 Agustus 2024
Satria Dharma