Sugar Ray Robinson, salah satu petinju terhebat, dijadwalkan melawan Jimmy Doyle yang berusia 22 tahun pada 24 Juni 1947 di Cleveland. Robinson adalah juara dunia kelas welter saat itu dan berada di puncak kekuatan dan karirnya.
Doyle sendiri telah meraih lima kemenangan berturut-turut untuk menjadikannya penantang yang layak untuk gelar tersebut. Dengan 43 kemenangan atas namanya ia membangun rekor yang mengesankan di kelas welter. Namun sebelum pertarungan Robinson mengalami mimpi buruk…
Sugar Ray Robinson bermimpi, Jimmy Doyle berada di ring bersamanya, setelah beberapa pukulannya mengenai Doyle akhirnya Doyle jatuh telentang. Mata kosongnya menatap Robinson yang berdiri di sampingnya menatap Doyle yang terjatuh. Wasit mulai menghitung sampai sepuluh tetapi orang-orang di kerumunan mulai meneriakkan, ‘dia mati, dia mati’. Robinson lalu terbangun dari mimpi buruknya.
“Saya terbangun dengan keringat dingin, berteriak agar Jimmy bangun – bangun – bangun! Teriakanku membuatku terbangun. Dan pemandangan Jimmy yang tergeletak di atas kanvas dalam mimpi itu tampak begitu nyata sehingga saya merasa ketakutan ketika bangun. Dan saya tidak bisa kembali tidur. Saya hanya berbaring di sana, berguling-guling di tempat tidur.. Dan saya merasa gelisah keesokan harinya. Dan di lubuk hati saya, saya merasa takut setiap kali memikirkan pertarungan melawan Doyle ini.”
Mimpi itu sangat mengganggu Robinson sehingga dia menceritakannya kepada manajernya George Gainsford. Gainsford menepis mimpinya, ‘Lupakan Robinson, itu hanya mimpi. Jangan pikirkan itu. Tidak akan terjadi apa-apa.’
Tapi Robinson tidak bisa melupakan mimpinya. Ketika Robinson menghadiri penimbangan badan ia mengatakan kepada promotornya Larry Atkins bahwa dia tidak ingin melawan Doyle karena dia tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Tidak mengherankan Atkins sebagai promotor, tidak menerima alasannya itu. ‘Jangan konyol, mimpimu tidak akan menjadi kenyataan, jika itu terjadi, saya akan menjadi jutawan.’
Robinson bahkan mengancam akan memberitahu komisi tinju untuk menunda pertarungannya. Namun karena ia telah menunda pertarungan sebanyak dua kali sebelumnya, peluang penundaan yang ketiga tidak akan baik bagi karirnya. Akhirnya seorang pendeta dipanggil untuk membujuk Robinson agar melanjutkan pertarungan. Pendeta tersebut berhasil menenangkan perasaan Robinson dan ia bersedia bertarung melawan Doyle.
Saat pertarungan dimulai, Doyle maju memberikan tekanan kepada Robinson tetapi sang juara selalu unggul di setiap ronde. Doyle mendapatkan momennya di ronde tengah tetapi Robinson kembali unggul di ronde delapan ketika dia mendaratkan dua pukulan tangan kanan, yang pertama ke perut Doyle dan yang kedua ke kepalanya. Doyle terus menekan tetapi pukulan Robinson memperlambatnya. Saat dia mengatur dirinya untuk melayangkan tangan kanannya, Robinson memukulnya dengan hook kiri yang mengenai rahang Doyle. Pukulan itu membuat Doyle terjatuh ke tanah, kepalanya tersentak ke belakang saat membentur kanvas.
Robinson berdiri di dekatnya, seperti yang dia lakukan dalam mimpinya. Wasit belum menyadari betapa seriusnya cedera Doyle. Doyle bergerak pada hitungan keempat dan seolah mau meraih tali sebelum merosot ke belakang. Bel berbunyi pada hitungan ke sembilan dan wasit meminta petugas sudutnya untuk menjemput Doyle. Namun penjaga sudut Doyle pertama yang mendatanginya segera mengetahui bahwa pertarungan telah usai dan ia berteriak agar dokter memeriksa Doyle.
Dokter lebih lanjut menegaskan ketakutan terburuk Robinson ketika ia minta tandu dan ambulans. Kerumunan terdiam menunggu, berharap Doyle menunjukkan tanda kesadaran tetapi tanda tersebut tidak pernah muncul. Doyle segera dibawa ke rumah sakit St.Vincent Charity untuk dioperasi dengan adanya dugaan bekuan darah di otak.
17 jam kemudian Doyle belum bangun juga dari komanya dan akhirnya dinyatakan kehilangan nyawanya. Mimpi buruk Sugar Ray Robinson terbukti. Tuduhan pembunuhan diajukan terhadap Robinson tetapi akhirnya dibatalkan karena orang-orang yang terlibat dalam upaya penyelidikan akhirnya memahami betapa malangnya peristiwa yang terjadi pada malam yang menentukan itu.
Setelah pertarungan, Robinson mengetahui bahwa Doyle berencana menggunakan penghasilan tinju melawannya untuk membeli rumah bagi ibunya. Doyle bersikeras untuk melawan Robinson karena ia punya rencana membelikan rumah bagi ibunya dengan uang hasil kemenangannya tersebut. Robinson merasa begitu bersalah dan ia tergerak untuk mewujudkan harapan Doyle untuk membelikan rumah bagi ibunya. Robinson memberikan uang yang diperolehnya dalam empat pertarungan berikutnya kepada ibu Doyle agar dia dapat membeli rumah seperti yang diharapkan oleh Doyle.
Kemarin di atas ring sebenarnya cukup sering terjadi. Jumlah total petinju yang tewas di atas ring atau karena cedera diperkirakan lebih dari 2.000 orang. Menurut penelitian Manuel Velazquez yang meneliti petinju yang tewas di ring antara tahun 1720-2011, terdapat 1.865 kematian. Lebih dari satu dekade kemudian, jumlah ini kini telah melampaui 2.000. Tapi petinju yang mati di atas ring dan telah diramalkan berdasarkan mimpi lawannya tampaknya cuma terjadi pada Sugar Ray Robinson.
Surabaya, 20 Juli 2024
Satria Dharma
Source: Sugar Ray Robinson And His Disturbing Death Dream: The Sad Case Of Jimmy Doyle – Latest Boxing News