Frank Sinatra, penyanyi tersohor dengan lagu legendarisnya “My Way” adalah orang yang sangat benci dengan rasisme. Dan ia akan melawan perlakuan rasis terhadap warga kulit hitam yang ia temui. Hebatnya adalah bahwa itu ia lakukan ketika hukum di Amerika saat itu memang masih menganggap warga kulit berwarna sebagai warga kelas dua dan diperlakukan dengan sangat diskriminatif. Di AS saat itu masyarakat dan hukumnya boleh saja rasialis tapi seorang Frank Sinatra yang begitu terkenal melawan sikap dan prilaku rasis tersebut dengan gigih. Persahabatannya dengan Sammy Davis Jr, yang berkulit hitam, benar-benar membuat orang kagum. Ketika ia ditanya mengapa ia membela Sammy Davis Jr. begitu habis-habisan ia menjawab dengan tiga katanya yang sangat terkenal, “He is my brother.”. Baginya Sammy yang berkulit hitam adalah saudara yang harus ia bela habis-habisan. Anda bisa membaca kisahnya di sini.
Penyanyi kulit hitam yang dibela oleh Frank Sinatra ternyata bukan hanya Sammy Davis Jr. Salah seorang penyanyi kulit hitam lain yang ia bela dengan gigih adalah Nat King Cole. Nat King Cole adalah pelantun lagu paling top waktu itu. Ia bukan hanya penyanyi tapi sekaligus seorang pianis dan aktor.
Nat King Cole pada saat itu adalah penyanyi yang sangat populer, menghasilkan $4.500 seminggu di Las Vegas pada tahun 1956. Dia menjadi bintang utama di Thunderbird Hotel yang sebenarnya adalah hotel khusus bagi warga berkulit putih. Jadi meski pun ia penyanyi utama di hotel tersebut tapi ia tidak diizinkan untuk kemana-mana di hotel tersebut. Ia hanya boleh berada di tempat istirahat juru masak di belakang dapur. Road manager Cole diberi kamar di hotel karena dia berkulit putih, tetapi bintangnya sendiri yang meski pun punya bayaran tinggi harus mencari akomodasi lain. Cole akhirnya tinggal di sebuah rumah kos di West Side. Sungguh ironis. 🥺
Frank Sinatra adalah penggemar berat Cole. Saat tampil di Sands, Sinatra memperhatikan bahwa Cole hampir selalu makan malam sendirian di ruang ganti. Sinatra meminta pelayannya, seorang pria kulit hitam bernama George, untuk mencari tahu alasannya. George menjelaskan faktanya kepada Frank. “Kulit berwarna tidak diperbolehkan makan di ruang makan di Sands.”
Sinatra sangat marah. Dia mengatakan kepada manajer resto dan para pramusaji bahwa jika hal itu terjadi lagi, dia akan memastikan semua orang dipecat.
Jadi bisa kita lihat bahwa Frank Sinatra menggunakan pengaruh dan kekuasaannya untuk melawan rasisme yang saat itu memang masih merupakan aturan resmi. Hanya orang-orang hebat yang berani melakukan hal-hal mulia seperti ini. Ada resiko besar yang harus kita hadapi jika melakukan hal semacam ini. Tapi Frank Sinatra dengan gagah berani menempuh risiko tersebut. Angkat topi untuk beliau. 🙏
Saya jadi ingat kisah ‘kepahlawanan’ saya waktu masih muda dulu. 🤓 Suatu ketika di tikungan jalan masuk ke jalan Darmokali di mana saya tinggal dulu terjadi kecelakaan ringan. Sebuah mobil menyerempet sepeda dan pesepedanya jatuh dan lecet kakinya. Mobil berhenti dan pengemudinya turun. Warga berdatangan untuk melihat apa yang terjadi. Begitu melihat si pengemudi mobil adalah orang keturunan China tiba-tiba ada yang berseru, “Cino sing nabrak. Antem ae (Cina yang menabrak. Pukul saja).” Yang berseru demikian adalah seorang preman jagoan kampung di situ. Bukan sekedar berseru, ia bahkan dengan sigap mau memukul pengemudi mobil tersebut. Saya segera melompat dan menghalanginya memukul. “Jangan…! Dia bersedia mengganti rugi dan mengobati si pengendara sepeda jika sakit.” kata saya untuk menenangkan massa yang tampaknya melihat sebuah kesempatan untuk melampiaskan kemarahan dan kesulitan hidupnya pada seorang korban keturunan Cina yang ada di depan mata mereka. 😎
Si preman marah melihat saya menghalangi niatnya untuk memukuli si pengemudi. “Kalau kamu menghalangi kamu akan saya pukuli juga.” katanya dengan mata merah dan melotot seolah mau menelan saya. Tapi saya bergeming dan meminta si pengemudi mobil untuk segera menyerahkan sejumlah uang kepada si pengendara sepeda yang ternyata hanya lecet sedikit dan segera bangkit mau meneruskan perjalanannya. Si pengemudi mobil segera membuka dompetnya dan memberikan uang pada orang yang ia tabrak dan diterima dengan senang hati. Si preman tidak bisa meneruskan kemarahannya dengan memukul karena saya halangi. Tapi ia juga tidak jadi memukuli saya karenanya. Jelas ada malaikat yang melindungi saya kan bro… 😂 Drama berakhir dengan happy ending kecuali bagi si preman yang tidak sempat melampiaskan kemarahannya. 😁 Tapi sejak itu ia menjadi dendam pada saya. Untungnya bahwa meski kami tinggal di lingkungan yang sama tapi kami menjalani kehidupan yang berbeda sehingga tidak perlu bertemu. Amanlah…! 😎
Balikpapan, 18 Juni 2024
Satria Dharma