Seperti yang mungkin Anda ketahui, saya selalu menuliskan perjalanan saya ke mana saja selama ini. Bukan hanya saya tuliskan tapi juga saya simpan dokumentasinya. Ternyata travelling saya ke mana-mana ini kalau dikumpulkan dan dibukukan terlalu banyak dan tidak bisa dalam 1 buku saja. Setelah rembugan sama Mas Iqbal Dawami yang selalu membantu saya menerbitkan buku saya maka kami sepakati bahwa buku baru saya ini judulnya adalah “Hidup Cuma Sekali. Travelling Yok…!” dan akan kami bagi menjadi 3 buku.
Berikut ini cuplikan dari buku 1 sekedar untuk icip-icip siapa tahu Anda berminat untuk membacanya.
SABAH
Satu hal lagi yang membuat saya kagum: University Malaysia Sabah (UMS). Berdiri di atas lahan seluas 300 hektare, setiap fakultasnya memiliki kampus sebesar satu universitas di tempat kita! Padahal, jumlah mahasiswanya hanya 5.000 orang.
Soal kemegahan? Lihat saja sendiri di www.ums.edu.my. Kampus mereka megah, indah, dan luar biasa bersih — sampai-sampai kantor rektoratnya sekilas saya kira hotel bintang lima.
Melihat kebersihan dan ketertiban kampus itu, saya berani bertaruh: mahasiswa mereka pasti tidak pernah berdemo, apalagi sampai bakar-bakar kampus seperti di negeri kita. (hal 44)
PAPUA
Salah satu nasihat paling sering saya dengar tentang “how to survive in Papua” adalah: jangan sekali-kali menabrak babi piaraan! Kalau itu terjadi, siap-siap saja celaka. Dendanya bisa luar biasa besar — bahkan berkali-kali lipat dari harga babi di pasaran.
Alasannya? Karena babi itu bukan sekadar babi. Ia aset produktif! Katanya, si babi yang malang itu sedang dalam masa berahi dan subur-suburnya. Artinya, ia sedang dalam masa emas untuk “beranak pinak”. Maka, dengan kematiannya, hilanglah harapan si pemilik untuk memiliki “keturunan” dari almarhumah babi tersebut.
Bayangkan, betapa banyak anak dan cucu babi yang bisa lahir dari satu induk itu — seluruh pig kingdom yang makmur — lenyap hanya karena satu pengemudi ceroboh yang menabraknya!
Jadi, kita harus mengganti rugi bukan hanya harga babinya, tapi juga potensi garis keturunannya! (hal 77)

INDIA
Karena itu, jika Indonesia mampu menjalin kerja sama ekonomi langsung dengan India, jelas akan sangat menguntungkan. Potensi bisnisnya luar biasa besar, dan hubungan baik sebaiknya dibangun sejak dini. India ibarat orang kaya baru (OKB) yang akan semakin makmur di masa depan. Kalau kita sudah bersahabat sejak awal, tentu hubungan itu akan lebih erat dibanding jika kita baru datang mendekat ketika India sudah benar-benar kaya dan mulai memilih-milih teman.
Di bidang pendidikan, sains, dan teknologi, India jelas jauh lebih maju daripada kita. Peringkat perguruan tinggi mereka lebih tinggi, dan mereka bahkan pernah meraih Hadiah Nobel di bidang sains. Seorang rektor ITB yang baru-baru ini berkunjung ke salah satu universitas di India bahkan sempat malu, karena dosen-dosen di sana mampu menerbitkan international paper jauh lebih banyak dibanding ITB — padahal ITB adalah kampus teknik terbaik di Indonesia. (hal 112)
THAILAND
Dari Saphan Taksin, kami keluar lewat Exit 2 menuju Sathorn Pier untuk naik shuttle boat gratis ke Asiatique Riverfront. Ternyata banyak sekali orang yang hendak ke Asiatique, hingga kami pun harus antre untuk naik perahu gratis itu.
Saya sampai bingung, sebenarnya hari ini libur nasional atau bagaimana, kok rasanya semua orang sedang berlibur? Padahal saya sudah memilih hari di luar weekend untuk tur ini.
Di perahu, saya kembali bertanya-tanya, apakah ada di Indonesia fasilitas transportasi gratis semacam ini? Ternyata di kota atau negara yang mengandalkan pariwisata, fasilitas gratis seperti ini bisa diberikan. Uangnya mungkin tidak seberapa, tapi rasa terima kasih penumpangnya tentu tak ternilai. It’s a kind of State generosity. (hal 155)
CHINA
Kisah ‘Made in China’
Syahdan… ada seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Beijing. Di sana, ia jatuh cinta pada seorang gadis China, teman kuliahnya sendiri. Setelah lulus, ia bertekad untuk melamar, menikahi, dan membawanya pulang ke tanah air.
Namun, orang tuanya tidak setuju. Mereka ingin anaknya menikahi gadis Indonesia saja. Tapi, seperti kata Gombloh, kalau cinta sudah melekat, tai kucing pun terasa cokelat. Si anak tetap ngotot, bahkan putaw alias membangkang pada orang tuanya. Akhirnya, sang ayah dan ibu pun mengalah, dan keduanya menikah.
Setelah pernikahan, sang istri dibawa ke Jakarta. Sang suami sangat menyayangi istrinya, tapi sayang, tak lama berselang, istrinya mulai jatuh sakit. Sakitnya semakin parah dari hari ke hari. Meski dibawa ke berbagai dokter, tak satu pun bisa menemukan penyakitnya. Seminggu kemudian, gadis itu meninggal dunia di pelukan sang suami.
Sang suami tentu sangat terpukul. Melihat kesedihan anaknya, kedua orang tuanya mencoba menenangkan.
“Nak,” kata ayahnya pelan, “inilah yang sebenarnya kami kuatirkan dari dulu.”
Sang anak memandang ayah dan ibunya dengan mata sembab.
“Apa maksud Papa dan Mama? Kenapa dulu kalian melarang aku menikah dengannya? Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui?”
Kedua orang tuanya saling berpandangan. Sang ayah menghela napas panjang, lalu berkata pelan: “Sebetulnya ini bukan rahasia, Nak. Semua orang juga tahu. Papa heran kenapa kamu tidak tahu hal ini…” (hal 185)
JEPANG
Saya baru tahu kalau Picasso bukan hanya pelukis. Banyak karya keramiknya yang membuat saya terheran-heran. Dalam hati saya sempat berpikir, lho, yang begini aja kok bisa disebut karya seni? Tapi di situlah pelajarannya. Saya akhirnya membeli sebuah buku kumpulan karya Picasso, supaya bisa saya tunjukkan ke anak saya nanti: bahwa karya seni dari seniman top dunia tidak selalu indah menurut mata awam, dan kadang malah mirip coretan asal anak umur lima tahun.
Artinya, jangan takut berkarya—tidak harus sempurna untuk disebut “seni”. (hal 239)
BELANDA
Red Light District Amsterdam
Salah satu tempat yang paling mengundang rasa penasaran di Belanda adalah Red Light District Amsterdam. Kawasan ini bisa dibilang sebagai tempat di mana berbagai “dosa” bisa dilakukan secara legal. Di sini, pengunjung bisa mabuk, madat, bahkan menikmati prostitusi — karena semuanya memang diatur secara resmi oleh pemerintah. (hal 290)
AMERIKA
Bagi orang seperti saya yang biasanya semua urusan administrasi ada yang menguruskan, pengalaman ini awalnya cukup menjengkelkan. Tapi belakangan saya bersyukur, karena setelah berhasil melewati tahap ngisi formulir online itu, semua proses berikutnya — termasuk wawancara — terasa sangat mudah.
Mungkin karena tujuan kami jelas, yaitu jalan-jalan dengan tour resmi, wawancara di konsulat pun hanya berlangsung kurang dari lima menit. That’s all!
Meski begitu, saya sempat melihat ada peserta lain yang ditolak visanya. Alasannya, orang yang akan ia kunjungi di AS ternyata hanya dikenal lewat dunia maya. It’s not quite a good reason to visit the US. Kasihan juga — uangnya hangus. (hal 295)
PENANG
Kami sudah beberapa kali datang ke Penang dan rasanya sudah hampir semua tempat terkenal kami kunjungi.
Costa sendiri menawarkan lima pilihan tur di Penang:
1. Typically Penang
2. Georgetown and Suburbs
3. Round the Island
4. Chocolate, Coff ee, Tea, and Shopping Mall
5. Heritage Tour with Local Product Shopping
Yang paling murah adalah tur ke shopping mall dengan tarif USD 49 per orang—kalau dirupiahkan sekitar Rp 700 ribu/orang. Ya sudah jelas, kami memilih untuk jalan sendiri saja. Ngirit is our way! (hal 331)
Satria Dharma
Surabaya, 16 Nopember 2025