Meski pun sudah keluar dari kampus 40 tahun yang lalu saya masih berhubungan baik dengan para dosen saya di IKIP Surabaya (sekarang namanya UNESA). Kalau yang sudah meninggal ya dengan istrinya, atau anaknya. Satu demi satu dosen saya berpulang ke rahmatullah dan semakin sedikit dari mereka yang bisa saya datangi atau hubungi. Setiap bulan saya kirimi mereka nasi pecel Bu Kus yang saya tinggal pesan saja ke restonya. No sweat at all. Bagi saya mereka adalah orang tua saya sendiri yang sudah selayaknya tetap saya hormati dan kunjungi jika saya ada waktu luang.
Pagi tadi saya mengajak istri ke rumah dua dosen yang tinggal di dekat kampus Ketintang. Pertama ke rumah Pak Mas Moeljono, yang telah ditinggalkan oleh istrinya dan kini tampaknya tinggal bersama salah seorang cucunya di kompleks dosen. Alhamdulillah beliau masih sehat walafiat dan katanya masih ikut senam setiap minggu bersama sesama pensiunan. Kedua ke rumah Ibu Ninuk Koetsi di jalan Ketintang Wiyata. Bu Kutsi sekarang kesulitan berjalan karena gangguan di lutut jadi kami ngobrol di kamar beliau.
Ketika ngobrol dengan Bu Kutsi dan percakapan menyinggung kota Bandung tiba-tiba beliau bilang bahwa salah seorang kakak beliau namanya dipakai sebagai nama kawasan di Bandung. Lalu beliau menyebutkan nama ‘Samaun Samadikun’. Nama ini tentu tidak asing bagi saya. Saya segera membuka Google dan Wikipedia di mana terpampang informasi tentang Prof. Samadikun beserta fotonya. Saya lalu tunjukkan fotonya pada beliau. Beliau heran kok saya tahu dan punya foto kakaknya. Saya bilang ini dari Wikipedia.

Bu Kutsi lalu menyebutkan bahwa bahwa kakaknya ini dulu kuliah di ITB dan meneruskan ke luar negeri. “Di Universitas Stanford, di AS” sambung saya. Bu Kutsi semakin heran. Saya lalu menambahkan bahwa Pak Samadikun ini sering juga disebut salah satu pendiri Jurusan Teknik Elektro ITB dan namanya dipakai sebagai sebuah Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun di Jl. Cisitu Sangkuriang, Bandung. Beliau semakin heran dan tanya darimana saya tahu itu semua. Lalu saya jawab bahwa saya mencari tahunya via Google baru saja. Ternyata beliau tidak tahu apa itu Google dan apa itu Wikipedia.
Jadi saya minta ijin untuk menggunakan HP beliau. Saya lalu tunjukkan bagaimana caranya menggunakan HP beliau untuk mencari informasi melalui Google dan bagaimana menggunakannya. Saya ketik nama ‘Samaun Samadikun’ dan keluarlah informasi tentang beliau di HP beliau. Beliau tercengang. Saya juga tercengang. Ternyata selama ini meski pun punya HP yang terkoneksi dengan internet tapi beliau tidak tahu bagaimana caranya mencari informasi melalui Google. Jadi meski pun beliau itu pensiunan dosen tapi teknologi yang ada di HP-nya beliau tidak paham. Selama ini tidak ada yang mengajari beliau bagaimana memanfaatkan HP cerdasnya tersebut.
“Terima kasih ya sudah mengajari saya,” kata beliau sambil tertawa. Now she knows how to use Google. 😁
Anggap saja ini salah satu cara saya membalas apa yang telah beliau ajarkan pada saya di kampus dulu. 😎
Surabaya, 30 Agustus 2024
Satria Dharma
Bu Kutsi dosen bahasa Inggris ya pak? kalau iya wah beliau dosen sy juga. Sy akan bertemu beliau 13 September di acara Medical Check Up Unesa by Ikatan Pensiunan, jadi tak sabar. Terima kasih sudah berbagi cerita ya pak.
Ya. Beliau dosen saya empat puluh tahun yang lalu ketika UNESA masih bernama IKIP Surabaya. Anda apakah juga lulusan UNESA?