Pagi ini kami berada di Bandung untuk sebuah acara rutin dan kami menginap di Hotel Harris di Jalan Peta. Hotel ini penuh dan kami terpaksa ditempatkan di kamar smoking room yang double bed. We really hate smoking room. Biasanya kami bisa dapat suite room tapi tidak kali ini. Hanya kamar ini yang tersisa. Celakanya bau rokok di kamar cukup menyengat sampai ke lantai karpetnya dan jendela tidak bisa dibuka. Apbolbu…
Kami putuskan untuk olga pagi jalan kali ini dari Alun-alun Bandung balik ke hotel. Jadi kami naik Gocar ke Alun-alun Bandung dan dari sana jalan kaki menyusuri Jl. Sudirman balik ke Hotel Harris di Jl. Peta.
Kami terkejut melihat betapa kumuhnya jalanan ini. Apa perasaan saya saja ya? Tapi Bandung memang tampak lebih kumuh daripada terakhir kali kami datang. Sepanjang jalan graffiti merusak pemandangan. Pasar tumpah memenuhi hampir sepanjang jalan Sudirman. Kalau di kota lain Jalan Sudirman selalu merupakan jalan utama yang lebar, lapang, bersih, dan tertib. Pokoknya jadi jalan yang membanggakan deh…! Di Bandung Jalan Sudirman jadi jalan yang kumuh dengan sampah yang bertebaran. Banyak gelandangan yang tampaknya tidur di sepanjang jalan ini. 🥺
Kami memutuskan untuk membeli nasi bungkus untuk kami bagi-bagikan. Tapi ternyata tidak ada yang jual nasi bungkus seperti di Surabaya. Yang ada penjual bubur ayam. Setelah belok keluar dari Jl. Sudirman barulah ada seorang ibu tua yang jual nasi oncom. Tapi tidak ada lauknya. Yang ada combro dan ote-ote sebagai lauk. Baiklah daripada tidak ada. Hanya ada lima bungkus dan kami beli semua tambah lauk tersebut. Itu saja sudah membuat si penjual senang sekali dan ia berterima kasih pada istri saya sambil memeluknya sambil mendoakan. Luar biasa kan…! Kita beli dagangannya dan penjualnya mendoakan kita lancar rejekinya. Tentu saja malaikat akan mencatatnya. Kan kerjanya malaikat itu mencatat hal-hal semacam ini. 😁
Tidak lama berjalan kami bertemu dengan gelandangan suami-istri dengan tiga anak kecil-kecil di depan toko yang masih tutup. Just perfect. 😎 Mereka dengan gembira menerima nasi bungkus tersebut, terutama anak-anaknya. Pagi baru mulai dan rejeki sudah datang dengan sendirinya ke haribaan mereka. 😁
Sepanjang jalan ke hotel kami membicarakan keluarga tersebut. Bagaimana mulanya mereka sekeluarga bisa hidup dengan menggelandang seperti itu? Kok bisa punya anak tiga kok hidup menggelandang? Eh, hidup menggelandang kok punya anak tiga. Sampai kapan mereka akan seperti itu? Saya jadi overthinking. Kok lalar gawe men saya ini mikiri nasib mereka. Walikota Bandung bukan, Dinas Sosial bukan, keluarga mereka juga bukan… 😊
Sampai di hotel kami langsung masuk resto untuk sarapan. Ada begitu banyak makanan tersedia. Tapi saya hanya ambil salad dan omelette. Tampaknya perut saya sok ikut memikirkan mereka sehingga kehilangan selera. 😁
Bandung, 6 Juli 2024
Satria Dharma