Selasa, 25 Juni 2019
Just another WordPress site
SAYA MEMBACA AL-QUR’AN SETIAP HARI

Benarkah…?!
Seorang teman menjawab, “Saya membaca Al-Qur’an setiap hari.” ketika saya tanya apakah ia melakukan kegiatan membaca secara rutin. “Saya usahakan satu juz sehari.” tambahnya.
“Apakah kamu membaca terjemahannya juga?” tanya saya.
“Tidak sempat,” jawabnya sambil tersenyum.
“Kalau begitu sebenarnya KAMU TIDAK MEMBACA…” kata saya sambil tersenyum juga. “Kamu hanya MELAFALKAN Al-Qur’an. You only RECITE. You don’t READ.”

Melafalkan huruf, kata, atau pun kalimat bukanlah membaca. Membaca adalah aktifitas yang melibatkan otak. Membaca adalah aktifitas utk mendapatkan makna. Membaca tanpa makna bukanlah membaca.
Menurut saya….
Membaca ayat-ayat Al-Qur’an tanpa memahami arti atau maknanya BELUM termasuk dalam kategori MEMBACA. Itu baru masuk dalam kategori melafalkan (dan atau melagukan) Al-Qur’an.
Tapi, tentu saja…
Melafalkan Al-Qur’an, melagukannya dengan indah, dan bahkan mendengarkan tilawah adalah perbuatan yg dianjurkan oleh Rasulullah. Ada pahala utk setiap perbuatan tsb.
Meskipun demikian…
Kegiatan yg berpahala tersebut BUKANLAH termasuk kegiatan MEMBACA.

Saya perlu menyampaikan hal ini karena tampaknya banyak umat Islam yang memahami perintah ‘Íqra’ dalam Al-Qurán sebagai perintah untuk membaca dalam arti melafalkan atau membunyikan ayat-ayat Al-Qur’an semata yang tidak memerlukan pemahaman. Tentu saja itu tidak tepat. Al-Qur’an itu adalah wahyu dari Allah yang memiliki sangat banyak pelajaran hanya jika kita memahami artinya. Al-Qur’an itu bukan sekedar bunyi atau lafadz yang kita suarakan. Al-Qur’an mengandung ilmu yang harus kita pelajari maknanya dan bukan sekedar bunyi yang kita ucapkan.

Umat Islam saat ini mengalami kemunduran yang luar biasa justru karena meninggalkan membaca dengan pemahaman tersebut. Kita tidak lagi memahami makna ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an karena kita menganggap membaca Al-Qur’an adalah membunyikan hurufnya tanpa perlu memahami artinya, apalagi mendalami maknanya. Setiap tahun kita mengadakan lomba MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) yang sebenarnya adalah lomba suara yang bagus meski yang disuarakan atau dilagukan adalah ayat-ayat Al-Qur’an. Mengapa tidak mengadakan lomba pemahaman makna Al-Qur’an?

Baca juga:  IKPTM DAN UPACARA HARDIKNAS BERSAMA MENDIKBUD

Dalam berbagai acara di mana ada pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an sangat jarang yang menyertakan artinya. Seolah semua hadirin sudah paham arti dari ayat-ayat yang dibaca. Jika hadirin hanya mendengarkan pembacaan ayat-ayat tersebut tanpa memahami artinya maka mereka kehilangan kesempatan utk memperoleh pembelajaran dari makna ayat yang dilantunkan. Pesan yang hendak diberikan oleh si pembaca ayat menjadi tidak sampai. Dan ini tidak baik bagi perkembangan intelektual umat Islam.

Jadi saran saya, jika Anda membaca Al-Qur’an sebagai ritual harian sebagai upaya untuk mendekatkan diri pada Tuhan maka bacalah artinya, atau jika perlu bukalah tafsirnya, agar Anda mendapatkan ilmu, dari tidak tahu menjadi tahu, sebagaimana yang diinginkan oleh Allah pada perintah membacanya (Iqra’) tersebut. Pada acara yang menyertakan pembacaan ayat Al-Qur’an, tolong sertakan artinya agar para hadirin mendapatkan makna dari ayat yang mereka dengar.

27 September 2015
Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *