prev next

Foto bersama Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono saat kunjungan, Desember 2010. Dok. sekolahpemimpin.sch.id

Rancang Kurikulum Modern, Dosen IT Siap Mengajar tanpa Bayar

Sekolah Pemimpin Hidayatullah (SPH) di Balikpapan, yang saat ini dikhususkan bagi siswa-siswa miskin bertekad menjadi sebuah sekolah yang paling bermutu, dengan guru-guru paling cerdas dan berbakat. Selain itu, juga dirancang dengan fasilitas yang paling lengkap, kurikulum paling modern, dikelola secara profesional, dan dibiayai sepenuhnya oleh masyarakat Balikpapan. Bagaimana tenaga pengajarnya?

Untuk menyelesaikan masalah pendidikan, khususnya bagi siswa miskin, kita harus mencari cara-cara baru. Orientasi pelayanan pendidikan dengan menggunakan cara berpikir lama jelas tidak dapat diharapkan untuk mengatasi permasalahan pendidikan pada situasi saat ini. Cara-cara berpikir baru dan terobosan-terobosan baru harus diperkenalkan dan diciptakan untuk mengatasi permasalahan pendidikan pada saat ini dan di masa mendatang.
(more…)

Keceriaan siswa SPH. Dok. bmh.or.id

Road Show, Imdaad Pun Sumbangkan Cincin Berliannya

Bagaimana kiat Pondok Pesantren Hidayatullah untuk mengelola sebuah sekolah bermutu tinggi tanpa mengenakan biaya kepada peserta didiknya? Pendidikan bermutu tinggi jelas membutuhkan biaya dan sumber daya lain yang tidak kecil. Darimana semua itu diperoleh?

Pondok Pesantren (PP) Hidayatullah percaya bahwa pada hakikatnya setiap manusia itu diberi kapasitas dan keinginan untuk berbuat baik. Dalam diri setiap manusia ada elemen kebaikan yang bila digugah akan bangkit menjadi karya nyata.
Berbekal keyakinan inilah maka PP Hidayatullah melalui Baitul Maal Hidayatullah (BMH) lalu mencari dukungan kepada semua pihak untuk membantu terwujudnya visi dan misi Sekolah Pemimpin Hidayatullah (SPH) ini. Bagaimana saya tertarik untuk terlibat langsung pada program ini bisa dilihat pada tulisan saya di http://satriadharma.com/index.php/2010/07/31/mustaqim-dan-sekolah-pemimpinnya/.
(more…)

Mustaqim dan Sekolah Pemimpinnya

Sekolah Pemimpin. Foto: www.bmh.or.id

Namanya Mustaqim. Ia kepala Baitul Maal Hidayatullah Balikpapan. (http://www.bmh.or.id/). Pagi itu HP-nya berdering. Ia meliriknya dan ia melihat nomor yang tidak ia kenal. Ia tidak segera mengangkatnya. “Mungkin salah nomor.” Pikirnya. HP-nya berdering untuk kedua kalinya. Ia masih belum tergerak untuk mengangkatnya.
Tapi ketika HP-nya berdering untuk ketiga kalinya ia baru sadar bahwa tak mungkin itu salah sambung. Tentunya ini masalah serius kalau ada yang menelponnya sampai tiga kali. Begitu ia angkat HPnya dan mengucapkan salam, di ujung sambungan langsung menyambutnya dengan tangisan. Mustaqim terkejut dan terheran-heran. “Ada apa ini…?!Kok nangis di telpon?” tanyanya dalam hati.
Tapi ia membiarkan si penelpon menangis sampai berhenti. Mungkin perasaan sedihnya telah ia pendam selama berhari-hari dan begitu bertemu dengan saluran langsung jebol!. Ketika tangisnya telah selesai ia langsung bertanya,” Ada apa Pak? Apa yang bisa saya bantu?” Tapi ternyata ia salah. Si penelpon ternyata seorang wanita dan tanpa basa-basi ia langsung menyatakan maksudnya untuk pinjam uang sebesar 150 ribu karena ia sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Ia bermaksud untuk pergi ke rumah sakit atau dokter untuk berobat dan satu-satunya tempat yang ia tahu untuk pinjam uang adalah BMH.
(more…)