prev next

ROBINHOOD IS STILL ALIVE

Ilustrasi. Robin Hood, Wikipedia.org

Ketika keluarga saya masih miskin dahulu ibu kami (almarhumah) yang harus pontang-panting mencari cara agar anak-anaknya bisa makan di rumah. Untunglah kami sering ditolong oleh orang-orang tertentu baik sanak keluarga atau teman-teman dari orang tua kami.

Ayah kami memang sering tidak ada di rumah karena beliau terpaksa harus ke luar kota untuk mencari tambahan nafkah bagi keluarganya. Beliau memang PNS di Dinas P&K (namanya dulu) Jawa Timur tapi lebih sering ke luar kota untuk mencari nafkah tambahan bagi 11 orang anaknya. Beliau adalah PNS yang tidak punya jabatan dan hanya hidup dari gaji yang kecil. Karena tidak cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya yang besar akhirnya beliau berinisiatif untuk berwirausaha ke mana-mana. Tentu saja dengan desersi meninggalkan tugasnya sebagai pegawai P&K. Hal ini jelas menjengkelkan atasan beliau. Mau dipecat punya anak sebelas, kalau tidak dipecat kok ya kebangetan kelakuannya sebagai bawahan. Urusan rumah tangga akhirnya ditangani sepenuhnya oleh ibu kami. Untunglah kami adalah anak-anak yang soleh belaka di rumah.

Suatu ketika rumah kami kehabisan beras untuk dimasak. (Bayangkan kalau setiap hari ibu saya harus menyediakan makan bagi belasan orang setiap hari! Kalau punya anak sebelas dan harus makan tiga kali sehari kan berarti 33 piring sehari. Bayangkan kalau setahun…, lima tahun…, sepuluh tahun….! Bisa modar disuruh mikir makan kami sehari-hari saja. Untungnya kami tidak makan tiga kali sehari dan porsinya juga tidak sepiring seorang. Seadanya saja dimakan beramai-ramai.) Suatu ketika (yang sering terjadi) di rumah beras habis, uang tidak punya, dan tidak ada lagi barang-barang yang bisa dilego pada tukang loak yang lewat depan rumah (Ia menganggap kami sebagai pemasok utama bagi bisnis loakannya). Biasanya ada saja keluarga atau teman orang tua kami yang bisa diutangi. Tapi hari itu semua sudah buntu dan ibu kami berangkat ke kantor ayah kami di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur untuk ngutang ke koperasi kantor. Sebetulnya ibu saya agak ragu-ragu untuk ke kantor ayah kami. Beliau malu datang ke kantor ayah saya karena beliau selalu disindir oleh teman-teman kantor ayah saya karena ayah saya yang sering ‘desersi’ tersebut. Lagipula beliau sadar bahwa beras jatah bulan ini sudah diambil bulan lalu. Tak ada lagi jatah beras yang bisa diambil. Tapi karena di rumah benar-benar sudah tidak ada lagi yang bisa dimasak dan juga sudah tidak ada lagi yang bisa dijual untuk membeli beras maka ibu saya ‘mengertakkan giginya’ dan membulatkan tekadnya untuk menghadapi apa saja demi memberi makan ke sebelas anaknya tersebut. Bayangan sebelas orang anaknya yang kelaparan lebih mengerikan bagi beliau. Kalau harus malu ya biarlah malu. Bukankah malu itu sudah jadi sarapan paginya orang miskin? Jadi apalagi yang dikuatirkan? Que sera sera, whatever will be will be …
(more…)

Tags:
 

SIDAK BB

Singapore, June, 2010

Dokumentasi, Singapore, June, 2010

“Terima kasih, Yang, sudah mempercayaiku.” Demikian tiba-tiba istri saya berkata sambil mencium pipi saya dengan mesra. Saya sejenak terpana dan bertanya-tanya dalam hati untuk apa ciuman dan ucapan terima kasih tersebut. Setelah sadar barulah saya paham bahwa ia rupanya berterima kasih karena saya tidak pernah memeriksa telpon genggamnya atau pun ingin tahu dengan siapa ia berhubungan dengan BB-nya selama ini. Waks…! :-D

Kami memang baru saja membicarakan ttg seorang kerabat yg harus sering menghapus pesan di BB-nya karena suaminya sering ‘sidak’ ke BB-nya dan marah kalau menemukan ada hal-hal yg tidak berkenan di hatinya. Ia memang tidak bebas berkomunikasi dengan siapa saja dan kapan saja seperti istri saya. Kami jadi kasihan padanya dan sering menjadikan hal tersebut sebagai olok-olok. Kami memang memandang hal yg dilakukan oleh suaminya tersebut berlebihan.
Sebaliknya, saya bahkan tidak pernah bertanya siapa saja teman-teman yg berhubungan dengan istri saya dan urusan apa. Istri saya punya urusan pribadi dan saya juga punya urusan pribadi yg tidak perlu harus dilaporkan satu sama lain. Dan saya memang menjaganya agar tetap demikian.
(more…)

Tags:
 

Bagaimana Kabarmu Hari ini, Nak…?!

Yufi. dok. pribadi.

Jika saya tinggal di rumah (tidak ke luar Balikpapan) artinya saya sedang tidak ada pekerjaan. Pekerjaan saya hampir seluruhnya ada di luar Balikpapan sehingga kalau ada di Balikpapan berarti saya sedang tidak ada pekerjaan. Begitu juga istri saya. Sekarang ini ia mesti mengurusi warung pecel milik keluarganya yang ada di Surabaya dan itu berarti ia mesti bolak-balik Balikpapan – Surabaya. Kadang-kadang saya dan istri bergantian agar tidak meninggalkan anak-anak kami yang masih sekolah terlalu lama. Tapi seringkali kami memang pergi bersamaan dan anak-anak kami tinggalkan di Balikpapan tanpa ada pengasuh di rumah. Karena mereka sudah terbiasa kami tinggal bepergian maka mereka juga biasa-biasa saja dan tidak pernah mengeluhkan ketidakhadiran kami di rumah.

Untuk urusan rumah kami punya pembantu yang setiap pagi datang mengurusi rumah dan kembali siang hari. Urusan makan siang sudah diselesaikan di sekolah karena mereka full-day school dan makan siang di sekolah. Urusan makan malam biasanya dibuatkan oleh pembantu kami dan kadang mereka beli sendiri. Mereka tidak pernah mengeluhkan soal makan. Mereka bisa membuat sendiri apa yang mereka mau karena ibunya telahmeninggalkan segala macam bahan makanan yang mereka sukai sebelum berangkat. Soal bangun pagi dan sholat Subuh yang setiap pagi mesti kami kontrol di mana pun kami berada. Jadi meski pun kami sedang travelling ke Bali, Malaysia, atau Sinjai, umpamanya, kami tetap menelpon mereka ke rumah untuk membangunkan mereka sholat Subuh. Itu sudah jadi ritual keluarga. Kalau tidak dbangunkan maka mereka akan bangun kesiangan dan gelagapan untuk mempersiapkan diri ke sekolah.
(more…)

Tags:
 

FERNANDO ALONSO

Fernando Alonso. Google.com

Saya sedang mengerjakan tugas rutin saya (membuka dan membalas email) ketika Tara, anak bungsu saya muncul di ruang komputer dan berkata,”Pak, Mas Alif nggak masuk sekolah.”. Alif itu sepupunya yang satu sekolah dengannya dan ia biasanya ikut dengan Alif berangkat mau pun pulang sekolah. Kebetulan Alif tinggal satu jalan dan jaraknya hanya beberapa rumah dari rumah kami.
Karena tak ada antaran pagi itu maka mau tak mau saya harus mengantarkan Tara ke sekolah. Komputer kutinggalkan dan segera berkemas. Ketika mobil mulai meluncur kuperhatikan jam penunjuk waktu di dashboard. 7:05.

“Jam berapa sekolahmu masuk, Nak?” tanyaku

“Gak tahu. Jam 7:15 barangkali.” jawabnya tak yakin. Ia tak pernah memperhatikan jam berapa sekolahnya mulai karena ia tidak pernah terlambat masuk sekolah.

“Kenapa Mas Alif gak masuk hari ini? Sakitkah” tanyaku.

“Nggak. Mau bolos aja.” Jawabnya.

“Soalnya semua orang libur jadi dia juga mau libur.” Tambahnya seolah tahu bahwa saya akan menanyakan hal ini.Saya lalu ingat bahwa kakaknya, Yufi, libur hari ini.
(more…)

Tags:
 

SAYA BOLOS… PAK!

Skiiping School. Ilustrasi. ourfamilynest.com

Saya hendak memanasi mesin mobil ketika melihatnya di depan pagar rumah saya. Ia sedang berjongkok menggores-gores sesuatu di tanah. Di punggungnya ia membawa tas sekolah. Tapi ia tidak mengenakan seragam sekolah saat itu.
“ Hai Adul! Kamu tidak sekolahkah…?!” Tanya saya. Saya biasa memanggilnya “Adul” seperti semua tetangga lain (meski kemudian saya baru tahu bahwa ia punya panggilan lain di sekolah).
“Tidak Pak. Saya bolos, Pak.” Jawabnya singkat dan meneruskan pekerjaannya menggores-gores.
Bolos…?! Saya langsung terkesiap. Anak sulung saya paling kerap membolos dulu dan itu membuatnya diganjar tidak naik kelas. Tingkat bolosnya sudah begitu tinggi sehingga bahkan status orang tuanya dan hubungan baik dengan kepala sekolah tetap tidak bisa membantunya untuk naik kelas. Lagipula kami orang tuanya memang tidak berniat untuk ‘membantu’nya naik kelas dengan cara apa pun. Sudah menjadi prinsip kami bahwa setiap anak harus menerima konsekuensi dari tindakannya sendiri. Jika membolos membuatnya tidak bisa naik kelas so be it!
(more…)

Tags:
 

Gigi Keropos dan Pemerintah Australia yang Baik

Anak-anak sehat di dunia

Ilustrasi: Keceriaan Anak-anak

Seorang ibu datang ke dokter gigi dan mengeluhkan gigi anaknya yang kropos. Si dokter memeriksa gigi anak tersebut dengan cermat. Ternyata gigi si anak memang kropos. Ada delapan buah gigi si anak yang kropos dan berlubang. Dua diantaranya tidak bisa ditambal karena tinggal separoh.

Ketika si ibu mengeluhkan gigi anaknya dan membela diri bahwa si anak sebenarnya rajin dan teratur menyikat giginya dengan cara menyikat yang benar dan dengan pasta gigi yang berflorida si dokter hanya senyum-senyum saja.

Ketika selesai mengerjakan gigi si anak sang dokter gigi kemudian berkata bahwa masalahnya bukan terletak pada perawatan gigi si anak yang kurang tepat atau pasta gigi yang digunakan kurang berkualitas tapi memang pada kondisi gigi si anak yang memang dari asalnya kurang bagus. Gigi si anak memang buruk kualitasnya karena kurang kalsium. Si ibu kurang asupan kalsiumnya ketika sedang hamil dulu. Jadi masalahnya jauh lebih kompleks. Karena kurang asupan kalsium (dan kemungkinan kurang asupan gizi) ketika hamil maka dampaknya mengenai si anak ketika ia lahir dan beberapa dampak dari kekurangan gizi pada masa kehamilan tersebut akan terbawa sampai si anak lahir dan tumbuh dewasa. Dalam kasus di atas gigi si anak akan bisa cacat permanen. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh si ibu agar gigi anaknya bisa tumbuh sehat dan kuat seperti anak-anak yang memiliki asupan kalsium yang cukup ketika masih dalam kandungan. Apa yang bisa dilakukannya hanyalah menjaga agar kualitas gigi yang ada sekarang tidak semakin merosot karena perawatan yang salah.
(more…)

Mengeluh atau Mengubah Keadaan?

mengeluhTidak perduli apa pun profesi Anda. Tidak perduli seberapa sulit pekerjaan Anda. Anda punya dua pilihan dalam menghadapinya : Mengeluh atau Mengubah Keadaan.
Anak-anak saya juga sering menggerutu dan mengeluhkan berbagai hal dan karena bosan mendengar keluhan itu-itu juga maka saya menuliskan di sebuah kertas kuarto dan melaminating pesan berikut : “Kita Tidak Mengeluh dan Menggerutu. Kita Mengambil Tindakan dan Mengubah Keadaan.” Jadi setiap kali mereka mulai menggerutu atau mengeluh saya akan bertanya,:”Apakah kamu mengeluh? dan menyuruh mereka untuk membaca kembali pesan yang sudah saya laminating tersebut. It works! Mereka akan berhenti mengeluh meski sering juga mereka membantah,:”Nggak! Aku nggak mengeluh kok! Aku cuma bilang …”

Berikut ini ada cerita yang saya pungut dari milis lain yang mungkin menarik untuk kita jadikan sebagai pertimbangan dlam mengubah sikap kita dalam memandang hidup.
Enjoy!
Salam
Satria
(more…)

Tags:
 

BERHENTI MEROKOK

puntung_rokokDulu saya adalah perokok kelas berat. Setiap hari paling tidak dua bungkus rokok kretek saya habiskan. Dan itu saya mulai ketika saya masih duduk di SMP klas 3! Seorang teman ’menjerumuskan’ saya dengan memasok saya rokok gratis dengan mencuri dari warung neneknya setiap hari dan ketika neneknya tahu saya sudah terjerat!

Bagaimana cara saya untuk bisa tetap merokok? Banyak jalan menuju Roma kata orang. Apalagi kalau cuma mau merokok. :-) Artinya, seorang yang sudah kecanduan merokok tidak akan keberatan diminta jalan kaki ke Roma asal dibekali rokok. hehehe…! Kalau sudah ketagihan dan benar-benar tidak punya rokok saya dan teman saya tidak segan-segan ’ngutis’ alias memunguti puntung rokok orang lain yang masih panjang untuk kami teruskan. ”Lanjutkan!” mungkin kira-kira demikian motto kami. ’Lebih panjang lebih baik’ dan ’demi wong cilik’ seperti kami. :D
(more…)

Tags: