Beberapa waktu yg lalu saya sedang meluncur santai di jalanan yg tidak begitu padat ketika mendengar Ustad Hasan Firdaus memberikan ceramah di Radio IDC, radionya masjid Istiqamah Balikpapan. “Menikahi orang yg kita cintai itu biasa. Tetapi tetap mencintai orang yg telah kita nikahi itu yang luar biasa. Dan jika kita mampu tetap mencintai orang yg kita nikahi selama belasan atau puluhan tahun maka itu keajaiban.” Dan saya pun terkekeh. Bisa-bisa aja Ustad Hasan itu…!
Saya telah menikah hampir dua puluh tahun dan sampai detik ini masih tetap mencintai istri saya dengan kualitas dan kuantitas cinta yang tidak berkurang sedikit pun. Begitu juga sebaliknya.
Jadi ini sebuah keajaiban seperti kata Ustad Hasan.
(more…)
“Terima kasih, Yang, sudah mempercayaiku.” Demikian tiba-tiba istri saya berkata sambil mencium pipi saya dengan mesra. Saya sejenak terpana dan bertanya-tanya dalam hati untuk apa ciuman dan ucapan terima kasih tersebut. Setelah sadar barulah saya paham bahwa ia rupanya berterima kasih karena saya tidak pernah memeriksa telpon genggamnya atau pun ingin tahu dengan siapa ia berhubungan dengan BB-nya selama ini. Waks…!
Kami memang baru saja membicarakan ttg seorang kerabat yg harus sering menghapus pesan di BB-nya karena suaminya sering ‘sidak’ ke BB-nya dan marah kalau menemukan ada hal-hal yg tidak berkenan di hatinya. Ia memang tidak bebas berkomunikasi dengan siapa saja dan kapan saja seperti istri saya. Kami jadi kasihan padanya dan sering menjadikan hal tersebut sebagai olok-olok. Kami memang memandang hal yg dilakukan oleh suaminya tersebut berlebihan.
Sebaliknya, saya bahkan tidak pernah bertanya siapa saja teman-teman yg berhubungan dengan istri saya dan urusan apa. Istri saya punya urusan pribadi dan saya juga punya urusan pribadi yg tidak perlu harus dilaporkan satu sama lain. Dan saya memang menjaganya agar tetap demikian.
(more…)
Alkisah …
Di sebuah perkampungan yang selama ini suasananya aman tentram kerta raharja tiba-tiba terjadi perubahan. Terjadi ketegangan antara para suami dan para istri di kampung tersebut. Suasana yang biasanya romantis dan rukun berubah menjadi tegang dan tidak ada lagi tawa dan canda diantara mereka. Para suami tiba-tiba dimusuhi oleh para istri. Mengapa demikian?
Para ibu ternyata melihat gejala yang aneh dari para suami mereka yang tiba-tiba menjadi lebih genit daripada biasanya. Para suami yang biasanya sarungan setiap pagi dan tidak mandi kalau tidak diteriaki berkali-kali oleh istirnya tiba-tiba sejak pagi sudah mandi bersih dan berpakaian lengkap dengan sisiran yang klimis .Usut punya usut ternyata hal tersebut disebabkan oleh munculnya sebuah perkumpulan eksklusif bernama “Polgam Club” di kampung tetangga yang punya slogan “Why Only One If You Can Get More?”, “God Bless Those Who Allow Husbands.”, “Why Go Illegal If You Can Go Legal?”, dll… dll…
Ringkasnya, para suami menuntut agar mereka juga bisa memperoleh privilege yang diperoleh para anggota “Polgam Club” tersebut.’ Mosok mereka bisa kami tidak bisa?’, demikian kilah mereka. Lagipula berdasarkan statistik jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Entah statistic darimana yang mereka sampaikan. Kami tidak ingin terperosok dalam perzinahan yang semakin lama semakin mewabah. Alangkah baiknya kalau syahwat disalurkan secara syar’i daripada terjerumus, dll… dll… Tentu saja argumen mereka ini dijawab oleh para istri mereka dengan argumen,’Apakah servis kami selama ini kurang memuaskan sehingga perlu tukang servis lain? Satu aja ngak habis-habis kok.’. Dll… dll…
(more…)











Recent Comments