Yufi. dok. pribadi.
Untuk urusan rumah kami punya pembantu yang setiap pagi datang mengurusi rumah dan kembali siang hari. Urusan makan siang sudah diselesaikan di sekolah karena mereka full-day school dan makan siang di sekolah. Urusan makan malam biasanya dibuatkan oleh pembantu kami dan kadang mereka beli sendiri. Mereka tidak pernah mengeluhkan soal makan. Mereka bisa membuat sendiri apa yang mereka mau karena ibunya telahmeninggalkan segala macam bahan makanan yang mereka sukai sebelum berangkat. Soal bangun pagi dan sholat Subuh yang setiap pagi mesti kami kontrol di mana pun kami berada. Jadi meski pun kami sedang travelling ke Bali, Malaysia, atau Sinjai, umpamanya, kami tetap menelpon mereka ke rumah untuk membangunkan mereka sholat Subuh. Itu sudah jadi ritual keluarga. Kalau tidak dbangunkan maka mereka akan bangun kesiangan dan gelagapan untuk mempersiapkan diri ke sekolah.
(more…)

Ilustrasi. Google.com
Pertamakali bekerja sebagai guru SMP di Caruban, kota kecil dekat Madiun saya tidak perlu melamar. Saya ditempatkan di sekolah itu sesuai dengan ikatan dinas yang harus saya penuhi karena ikut program Tunjangan Ikatan Dinas dari program PGSLPYD. PGSLPYD itu singkatan dari Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama Yang Disempurnakan dan merupakan program pendidikan guru setara Diploma 1 yang nantinya lulusannya akan ditempatkan sebagai guru SMP di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Begitu lulus kuliah dari jurusan Bhs Inggris saya langsung mendapat penempatan di Caruban. Sebuah kota kecil yang susah payah harus saya cari di peta Jawa Timur.
Saya tidak langsung berangkat untuk memenuhi kewajiban saya meski SK PNS saya sudah turun. Terus terang saya tidak ingin untuk berangkat pada awalnya karena menjadi guru PNS, apalagi ditempatkan di sebuah kota kecil yang belum pernah saya injak sebelumnya, sungguh bukan tujuan hidup saya. Ogah rasanya saya menjadi guru. Sebagai anak muda kota metropolis macam Surabaya karir sebagai guru sungguh tak menarik samasekali. Di kepala saya waktu itu saya masih berharap bisa jadi seorang psikolog, wartawan atau guide yang bisa melancong ke mana-mana tapi malah dibayar.
Jadi guru…?! Puih…! Nehi lah yaow…! Saya mau ikut program TID dari PGSLPYD hanya karena tertarik pada uang tunjangan dinasnya yang lumayan besar bagi saya waktu itu yang saya peroleh setiap tiga bulan tersebut. Lagipula perkuliahannya saya anggap sebagai kursus bahasa Inggris gratis saja!
(more…)

Skiiping School. Ilustrasi. ourfamilynest.com
“ Hai Adul! Kamu tidak sekolahkah…?!” Tanya saya. Saya biasa memanggilnya “Adul” seperti semua tetangga lain (meski kemudian saya baru tahu bahwa ia punya panggilan lain di sekolah).
“Tidak Pak. Saya bolos, Pak.” Jawabnya singkat dan meneruskan pekerjaannya menggores-gores.
Bolos…?! Saya langsung terkesiap. Anak sulung saya paling kerap membolos dulu dan itu membuatnya diganjar tidak naik kelas. Tingkat bolosnya sudah begitu tinggi sehingga bahkan status orang tuanya dan hubungan baik dengan kepala sekolah tetap tidak bisa membantunya untuk naik kelas. Lagipula kami orang tuanya memang tidak berniat untuk ‘membantu’nya naik kelas dengan cara apa pun. Sudah menjadi prinsip kami bahwa setiap anak harus menerima konsekuensi dari tindakannya sendiri. Jika membolos membuatnya tidak bisa naik kelas so be it!
(more…)

Ilustrasi: Keceriaan Anak-anak
Seorang ibu datang ke dokter gigi dan mengeluhkan gigi anaknya yang kropos. Si dokter memeriksa gigi anak tersebut dengan cermat. Ternyata gigi si anak memang kropos. Ada delapan buah gigi si anak yang kropos dan berlubang. Dua diantaranya tidak bisa ditambal karena tinggal separoh.
Ketika si ibu mengeluhkan gigi anaknya dan membela diri bahwa si anak sebenarnya rajin dan teratur menyikat giginya dengan cara menyikat yang benar dan dengan pasta gigi yang berflorida si dokter hanya senyum-senyum saja.
Ketika selesai mengerjakan gigi si anak sang dokter gigi kemudian berkata bahwa masalahnya bukan terletak pada perawatan gigi si anak yang kurang tepat atau pasta gigi yang digunakan kurang berkualitas tapi memang pada kondisi gigi si anak yang memang dari asalnya kurang bagus. Gigi si anak memang buruk kualitasnya karena kurang kalsium. Si ibu kurang asupan kalsiumnya ketika sedang hamil dulu. Jadi masalahnya jauh lebih kompleks. Karena kurang asupan kalsium (dan kemungkinan kurang asupan gizi) ketika hamil maka dampaknya mengenai si anak ketika ia lahir dan beberapa dampak dari kekurangan gizi pada masa kehamilan tersebut akan terbawa sampai si anak lahir dan tumbuh dewasa. Dalam kasus di atas gigi si anak akan bisa cacat permanen. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh si ibu agar gigi anaknya bisa tumbuh sehat dan kuat seperti anak-anak yang memiliki asupan kalsium yang cukup ketika masih dalam kandungan. Apa yang bisa dilakukannya hanyalah menjaga agar kualitas gigi yang ada sekarang tidak semakin merosot karena perawatan yang salah.
(more…)
Pernah dengar istilah OLPC? OLPC itu singkatan dari One Laptop Per Child (Satu Laptop untuk Setiap Anak). OLPC atau The Children’s Machine atau XO-1 atau Laptop $100 adalah sebuah program penyediaan laptop dengan harga terjangkau untuk anak-anak di seluruh dunia, khususnya anak-anak di negara berkembang dengan harapan agar mereka dapat mengakses pengetahuan dan pendidikan modern.
OLPC adalah ide dari Nicholas Negroponte (1943) seorang ilmuwan komputer yang dikenal sebagai pendiri dan direktur dari Media Lab di MIT (Massachusetts Institute of Technology). Organisasi ini bertugas mendesain , membuat dan mendistribusikan laptop yang dimaksud.
(more…)










Recent Comments