
- Sumber Gambar: http://treest.wordpress.com
“Berapa gaji yang Anda minta?” tanya si pewawancara pada saya.
Saya sedang menghadapi wawancara untuk masuk kerja sebagai seorang guru di sebuah yayasan sekolah internasional saat itu. Pertanyaan-pertanyaan sebelumnya telah saya jawab dengan lancar dan dengan penuh percaya diri.
“ Enam ratus ribu!” jawab saya mantap. ‘Not less than a penny.’ tambah saya dalam hati. Saya sudah mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan ini. Jadi sama sekali tak ada keraguan saya untuk menjawabnya. Bahkan sebenarnya saya melamar ke sekolah ini karena ingin memperoleh gaji sebesar itu. Gaji saya sebelumnya adalah setengah dari angka tersebut. Dan saya ingin sekali gaji saya dua kali lipat dari sebelumnya. Mendapatkan gaji dua kali lipat dari sebelumnya seolah menjadi target saya saat itu.
Pertama kali bekerja sebagai guru di sebuah desa kecamatan Caruban yang berjarak sekitar 30 km dari kota Madiun pada akhir 70-an saya mendapat gaji sebesar 15 ribu rupiah. Biaya kost dan makan untuk bujangan macam saya waktu itu adalah 10 ribu rupiah. Sisanya yang 5 ribu rupiah saya pakai untuk kebutuhan lain dan ongkos pulang ke Surabaya setiap bulan. Gaji tersebut boleh dikata habis tak tersisa. Saya tidak bisa menabung samasekali dengan gaji CPNS tersebut (tentu saja! Kalau gaji saya sebesar Gayus itu lain cerita) sehingga saya berpikir alangkah enaknya jika gaji saya dua kali lipat dari saat itu.

Tak lama kemudian gaji saya naik dan naik sehingga mencapai 30 ribu rupiah. Dua kali lipat dari gaji awal saya. Was I happy? Ternyata gaji tersebut tidak mengubah apa pun. Gaji tersebut tetap habis dan saya tetap tidak bisa menabung sama sekali. (more…)

Kemarin secara tidak sengaja saya menonton acara “Suara Anda” di Metro TV dengan topik Susno Duadji Vs Syahril Djohan. Hadir pada acara tersebut adalah Togar Sianipar (mantan Kapolda Sumsel), Bachtiar Aly (staf ahli Kapolri), Zul Armain (pengacara Susno Duadji), dan seorang dari anggota Komisi 3 DPR yang saya lupa namanya. Selain mereka berempat turut diwawancarai adalah Hotma Sitompul, pengacara Syahril Djohan. Pembawa acaranya adalah Fifi Aleyda Yahya.
Saya tidak akan bercerita bagaimana jalannya acara tersebut tapi saya tertarik pada analogi yang diambil oleh Hotma Sitompul yang mengatakan kira-kira sebagai berikut : Jika ada seorang jendral yang disuap seseorang maka ada dua kemungkinan, yaitu uang itu diterima atau orang itu ditangkap. Ia kemudian secara retorik bertanya, yang mana yang dilakukan oleh Susno Duadji? Analogi ini dengan cepat dilahap oleh Togar Sianipar dan juga Bachtiar Aly dan mereka juga menyatakan hal yang sama. “”Pertanyaan saya apakah orang yang mencoba menyogok itu dibiarkan atau ditangkap,”
(more…)
“Pak Satria, di mana rujukannya sehingga kita bisa mengonfirmasi bahwa Tuhan menurunkan banyak agama? Sepemahaman saya, Allah hanya menurunkan satu agama : Islam. Yaitu agamanya Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS dan Muhammad SAW.”
Sebuah pertanyaan muncul dalam diskusi di sebuah milis dan saya tertarik untuk menanggapinya dalam sebuah tulisan yang agak panjang terpisah dari jawaban singkat saya pada si penanya.
Si penanya ini protes pada pernyataan saya bahwa Allah mengakui agama-agama lain sebagai agama yang diturunkanNya, selain Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad. Sedangkan menurutnya agama Islam itu hanya satu yaitu agama yang disampaikan pada Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad, meski ia tidak menyebutkan tentang perbedaan ‘versi’ agama Islam dari masing-masing nabi.
Jawaban singkat saya adalah : “Lha yang disebut Ahli Kitab itu siapa Kang ? Apa suku-suku terpencil di seluruh dunia ini tidak mendapatkan petunjuk (agama) dari Tuhan? Lantas Anda sebut apa petunjuk tersebut? Apa sih konsep ‘Agama’ dalam benak Anda?”
Tentu saja ini jawaban yang jauh dari memuaskan dan memang tidak menjelaskan tentang apa itu ‘agama’ dan apa itu ‘Islam’.
(more…)
Film “2012” meresahkan dan haram untuk ditonton! Kata siapa? Kata MUI Malang dan MUI Kalsel. Baca ini. Benarkah masyarakat resah? Sayup-sayup saya dengar teriakan dari belakang , “Resah…?! Resah apaan? Elo aja kali!”
Jadi siapa dong yang resah? Ya mereka berdualah! Siapa lagi…?! Hahaha…! Lha wong MUI Pusat melalui ketuanya KH. Ma’ruf Amin saja tidak mengharamkan film kiamat 2012 untuk di tonton masyarakat. Baca ini. KH Ma’ruf nampaknya lebih luas pandangannya ketimbang dua rekannya tersebut. Jadi jangan dikira kalau sesama MUI tidak berbeda pendapat.
Kalau ada hal yang meresahkan masyarakat maka masyarakat pasti akan menghindari hal yang meresahkannya tersebut. Itu hal yang alamiah sekali. Mereka tentu akan minta aparat untuk menghentikannya dan agar masyarakat menjauhinya. Umpamanya : geng motor, tawuran mahasiswa, premanisme, wabah penyakit, kebiasaan nenggak spritus dicampur air kencing kuda, dll.
Tapi coba tanyakan pada masyarakat yang sampai antri berjam-jam untuk bisa menonton film yang ‘meresahkan’ tersebut. “Eh! Elu apa kagak tahu bahwa film ini meresahkan? Kok elu malah antri untuk nonton?’ Saya jamin Anda akan dijawab :”Ah! Itu kan akal-akalan elu aja supaya gua pulang dan elu yang gantiin tempat gua ngantri kan? Sono ngantri di belakang!” Kalau ini belum memuaskan Anda, coba cegat mereka yang baru saja selesai nonton dan tanyai mereka,:”Eh! Elu resah nggak setelah nonton film ini?” Saya yakin akan dijawab,:”Resah..?! Gila lu! Tuh yang kagak kebagian karcis yang resah.” (more…)
Saya akan melanjutkan obrolan saya sebelumnya pada topik “Hukum Tuhan yang Berubah”. Tapi kali ini akan saya bikin dalam topik tersendiri, yaitu “Perbudakan dalam Islam”. Kebetulan saya sedang berada di perut Batavia dalam perjalanan pulang dari Manado ke Balikpapan dan punya waktu satu jam lebih sebelum mendarat.
Hukum atau syariat Islam tentang perbudakan ini menurut saya sangat menarik. Jelas sekali bahwa Tuhan ingin agar perbudakan itu dihapus dalam kehidupan karena perbudakan itu sungguh tidak sesuai dengan prikemanusiaan. Tapi kita tidak akan menemukan satu pun teks dalam AlQuran yang secara jelas menyatakan bahwa perbudakan harus dihapuskan. Pendekatan yang digunakannya berbeda dengan pendekatan yang digunakan untuk mengatasi masalah khamr, poligami, atau riba, misalnya.
(more…)
Seorang teman bilang bahwa hukum atau aturan Tuhan itu tetap dan tidak akan pernah berubah. Sekali ditetapkan selamanya akan berlaku seperti itu. Saya bilang tidak. Hukum atau aturan Tuhan bisa berubah disesuaikan dengan perkembangan jaman. Yang dulunya diperbolehkan suatu saat bisa saja dilarang karena jaman sudah berubah.
Contoh yang gampang itu soal poligami
(more…)
Alkisah …
Di sebuah perkampungan yang selama ini suasananya aman tentram kerta raharja tiba-tiba terjadi perubahan. Terjadi ketegangan antara para suami dan para istri di kampung tersebut. Suasana yang biasanya romantis dan rukun berubah menjadi tegang dan tidak ada lagi tawa dan canda diantara mereka. Para suami tiba-tiba dimusuhi oleh para istri. Mengapa demikian?
Para ibu ternyata melihat gejala yang aneh dari para suami mereka yang tiba-tiba menjadi lebih genit daripada biasanya. Para suami yang biasanya sarungan setiap pagi dan tidak mandi kalau tidak diteriaki berkali-kali oleh istirnya tiba-tiba sejak pagi sudah mandi bersih dan berpakaian lengkap dengan sisiran yang klimis .Usut punya usut ternyata hal tersebut disebabkan oleh munculnya sebuah perkumpulan eksklusif bernama “Polgam Club” di kampung tetangga yang punya slogan “Why Only One If You Can Get More?”, “God Bless Those Who Allow Husbands.”, “Why Go Illegal If You Can Go Legal?”, dll… dll…
Ringkasnya, para suami menuntut agar mereka juga bisa memperoleh privilege yang diperoleh para anggota “Polgam Club” tersebut.’ Mosok mereka bisa kami tidak bisa?’, demikian kilah mereka. Lagipula berdasarkan statistik jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Entah statistic darimana yang mereka sampaikan. Kami tidak ingin terperosok dalam perzinahan yang semakin lama semakin mewabah. Alangkah baiknya kalau syahwat disalurkan secara syar’i daripada terjerumus, dll… dll… Tentu saja argumen mereka ini dijawab oleh para istri mereka dengan argumen,’Apakah servis kami selama ini kurang memuaskan sehingga perlu tukang servis lain? Satu aja ngak habis-habis kok.’. Dll… dll…
(more…)
Mungkin Anda bertanya-tanya mengapa Obama memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian yang sangat bergengsi tersebut. Bukankah Obama masih juga melancarkan perang ke berbagai penjuru dunia dan tidak mampu menekan Israel untuk berhenti meneror dan membunuhi rakyat Palestina? Lantas apa dong kontribusinya pada perdamaian dunia?
Artikel berikut ini mungkin bisa menjelaskannya.
The Nobel Prize, the Brand and the President
By Gilad Atzmon
(more…)
Kalau Anda belum tahu apa itu ‘Kantin Kejujuran’ sebaiknya Anda membaca link berikut ini (http://www.diknas-padang.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=23&artid=240) atau (http://blogberita.net/2008/03/02/kantin-kejujuran/), lantas setelah itu mari kita membayangkan sebuah kantin sekolah yang sungguh ideal dimana setiap siswa dan guru adalah mahluk-mahluk jujur belaka dimana jika mereka masuk ke kantin sekolah, yang biasanya dijaga oleh istri Pak Bon dengan mata elangnya, tapi yang satu ini tidak dijaga siapa pun kecuali sejumlah malaikat berstatus volunteer yang tidak terlihat dan mendapat tugas khusus untuk mencatat siapa-siapa saja siswa dan guru yang mungkin belum kaffah kejujurannya. Tapi kalau mau ngemplang ya silakan saja. Hebat kan!
Para pembeli di kantin ini tentunya, diharapkan, adalah para siswa dan guru yang memasuki kantin dengan penuh keimanan di dada dan juga harus menguasai matematika (minimal aritmatika dasar penambahan dan perkalian) agar tidak keliru dalam membayar sejumlah uang sesuai dengan makanan, minuman, dan camilan yang mereka konsumsi serta berapa kembaliannya. Tak ada istri Pak Bon dengan mata elang dan kejeniusan aritmatiknya yang akan menghitungkan berapa uang yang harus kita bayar untuk makanan dan minuman yang kita kudap (atau mengingatkan siapa-siapa yang ngeloyor begitu saja tanpa membayar seolah masih sanak famili dari Pak Bon pemilik kantin). Di kantin jenis ini diharapkan siswa tidak menerapkan Prinsip 3-2-1 yang biasanya mereka terapkan di kantin reguler.
(more…)
Bulan Ramadhan ini merupakan tahun pertama Tara, anak bungsu kami, berpuasa sehari penuh. Tahun sebelumnya Tara hanya berpuasa setengah hari sebagaimana anak-anak lainnya. Sebetulnya kami tidak menyuruh Tara, yang baru kelas 1 SD itu, untuk berpuasa penuh dan menganggap berlatih berpuasa setengah hari sudah cukup baginya yang under-weight itu. Tapi nampaknya Tara memang anak yang istimewa. Ia punya semangat yang besar untuk melakukan hal-hal yang bagi orang lain cukup berat. (Saya ingat komentar murid-murid saya di tingkat elementary di Bontang International School dulu ketika tahu bahwa saya berpuasa seharian penuh selama sebulan ketika Ramadhan. Mereka mengatakan, :”Really? You don’t drink or eat even a bit the whole day? How could you do that, Mr Satria! I would die if I did that!” Ketika saya katakan bahwa banyak anak-anak muslim yang lebih muda darinya yang berpuasa seperti saya dan mereka pun semakin melongo! Mungkin mereka berpikir bahwa anak-anak muslim adalah calon-calon superman atau mungkin rahib petapa di masa depan.)
(more…)











Recent Comments