prev next

SAYA BOLOS… PAK!

Yufi, Yubi dan FarrelSaya hendak memanasi mesin mobil ketika melihatnya di depan pagar rumah saya. Ia sedang berjongkok menggores-gores sesuatu di tanah. Di punggungnya ia membawa tas sekolah. Tapi ia tidak mengenakan seragam sekolah saat itu.
“ Hai Adul! Kamu tidak sekolahkah…?!” Tanya saya. Saya biasa memanggilnya “Adul” seperti semua tetangga lain (meski kemudian saya baru tahu bahwa ia punya panggilan lain di sekolah).
“Tidak Pak. Saya bolos, Pak.” Jawabnya singkat dan meneruskan pekerjaannya menggores-gores.
Bolos…?! Saya langsung terkesiap. Anak sulung saya paling kerap membolos dulu dan itu membuatnya diganjar tidak naik kelas. Tingkat bolosnya sudah begitu tinggi sehingga bahkan status orang tuanya dan hubungan baik dengan kepala sekolah tetap tidak bisa membantunya untuk naik kelas. Lagipula kami orang tuanya memang tidak berniat untuk ‘membantu’nya naik kelas dengan cara apa pun. Sudah menjadi prinsip kami bahwa setiap anak harus menerima konsekuensi dari tindakannya sendiri. Jika membolos membuatnya tidak bisa naik kelas so be it!
(more…)

Tags:
 

PETISI :

IKATAN GURU INDONESIA (IGI)

HENTIKAN PROGRAM SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI)

SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL ADALAH PROGRAM YANG SALAH KONSEP DAN 90% PASTI GAGAL

MENGAPA PROGRAM SBI HARUS DIHENTIKAN?

Jika kita cermati ternyata program SBI ini mengandung banyak kekurangan mencolok. Alih-alih menghasilkan kualitas bertaraf internasional kualitas pendidikan kita justru akan terjun bebas.Mengapa?

Ada beberapa kelemahan mendasar dari program SBI ini dan kelemahan ini begitu mendasar sehingga program ini memang harus dievaluasi, diredefinisi, dan perlu untuk dihentikan sampai hal-hal mendasar tersebut ditangani.

KONSEPNYA LEMAH

* Pertama, program ini jelas tidak didahului dengan riset yang mendalam dan konsepnya lemah. Dengan menyatakan bahwa SBI = SNP + X, maka sebenarnya konsep SBI ini tidak memiliki bentuk dan arah yang jelas. Tidak jelas apa yang diperkuat, diperkaya, dikembangkan, diperdalam, dll tersebut. Jika konsep ini secara jelas menyatakan mengadopsi atau mengadaptasi standar pendidikan internasional seperti Cambridge IGCSE atau IB, umpamanya, maka akan lebih jelas kemana arah dari program ini. Dengan memasukkan TOEFL/TOEIC, ISO dan UNESCO sebagai “X” juga menunjukkan bahwa Dikdasmen juga tidak begitu paham dengan apa yang ia maksud dengan “X” tersebut. Sampai saat ini tak ada satu pun petunjuk apa yang dimaksud dengan “X” tsb. Konsep “X” ini benar-benar misterius dan dibiarkan tetap misterius.

APA ITU ‘BERTARAF INTERNASIONAL’?

Program ini sudah SALAH KONSEP sejak dari awalnya. UU yang mencantumkan tentang program ini harus di judicial review. Coba perhatikan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 50 ayat (3) yang berbunyi, “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.”

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan satuan pendidikan yang bertaraf internasional tersebut? Istilah ini tidak pernah dikenal sebelumnya dan tidak jelas apa acuan, kriteria dan apalagi rujukan akademiknya. Istilah ini muncul begitu saja dari langit dan dimasukkan ke dalam UU Sisdiknas. Bagaimana mungkin sebuah UU memuat sebuah rumusan yang sama sekali tidak memiliki acuan, kriteria, dan rujukan akademiknya? (more…)

Tags:
 

Mustaqim dan Sekolah Pemimpinnya

Sekolah Pemimpin. Foto: www.bmh.or.id

Namanya Mustaqim. Ia kepala Baitul Maal Hidayatullah Balikpapan. (http://www.bmh.or.id/). Pagi itu HP-nya berdering. Ia meliriknya dan ia melihat nomor yang tidak ia kenal. Ia tidak segera mengangkatnya. “Mungkin salah nomor.” Pikirnya. HP-nya berdering untuk kedua kalinya. Ia masih belum tergerak untuk mengangkatnya.
Tapi ketika HP-nya berdering untuk ketiga kalinya ia baru sadar bahwa tak mungkin itu salah sambung. Tentunya ini masalah serius kalau ada yang menelponnya sampai tiga kali. Begitu ia angkat HPnya dan mengucapkan salam, di ujung sambungan langsung menyambutnya dengan tangisan. Mustaqim terkejut dan terheran-heran. “Ada apa ini…?!Kok nangis di telpon?” tanyanya dalam hati.
Tapi ia membiarkan si penelpon menangis sampai berhenti. Mungkin perasaan sedihnya telah ia pendam selama berhari-hari dan begitu bertemu dengan saluran langsung jebol!. Ketika tangisnya telah selesai ia langsung bertanya,” Ada apa Pak? Apa yang bisa saya bantu?” Tapi ternyata ia salah. Si penelpon ternyata seorang wanita dan tanpa basa-basi ia langsung menyatakan maksudnya untuk pinjam uang sebesar 150 ribu karena ia sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Ia bermaksud untuk pergi ke rumah sakit atau dokter untuk berobat dan satu-satunya tempat yang ia tahu untuk pinjam uang adalah BMH.
(more…)

TAK ADA KORELASI : NILAI TRY-OUT DAN NILAI UNAS

Ilustrasi: Ujian
Ilustrasi: Ujian

Apakah ada korelasi antara hasil nilai Try-out dengan UNAS itu sendiri? Ternyata TIDAK ADA. Hampir SEMUA hasil ujian Try-out di berbagai daerah hasilnya JEBLOK. Tapi hasil nilai UNAS ternyata cemerlang. Jadi sebenarnya TRY-OUT yang dilakukan itu sungguh tidak ada gunanya karena tidak menunjukkan korelasi yang signifikan.
Coba tanya sama Mbah Gugel. Bandingkan antara hasil nilai Try-out dengan hasil UNAS-nya sendiri di berbagai daerah. Terjadi peningkatan nilai yang fantastis, mengejutkan, mengherankan dan sekaligus aneh bin ajaib…! :-) Ini sebetulnya merupakan bahan penelitian yang menarik tapi anehnya tak ada yang tertarik. :-)

Ingin bukti…?! Coba baca data berikut ini :

  1. Hasil Try Out UN Kota Tanjungpinang Memprihatinkan
    Untuk jenjang SLTP, persentase kelulusan hanya mencapai 6 persen. Dari 2.805 peserta try out, hanya 159 yang dinyatakan lulus. Bahkan, dari 25 SLTP, ada 14 sekolah yang kelulusannya nol persen!
    Sementara, di jenjang SMK, dari 709 peserta, hanya 39 peserta yang lulus atau hanya 5 persen. Di jenjang ini, ada empat sekolah yang kelulusannya nol persen.
    Sedangkan di jenjang SMA/MA IPA, persentase kelulusan mencapai 2 persen. Pada jurusan IPS, kelulusannya mencapai 5 persen, dan jurusan Bahasa nol persen! (more…)
Tags:
 

Ilustrasi: Sekolah Internasional

Ilustrasi: Sekolah Internasional

Suatu ketika di masa yang belum terlalu lama datanglah se rombongan guru SBI ke Jepang. SBI itu singkatan dari Sekolah Bertaraf Internasional. Jika Anda masih awam dengan istilah tersebut sila baca di sini. Salah satu alasan dibentuknya program ini adalah agar devisa bangsa tidak tersedot oleh banyaknya siswa yang sekolah ke luar negeri seperti yang terjadi selama ini. Katanya sih setiap bulan satu juta dolar AS atau lebih dari 10 miliar rupiah mengalir keluar negeri untuk biaya sekolah anak-anak di luar negeri. Baca di : sini

Jadi alangkah mulianya jika kita bisa membuat sendiri sekolah yang bertaraf internasional agar siswa-siswa kaya tersebut tidak perlu harus ke luar negeri bersekolah dan devisa kita tidak tersedot. Tapi itu hanya satu alasan. Ada alasan lain yang tentunya tidak kalah mulianya tujuannya.
(more…)

Tags:
 

TANYA JAWAB TENTANG UJIAN NASIONAL


1. Perlukah kita akan sebuah Ujian yang berstandar Nasional?
Ya. perlu. Kita memiliki sebuah sistem pendidikan yang berstandar nasional. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional tersebut mencakup
* Standar Kompetensi Lulusan
* Standar Isi
* Standar Proses
* Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
* Standar Sarana dan Prasarana
* Standar Pengelolaan
* Standar Pembiayaan Pendidikan
* Standar Penilaian Pendidikan
Baca di http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=61
Jika kita telah memiliki standar pelayanan pendidikan yang berskala nasional seperti ini maka kita juga memerlukan adanya sebuah ujian yang berstandar nasional.
(more…)

QUO VADIZ UJIAN NASIONAL?

Ujian NasionalDengan melakukan Ujian Nasional seperti sekarang ini sebenarnya Pemerintah Indonesia telah melakukan tindakan yang sangat gegabah dan belum pernah dilakukan oleh negara mana pun di dunia ini, yaitu menjadikan standardized test yang high-stakes sebagai exit exams bagi semua jenjang pendidikan yang berlaku di seluruh daerah di Indonesia. Tak ada negara lain di dunia ini yang melakukan hal tersebut. UN yang dijadikan sebagai alat kelulusan, yaitu sebuah perangkat untuk mencegat siswa untuk melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya, yang berlaku bagi semua siswa di jenjang pendidikan SD, SMP dan SLTA di seluruh Indonesia dengan sebuah tes standar yang berisiko tinggi memang tidak pernah dilakukan oleh negara mana pun.
(more…)

Tags:
 

IlustrasiPernah dengar istilah OLPC? OLPC itu singkatan dari One Laptop Per Child (Satu Laptop untuk Setiap Anak). OLPC atau The Children’s Machine atau XO-1 atau Laptop $100 adalah sebuah program penyediaan laptop dengan harga terjangkau untuk anak-anak di seluruh dunia, khususnya anak-anak di negara berkembang dengan harapan agar mereka dapat mengakses pengetahuan dan pendidikan modern.
OLPC adalah ide dari Nicholas Negroponte (1943) seorang ilmuwan komputer yang dikenal sebagai pendiri dan direktur dari Media Lab di MIT (Massachusetts Institute of Technology). Organisasi ini bertugas mendesain , membuat dan mendistribusikan laptop yang dimaksud.
(more…)

Tags:
 

CITA-CITA, KEINGINAN, DAN OBSESI

kids-obsession“Apa cita-citamu…?” Iseng-iseng saya tanya anak sulung saya.
“Cita-cita…..? Ehm…. Nggak tahu, eh….pilot! Eh…bukan…pemain sepakbola!” jawabnya. Mendengar jawabannya saya tahu bahwa ia asal jawab saja. Bagaimana mungkin ia bercita-cita jadi pilot jika ia tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada profesi tersebut dan keterkaitannya? Ia mungkin menikmati bepergian dengan pesawat dan mengasosiasikannya dengan itu. Bagaimana mungkin pula ia bercita-cita jadi pemain sepakbola jika dalam ekstra-kurikuler di sekolahnya, dengan tubuhnya yang kecil, ia bahkan tidak pernah dipasang untuk bermain. Ia selalu hanya kebagian sebagai ‘anak gawang’ yang tugasnya disuruh-suruh untuk membantu para pemain dalam tim. Saya sering mengoloknya untuk itu meski saya sebenarnya sadar bahwa itu tidak baik bagi self esteemnya. Tapi kadang-kadang saya sulit mengendalikan keinginan jail saya untuk mengolok-ngolok anak saya. Ini mungkin penyakit ‘kampungan’ yang saya bawa sejak kecil dan sulit untuk saya sembuhkan.
Meski demikian nampaknya anak saya sudah ‘kebal’ dan tidak seberapa terpengaruh dengan olok-olok saya. Buktinya ia masih juga bercita-cita jadi pemain bola meski kami sama-sama tahu bahwa itu sekedar asbun alias asal bunyi. Belakangan ia bilang pingin jadi anak band dan ia memulai ‘karir’nya dengan berdandan ala anak band. Paling tidak cita-citanya sudah mulai diwujudkan dengan gayanya dululah! Gaya dulu, kompetensi belakangan.
(more…)

 

APAPUN KURIKULUMNYA, MUTU GURU KUNCINYA

“Educational change depends on what teachers do and think – it’s as simple and as complex as that. It would all be so easy if we could legislate changes in thinking. Classrooms and schools become effective when (1) quality people are recruited to teaching, and (2) the workplace is organized to energize teachers and reward accomplishments. The two are intimately related. Professionally rewarding workplace conditions attract and retain good people.” The New Meaning of Educational Change, 3rd ed. Fullan (2001:115).

best-teacherIni bukan versi iklan ‘Apapun makannya, minumnya…’ tapi judul ini memang perlu saya tampilkan agar para pengambil kebijakan pendidikan d Indonesia sadar bahwa jika mereka ingin membuat perubahan yang berarti dalam bidang pendidikan maka fokus utama mereka haruslah tetap pada kualitas guru.
Seperti yang dikatakan oleh Fullan, kelas dan sekolah baru akan efektif apabila (1) kita merekrut orang-orang terbaik untuk menjadi guru, dan (2) lingkungan kerja guru dibuat nyaman dan kondusif untuk bekerja dan mendorong mereka untuk berkarya agar mereka tidak loncat mencari pekerjaan lain.
Itu kalau kita mau melakukan perubahan dalam pendidikan lho! Tapi kalau sekedar menjalankan pendidikan seadanya ya lakukan saja apa yang sudah dilakukan selama ini.
(more…)

Tags: