Saya hendak memanasi mesin mobil ketika melihatnya di depan pagar rumah saya. Ia sedang berjongkok menggores-gores sesuatu di tanah. Di punggungnya ia membawa tas sekolah. Tapi ia tidak mengenakan seragam sekolah saat itu.
“ Hai Adul! Kamu tidak sekolahkah…?!” Tanya saya. Saya biasa memanggilnya “Adul” seperti semua tetangga lain (meski kemudian saya baru tahu bahwa ia punya panggilan lain di sekolah).
“Tidak Pak. Saya bolos, Pak.” Jawabnya singkat dan meneruskan pekerjaannya menggores-gores.
Bolos…?! Saya langsung terkesiap. Anak sulung saya paling kerap membolos dulu dan itu membuatnya diganjar tidak naik kelas. Tingkat bolosnya sudah begitu tinggi sehingga bahkan status orang tuanya dan hubungan baik dengan kepala sekolah tetap tidak bisa membantunya untuk naik kelas. Lagipula kami orang tuanya memang tidak berniat untuk ‘membantu’nya naik kelas dengan cara apa pun. Sudah menjadi prinsip kami bahwa setiap anak harus menerima konsekuensi dari tindakannya sendiri. Jika membolos membuatnya tidak bisa naik kelas so be it!
(more…)
Rabu, 2 Juni 2010, Saya dan Ika mengadakan tur ke Singapore selama 3 hari.
Tour ini kami lakukan tanpa persiapan jauh-jauh hari seperti biasanya dan boleh dibilang cukup mendadak. Persiapan matang jauh-jauh hari sebelumnya adalah ciri khas Ika sedangkan saya lebih suka mempersiapkan diri last minute seperti ini.
Entah kenapa tiba-tiba saya ingin jalan-jalan ke Singapore. Mungkin karena ingin menemani orang tua saya yang ingin berobat ke Singapore tapi tidak bisa karena saya ada jadwal rapat yayasan di STIKOM Bali. Akhirnya adik saya yang menemani mereka. Tapi ternyata mereka samasekali tidak bisa menikmati perjalanan karena sepenuhnya berada di rumah sakit Mount Elizabeth.
Sebenarnya minggu ini jadwal kerja saya adalah mengikuti rapat pembahasan Naskah Kurikulum di Kemendiknas karena diundang oleh seorang teman. Saya diundang dalam kapasitas sebagai Ketua IGI, katanya.
Saya sudah pesan tiket untuk berangkat Rabu hari ini karena rapatnya pada hari Kamis dan Jum’at. Entah kenapa tiba-tiba saja kemarin pagi teman saya tersebut mengirim SMS memberitahu bahwa ternyata nama saya tidak ada dalam undangan dan ia sangat malu akan hal tersebut. Bagi saya hal tersebut justru sebuah kebetulan yang menyenangkan karena saya tidak terlalu tertarik dengan acara tersebut. Saya sudah bosan melakukan rapat-rapat akademis seperti itu dan biasanya kami cuma jadi stempel saja. Semuanya sudah diatur oleh mereka dan tidak ada masukan berarti yang akan diterima.
(more…)

Ilustrasi: Keceriaan Anak-anak
Seorang ibu datang ke dokter gigi dan mengeluhkan gigi anaknya yang kropos. Si dokter memeriksa gigi anak tersebut dengan cermat. Ternyata gigi si anak memang kropos. Ada delapan buah gigi si anak yang kropos dan berlubang. Dua diantaranya tidak bisa ditambal karena tinggal separoh.
Ketika si ibu mengeluhkan gigi anaknya dan membela diri bahwa si anak sebenarnya rajin dan teratur menyikat giginya dengan cara menyikat yang benar dan dengan pasta gigi yang berflorida si dokter hanya senyum-senyum saja.
Ketika selesai mengerjakan gigi si anak sang dokter gigi kemudian berkata bahwa masalahnya bukan terletak pada perawatan gigi si anak yang kurang tepat atau pasta gigi yang digunakan kurang berkualitas tapi memang pada kondisi gigi si anak yang memang dari asalnya kurang bagus. Gigi si anak memang buruk kualitasnya karena kurang kalsium. Si ibu kurang asupan kalsiumnya ketika sedang hamil dulu. Jadi masalahnya jauh lebih kompleks. Karena kurang asupan kalsium (dan kemungkinan kurang asupan gizi) ketika hamil maka dampaknya mengenai si anak ketika ia lahir dan beberapa dampak dari kekurangan gizi pada masa kehamilan tersebut akan terbawa sampai si anak lahir dan tumbuh dewasa. Dalam kasus di atas gigi si anak akan bisa cacat permanen. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh si ibu agar gigi anaknya bisa tumbuh sehat dan kuat seperti anak-anak yang memiliki asupan kalsium yang cukup ketika masih dalam kandungan. Apa yang bisa dilakukannya hanyalah menjaga agar kualitas gigi yang ada sekarang tidak semakin merosot karena perawatan yang salah.
(more…)

- Sumber Gambar: http://treest.wordpress.com
“Berapa gaji yang Anda minta?” tanya si pewawancara pada saya.
Saya sedang menghadapi wawancara untuk masuk kerja sebagai seorang guru di sebuah yayasan sekolah internasional saat itu. Pertanyaan-pertanyaan sebelumnya telah saya jawab dengan lancar dan dengan penuh percaya diri.
“ Enam ratus ribu!” jawab saya mantap. ‘Not less than a penny.’ tambah saya dalam hati. Saya sudah mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan ini. Jadi sama sekali tak ada keraguan saya untuk menjawabnya. Bahkan sebenarnya saya melamar ke sekolah ini karena ingin memperoleh gaji sebesar itu. Gaji saya sebelumnya adalah setengah dari angka tersebut. Dan saya ingin sekali gaji saya dua kali lipat dari sebelumnya. Mendapatkan gaji dua kali lipat dari sebelumnya seolah menjadi target saya saat itu.
Pertama kali bekerja sebagai guru di sebuah desa kecamatan Caruban yang berjarak sekitar 30 km dari kota Madiun pada akhir 70-an saya mendapat gaji sebesar 15 ribu rupiah. Biaya kost dan makan untuk bujangan macam saya waktu itu adalah 10 ribu rupiah. Sisanya yang 5 ribu rupiah saya pakai untuk kebutuhan lain dan ongkos pulang ke Surabaya setiap bulan. Gaji tersebut boleh dikata habis tak tersisa. Saya tidak bisa menabung samasekali dengan gaji CPNS tersebut (tentu saja! Kalau gaji saya sebesar Gayus itu lain cerita) sehingga saya berpikir alangkah enaknya jika gaji saya dua kali lipat dari saat itu.

Tak lama kemudian gaji saya naik dan naik sehingga mencapai 30 ribu rupiah. Dua kali lipat dari gaji awal saya. Was I happy? Ternyata gaji tersebut tidak mengubah apa pun. Gaji tersebut tetap habis dan saya tetap tidak bisa menabung sama sekali. (more…)
Alkisah …
Di sebuah perkampungan yang selama ini suasananya aman tentram kerta raharja tiba-tiba terjadi perubahan. Terjadi ketegangan antara para suami dan para istri di kampung tersebut. Suasana yang biasanya romantis dan rukun berubah menjadi tegang dan tidak ada lagi tawa dan canda diantara mereka. Para suami tiba-tiba dimusuhi oleh para istri. Mengapa demikian?
Para ibu ternyata melihat gejala yang aneh dari para suami mereka yang tiba-tiba menjadi lebih genit daripada biasanya. Para suami yang biasanya sarungan setiap pagi dan tidak mandi kalau tidak diteriaki berkali-kali oleh istirnya tiba-tiba sejak pagi sudah mandi bersih dan berpakaian lengkap dengan sisiran yang klimis .Usut punya usut ternyata hal tersebut disebabkan oleh munculnya sebuah perkumpulan eksklusif bernama “Polgam Club” di kampung tetangga yang punya slogan “Why Only One If You Can Get More?”, “God Bless Those Who Allow Husbands.”, “Why Go Illegal If You Can Go Legal?”, dll… dll…
Ringkasnya, para suami menuntut agar mereka juga bisa memperoleh privilege yang diperoleh para anggota “Polgam Club” tersebut.’ Mosok mereka bisa kami tidak bisa?’, demikian kilah mereka. Lagipula berdasarkan statistik jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Entah statistic darimana yang mereka sampaikan. Kami tidak ingin terperosok dalam perzinahan yang semakin lama semakin mewabah. Alangkah baiknya kalau syahwat disalurkan secara syar’i daripada terjerumus, dll… dll… Tentu saja argumen mereka ini dijawab oleh para istri mereka dengan argumen,’Apakah servis kami selama ini kurang memuaskan sehingga perlu tukang servis lain? Satu aja ngak habis-habis kok.’. Dll… dll…
(more…)
Tidak perduli apa pun profesi Anda. Tidak perduli seberapa sulit pekerjaan Anda. Anda punya dua pilihan dalam menghadapinya : Mengeluh atau Mengubah Keadaan.
Anak-anak saya juga sering menggerutu dan mengeluhkan berbagai hal dan karena bosan mendengar keluhan itu-itu juga maka saya menuliskan di sebuah kertas kuarto dan melaminating pesan berikut : “Kita Tidak Mengeluh dan Menggerutu. Kita Mengambil Tindakan dan Mengubah Keadaan.” Jadi setiap kali mereka mulai menggerutu atau mengeluh saya akan bertanya,:”Apakah kamu mengeluh? dan menyuruh mereka untuk membaca kembali pesan yang sudah saya laminating tersebut. It works! Mereka akan berhenti mengeluh meski sering juga mereka membantah,:”Nggak! Aku nggak mengeluh kok! Aku cuma bilang …”
Berikut ini ada cerita yang saya pungut dari milis lain yang mungkin menarik untuk kita jadikan sebagai pertimbangan dlam mengubah sikap kita dalam memandang hidup.
Enjoy!
Salam
Satria
(more…)
Dulu saya adalah perokok kelas berat. Setiap hari paling tidak dua bungkus rokok kretek saya habiskan. Dan itu saya mulai ketika saya masih duduk di SMP klas 3! Seorang teman ’menjerumuskan’ saya dengan memasok saya rokok gratis dengan mencuri dari warung neneknya setiap hari dan ketika neneknya tahu saya sudah terjerat!
Bagaimana cara saya untuk bisa tetap merokok? Banyak jalan menuju Roma kata orang. Apalagi kalau cuma mau merokok.
Artinya, seorang yang sudah kecanduan merokok tidak akan keberatan diminta jalan kaki ke Roma asal dibekali rokok. hehehe…! Kalau sudah ketagihan dan benar-benar tidak punya rokok saya dan teman saya tidak segan-segan ’ngutis’ alias memunguti puntung rokok orang lain yang masih panjang untuk kami teruskan. ”Lanjutkan!” mungkin kira-kira demikian motto kami. ’Lebih panjang lebih baik’ dan ’demi wong cilik’ seperti kami. ![]()
(more…)
“Apa cita-citamu…?” Iseng-iseng saya tanya anak sulung saya.
“Cita-cita…..? Ehm…. Nggak tahu, eh….pilot! Eh…bukan…pemain sepakbola!” jawabnya. Mendengar jawabannya saya tahu bahwa ia asal jawab saja. Bagaimana mungkin ia bercita-cita jadi pilot jika ia tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada profesi tersebut dan keterkaitannya? Ia mungkin menikmati bepergian dengan pesawat dan mengasosiasikannya dengan itu. Bagaimana mungkin pula ia bercita-cita jadi pemain sepakbola jika dalam ekstra-kurikuler di sekolahnya, dengan tubuhnya yang kecil, ia bahkan tidak pernah dipasang untuk bermain. Ia selalu hanya kebagian sebagai ‘anak gawang’ yang tugasnya disuruh-suruh untuk membantu para pemain dalam tim. Saya sering mengoloknya untuk itu meski saya sebenarnya sadar bahwa itu tidak baik bagi self esteemnya. Tapi kadang-kadang saya sulit mengendalikan keinginan jail saya untuk mengolok-ngolok anak saya. Ini mungkin penyakit ‘kampungan’ yang saya bawa sejak kecil dan sulit untuk saya sembuhkan.
Meski demikian nampaknya anak saya sudah ‘kebal’ dan tidak seberapa terpengaruh dengan olok-olok saya. Buktinya ia masih juga bercita-cita jadi pemain bola meski kami sama-sama tahu bahwa itu sekedar asbun alias asal bunyi. Belakangan ia bilang pingin jadi anak band dan ia memulai ‘karir’nya dengan berdandan ala anak band. Paling tidak cita-citanya sudah mulai diwujudkan dengan gayanya dululah! Gaya dulu, kompetensi belakangan.
(more…)
Bulan Ramadhan ini merupakan tahun pertama Tara, anak bungsu kami, berpuasa sehari penuh. Tahun sebelumnya Tara hanya berpuasa setengah hari sebagaimana anak-anak lainnya. Sebetulnya kami tidak menyuruh Tara, yang baru kelas 1 SD itu, untuk berpuasa penuh dan menganggap berlatih berpuasa setengah hari sudah cukup baginya yang under-weight itu. Tapi nampaknya Tara memang anak yang istimewa. Ia punya semangat yang besar untuk melakukan hal-hal yang bagi orang lain cukup berat. (Saya ingat komentar murid-murid saya di tingkat elementary di Bontang International School dulu ketika tahu bahwa saya berpuasa seharian penuh selama sebulan ketika Ramadhan. Mereka mengatakan, :”Really? You don’t drink or eat even a bit the whole day? How could you do that, Mr Satria! I would die if I did that!” Ketika saya katakan bahwa banyak anak-anak muslim yang lebih muda darinya yang berpuasa seperti saya dan mereka pun semakin melongo! Mungkin mereka berpikir bahwa anak-anak muslim adalah calon-calon superman atau mungkin rahib petapa di masa depan.)
(more…)
Dua puluh lima tahun yang lalu ketika saya masih memimpin bimbingan belajar Airlangga Student Group (ASG) saya memperhatikan bahwa kegagalan utama siswa dalam memperoleh nilai tinggi agar bisa diterima di SMA atau Perti pilihan mereka adalah karena mereka malas untuk berlatih soal-soal. Padahal kalau mereka mau rajin melatih diri dalam mengerjakan soal-soal ujian apa pun maka boleh dikata bahwa mereka pasti akan dapat lolos dalam ujian. Saya seringkali melihat anak-anak pintar yang gagal karena malas dan anak-anak yang tergolong rendah prestasinya di sekolah justru berhasil karena mau menerapkan strategi berlatih…berlatih… dan berlatih….! Saya katakan pada mereka bahwa seorang atlit tinju yang akan bertanding di ring tinju selama 10 ronde minimal harus telah berlatih 100 ronde. Itu belum termasuk latihan lari, skipping, punching, dll. Nah, bayangkan jika kita mesti menyelesaikan 40 soal matematika, misalnya. Berapa ratus soal matematika yang harus kita lahap sebelumnya, termasuk membaca teori dan menghafal penggunaan rumusnya? Saya bahkan wajibkan mereka untuk menyelesaikan minimal 1000 soal bahasa Inggris (karena saya mengajar bahasa Inggris) dan kalau bisa ya 2000 soal. Lahap semua soal dan rasakan betapa mudahnya soal-soal tersebut jika kita telah berlatih sebanyak mungkin soal. Saya tidak sekedar berteori tapi sekaligus membuktikannya.
(more…)










Recent Comments