Rabu, 2 Juni 2010, Saya dan Ika mengadakan tur ke Singapore selama 3 hari.
Tour ini kami lakukan tanpa persiapan jauh-jauh hari seperti biasanya dan boleh dibilang cukup mendadak. Persiapan matang jauh-jauh hari sebelumnya adalah ciri khas Ika sedangkan saya lebih suka mempersiapkan diri last minute seperti ini.
Entah kenapa tiba-tiba saya ingin jalan-jalan ke Singapore. Mungkin karena ingin menemani orang tua saya yang ingin berobat ke Singapore tapi tidak bisa karena saya ada jadwal rapat yayasan di STIKOM Bali. Akhirnya adik saya yang menemani mereka. Tapi ternyata mereka samasekali tidak bisa menikmati perjalanan karena sepenuhnya berada di rumah sakit Mount Elizabeth.
Sebenarnya minggu ini jadwal kerja saya adalah mengikuti rapat pembahasan Naskah Kurikulum di Kemendiknas karena diundang oleh seorang teman. Saya diundang dalam kapasitas sebagai Ketua IGI, katanya.
Saya sudah pesan tiket untuk berangkat Rabu hari ini karena rapatnya pada hari Kamis dan Jum’at. Entah kenapa tiba-tiba saja kemarin pagi teman saya tersebut mengirim SMS memberitahu bahwa ternyata nama saya tidak ada dalam undangan dan ia sangat malu akan hal tersebut. Bagi saya hal tersebut justru sebuah kebetulan yang menyenangkan karena saya tidak terlalu tertarik dengan acara tersebut. Saya sudah bosan melakukan rapat-rapat akademis seperti itu dan biasanya kami cuma jadi stempel saja. Semuanya sudah diatur oleh mereka dan tidak ada masukan berarti yang akan diterima.
(more…)

Ilustrasi: Sekolah Internasional
Jadi alangkah mulianya jika kita bisa membuat sendiri sekolah yang bertaraf internasional agar siswa-siswa kaya tersebut tidak perlu harus ke luar negeri bersekolah dan devisa kita tidak tersedot. Tapi itu hanya satu alasan. Ada alasan lain yang tentunya tidak kalah mulianya tujuannya.
(more…)
Saya akan melanjutkan obrolan saya sebelumnya pada topik “Hukum Tuhan yang Berubah”. Tapi kali ini akan saya bikin dalam topik tersendiri, yaitu “Perbudakan dalam Islam”. Kebetulan saya sedang berada di perut Batavia dalam perjalanan pulang dari Manado ke Balikpapan dan punya waktu satu jam lebih sebelum mendarat.
Hukum atau syariat Islam tentang perbudakan ini menurut saya sangat menarik. Jelas sekali bahwa Tuhan ingin agar perbudakan itu dihapus dalam kehidupan karena perbudakan itu sungguh tidak sesuai dengan prikemanusiaan. Tapi kita tidak akan menemukan satu pun teks dalam AlQuran yang secara jelas menyatakan bahwa perbudakan harus dihapuskan. Pendekatan yang digunakannya berbeda dengan pendekatan yang digunakan untuk mengatasi masalah khamr, poligami, atau riba, misalnya.
(more…)
Saya juga pernah melihat orang yang naik Mercedes membuang kantong plastik berisi sampah dari McDonalds. Dibuang di depan kaki saya, dekat rumah. Hampir saja saya ambil dan taruh di atas kap mesin (mobil lagi tunggu di lampu merah). Tapi saya tahu pemilik mobil pasti marah sekali, jadi saya abaikan saja.
Gene Netto
+ My story, Gene.
Dua minggu yang lalu saya dan istri naik kereta dari Surabaya ke Madiun. Di ruang tunggu saya melihat dua anak muda yang merokok dengan asyiknya di depan saya. Kebal-kebul…! How intolerant! Perkiraan saya mereka adalah mahasiswa yang akan balik ke Jogya. Ketika selesai, salah seorang dari mereka membuang puntungnya di tempat sampah. Saya bersyukur dalam hati bahwa anak muda tersebut memiliki kesadaran akan pentingnya kebersihan lingkungan, however. I wish all students did the same.
(more…)
Bagi orang yang tidak tinggal dan bekerja di Jakarta kata ‘Macet’ mungkin tidak begitu bermakna. Tapi bagi orang yang tinggal dan bekerja di Jakarta maka kata ‘Macet’ memiliki makna yang sama intensnya dengan kata ‘makan’, ‘nongkrong’, ‘bekerja’, dll.
Saya tidak tinggal di Jakarta tapi sekarang bekerja disana dan hampir setiap minggu terbang ke Jakarta untuk bertugas. Meski diusahakan agar hotel dimana saya diinapkan tidak terletak jauh dari kantor saya bekerja di Sudirman tapi saya tetap harus menggunakan taksi untuk ke pulang pergi ke kantor. Saya hanya berjalan kaki kalau menginap di Sahid yang terlalu dekat untuk naik taxi. Tapi saya lebih memilih Atlet Century karena suasananya yang lebih ‘familiar’ dan lebih dekat kemana-mana.
Meski demikian dekatnya hotel saya menginap dan kantor saya bekerja tapi saya tetap mengalami macet ketika pulang kantor. Sebetulnya jalan Sudirman sangat jarang macet dan hanya tersendat sesekali karena jalan tersebut termasuk jalur ‘three in one’ dan taxi boleh meluncur disitu kapan saja.
(more…)
Seminggu sebelum lebaran saya berkesempatan berkunjung ke beberapa sekolah menengah di dua kota di Sarawak, yaitu di Kuching dan Miri. Tujuan saya adalah untuk mencari sekolah partner dalam program pertukaran pelajar.











Recent Comments