prev next

Poligami Club, The Story Under…

poligamiAlkisah …
Di sebuah perkampungan yang selama ini suasananya aman tentram kerta raharja tiba-tiba terjadi perubahan. Terjadi ketegangan antara para suami dan para istri di kampung tersebut. Suasana yang biasanya romantis dan rukun berubah menjadi tegang dan tidak ada lagi tawa dan canda diantara mereka. Para suami tiba-tiba dimusuhi oleh para istri. Mengapa demikian?
Para ibu ternyata melihat gejala yang aneh dari para suami mereka yang tiba-tiba menjadi lebih genit daripada biasanya. Para suami yang biasanya sarungan setiap pagi dan tidak mandi kalau tidak diteriaki berkali-kali oleh istirnya tiba-tiba sejak pagi sudah mandi bersih dan berpakaian lengkap dengan sisiran yang klimis .Usut punya usut ternyata hal tersebut disebabkan oleh munculnya sebuah perkumpulan eksklusif bernama “Polgam Club” di kampung tetangga yang punya slogan “Why Only One If You Can Get More?”, “God Bless Those Who Allow Husbands.”, “Why Go Illegal If You Can Go Legal?”, dll… dll…
Ringkasnya, para suami menuntut agar mereka juga bisa memperoleh privilege yang diperoleh para anggota “Polgam Club” tersebut.’ Mosok mereka bisa kami tidak bisa?’, demikian kilah mereka. Lagipula berdasarkan statistik jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Entah statistic darimana yang mereka sampaikan. Kami tidak ingin terperosok dalam perzinahan yang semakin lama semakin mewabah. Alangkah baiknya kalau syahwat disalurkan secara syar’i daripada terjerumus, dll… dll… Tentu saja argumen mereka ini dijawab oleh para istri mereka dengan argumen,’Apakah servis kami selama ini kurang memuaskan sehingga perlu tukang servis lain? Satu aja ngak habis-habis kok.’. Dll… dll…
(more…)

Tags:
 

Mengeluh atau Mengubah Keadaan?

mengeluhTidak perduli apa pun profesi Anda. Tidak perduli seberapa sulit pekerjaan Anda. Anda punya dua pilihan dalam menghadapinya : Mengeluh atau Mengubah Keadaan.
Anak-anak saya juga sering menggerutu dan mengeluhkan berbagai hal dan karena bosan mendengar keluhan itu-itu juga maka saya menuliskan di sebuah kertas kuarto dan melaminating pesan berikut : “Kita Tidak Mengeluh dan Menggerutu. Kita Mengambil Tindakan dan Mengubah Keadaan.” Jadi setiap kali mereka mulai menggerutu atau mengeluh saya akan bertanya,:”Apakah kamu mengeluh? dan menyuruh mereka untuk membaca kembali pesan yang sudah saya laminating tersebut. It works! Mereka akan berhenti mengeluh meski sering juga mereka membantah,:”Nggak! Aku nggak mengeluh kok! Aku cuma bilang …”

Berikut ini ada cerita yang saya pungut dari milis lain yang mungkin menarik untuk kita jadikan sebagai pertimbangan dlam mengubah sikap kita dalam memandang hidup.
Enjoy!
Salam
Satria
(more…)

Tags:
 

BERHENTI MEROKOK

puntung_rokokDulu saya adalah perokok kelas berat. Setiap hari paling tidak dua bungkus rokok kretek saya habiskan. Dan itu saya mulai ketika saya masih duduk di SMP klas 3! Seorang teman ’menjerumuskan’ saya dengan memasok saya rokok gratis dengan mencuri dari warung neneknya setiap hari dan ketika neneknya tahu saya sudah terjerat!

Bagaimana cara saya untuk bisa tetap merokok? Banyak jalan menuju Roma kata orang. Apalagi kalau cuma mau merokok. :-) Artinya, seorang yang sudah kecanduan merokok tidak akan keberatan diminta jalan kaki ke Roma asal dibekali rokok. hehehe…! Kalau sudah ketagihan dan benar-benar tidak punya rokok saya dan teman saya tidak segan-segan ’ngutis’ alias memunguti puntung rokok orang lain yang masih panjang untuk kami teruskan. ”Lanjutkan!” mungkin kira-kira demikian motto kami. ’Lebih panjang lebih baik’ dan ’demi wong cilik’ seperti kami. :D
(more…)

Tags:
 

DOA ANAK SHOLEH

anak-solehDalam agama Islam diajarkan bahwa ada tiga amalan yang akan terus mengalir pahalanya walau pemiliknya telah tinggalkan dunia fana yaitu ;

1.ilmu yang bermanfaat
2.amal jariyah dan
3.doa anak sholeh

Ini bermakna bahwa orang tua diminta untuk mendidik anaknya agar menjadi anak yang sholeh yang kelak diharapkan akan terus mendoakan orang tuanya. Pesan dari ajaran tersebut adalah pesan tentang pendidikan, pendidikan kepada anak, yang ganjarannya begitu menggiurkan karena pahalanya akan terus mengalir meski kita sudah meninggal.
(more…)

 

KEBERADAAN TUHAN DALAM TEORI SAINS : PERLUKAH?

sainsIlmuwan Inggris menemukan bahwa anak terlahir sudah beriman pada Tuhan atau mengimani Tuhan merupakan tabiat bawaan anak sejak lahir. Laporan ini diliput Martin Beckford di media kondang Inggris, Telegraph, 24 November 2008 dengan judul “Children are born believers in God, academic claims” (Anak terlahir mengimani Tuhan, kata akademisi). Menurut Dr. Barrett, manusia berusia muda menganggap bahwa setiap sesuatu di dunia diciptakan dengan sebuah tujuan. Ini menjadikan mereka memiliki kecenderungan meyakini keberadaan Dzat Mahatinggi. Baca selanjutnya di

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8125:ilmuwan-inggris-anak-terlahir-sudah-mengimani-tuhan&catid=103:iptek&Itemid=56

(more…)

 

BUANG PUNTUNG ROKOK SEMBARANGAN…?!

puntung_rokokSaya juga pernah melihat orang yang naik Mercedes membuang kantong plastik berisi sampah dari McDonalds. Dibuang di depan kaki saya, dekat rumah. Hampir saja saya ambil dan taruh di atas kap mesin (mobil lagi tunggu di lampu merah). Tapi saya tahu pemilik mobil pasti marah sekali, jadi saya abaikan saja.

Gene Netto

+ My story, Gene.

Dua minggu yang lalu saya dan istri naik kereta dari Surabaya ke Madiun. Di ruang tunggu saya melihat dua anak muda yang merokok dengan asyiknya di depan saya. Kebal-kebul…! How intolerant! Perkiraan saya mereka adalah mahasiswa yang akan balik ke Jogya. Ketika selesai, salah seorang dari mereka membuang puntungnya di tempat sampah. Saya bersyukur dalam hati bahwa anak muda tersebut memiliki kesadaran akan pentingnya kebersihan lingkungan, however. I wish all students did the same.
(more…)

 

“Hidup Itu Perbuatan”, Katanya…

hidup-adalah-perbuatanHidup itu perbuatan! kata Sutrisno Bachir. Dan itu disampaikannya secara menyolok di baliho-baliho, papan-papan reklame, dan di layar-layar TV. Ia tidak hanya menuliskannya tapi juga membuat iklan tentang dirinya. Di layar TV saya dan istri saya terpaku melihat betapa ‘happy’nya kehidupan Sutrisno Bachir dan istrinya. Wajah mereka begitu sumringah. Senyum lebar begitu murah. Suasana terasa begitu damai. Sungguh sebuah keluarga impian setiap orang.
Pertamakali melihat iklan dirinya di papan reklame raksasa di Jakarta di tempat-tempat paling strategis, saya tertegun dan tercengang. Tanpa dapat saya cegah otak saya langsung mengeluarkan pertanyaan , :”Berapa duit yang harus dikeluarkan olehnya sekedar untuk mengatakan bahwa ‘Hidup itu Perbuatan’?” Dasar otak naif, umpat saya pada diri sendiri. Sutrisno Bachir adalah orang kaya raya dimana uangnya yang bekerja untuknya. Tak perlu bertanya berapa banyak uang yang dikucurkannya untuk menyatakan sesuatu yang begitu filosofis dan menggugah tersebut. Tapi sesuatu tetap mengganjal di otak saya.

(more…)

 

Keceriaan ada dimana-mana…

Keceriaan ada dimana-mana. Anda tinggal memungutnya… kapan saja Anda mau. Keceriaan ada pada semburat cahaya matahari ketika kita bangun dan membuka jendela dan pintu rumah dengan perasaan segar di pagi hari.
Keceriaan ada pada anak-anak kita yang masih meringkuk di kamar tidur masing-masing ketika kita membangunkannya agar bersiap untuk mempersiapkan diri ke sekolah setiap pagi.
Keceriaan ada pada hangat dan harumnya aroma segelas kopi dan setangkup roti berlapis krim ‘peanut and chocolate’ yang disodorkan istri kita untuk memulai aktifitas kita pagi itu. Keceriaan ada pada bunga-bunga berbagai warna yang mekar di muka rumah yang seolah hendak berkata,:”Hey! Look at me. I’m beautiful today, right?”.

(more…)

 

EPIFANI

mama_bapak.jpgApakah Anda pernah mengalami ‘Epifani’? Kalau Anda tidak tahu apa itu ‘epifani’ tidak mengapa. Saya sendiri juga baru mengetahuinya setelah membaca buku “Authentic Happiness”nya Martin E.P. Seligman yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Istilah itu disampaikan oleh Jalaluddin “Kang Jalal” Rakhmat dalam kata pengantarnya.

Epifani adalah ”peristiwa istimewa dalam kehidupan seseorang yang menjadi titik balik dalam kehidupannya. Pengaruhnya berbeda-beda, bisa negatif atau positif, bergantung pada apakah epifaninya besar atau kecil” (Denzin, 1989). Kang Jalal menjelaskannya dengan berbagai contoh dimana ia mengalami ’epifani’ sehingga mendorongnya menulis buku-bukunya yang populer seperti ”Psikologi Komunikasi”, ”Psikologi Agama” dan ”Meraih Kebahagiaan” tersebut.
Ketika membaca ini saya lantas bertanya dalam hati saya apakah saya pernah mengalami ’epifani’ yang dapat mendorong saya untuk menghasilkan karya sesuatu, seperti Kang Jalal, umpamanya? Saya tertawa kecut ketika menyadari bahwa selama hidup ternyata saya belum menghasilkan karya apa pun yang bisa saya sebut sebagai suatu ’monumen’ dalam hidup saya. Berarti saya tidak pernah mengalami ’epifani’ dong? Tanya saya dalam hati. Tapi tak mungkin saya tidak pernah mengalami ’epifani’. Saya berfikir….
Dan saya tiba-tiba ingat sebuah peristiwa yang membuat saya berubah dan menjadi titik balik dalam kehidupan saya. Yes! Saya juga pernah mengalami ’epifani’!

(more…)

 

AMANAT

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, mereka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikulllah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.
(Al-Ahzab :72)

Ayat ini selalu membuat saya penasaran dan bertanya-tanya setiap kali membacanya. Saya sering bertanya dalam hati apa maksud Allah dengan ayatnya ini. Mengapa manusia yang bersedia menerima amanat – yang bahkan langit, bumi dan gunung pun takut untuk menerimanya – justru dikatakan sebagai mahluk yang zalim dan bodoh? Mengapa Allah tidak justru memberi ‘penghargaan’ kepada orang-orang yang bersedia untuk menerima amanat, yang bahkan mahluknya yang lain takut dan menolak untuk menerimanya? Bukankah setiap dari kita itu ditunjuk untuk menjadi khalifah, menjadi pemimpin, yang artinya mendapat amanat untuk memimpin dan mengelola alam ini? Lantas mengapa manusia yang bersedia menerima amanat lantas disebut zalim dan bodoh? Syukur-syukur kita sebagai manusia sudah bersedia menerimanya! Demikian pikir saya yang naif ini.
Itu adalah salah satu ayat Al-Qur’an (dari banyak sekali ayat) yang tidak saya pahami maknanya. Ayat-ayat yang tidak saya pahami maknanya dan menimbulkan pertanyaan saya beri tanda tanya di AlQur’an saya dan berharap suatu saat saya akan memahaminya. Sampai suatu ketika saya membaca koran dan membaca berita di koran.

(more…)