prev next

SEKOLAH ‘KOTAK SABUN’ YANG ISTIMEWA

Kotak SabunSebagai seorang guru yang telah berpindah-pindah tempat mengajar sejak tahun 1978 dan belakangan bekerja sebagai konsultan pendidikan saya banyak berkeliling melihat berbagai jenis sekolah baik di tanah air dan juga di luar negeri. Dari sekian banyak sekolah tentu saya melihat banyak sekolah bagus maupun sekolah buruk. Saya pernah melihat sebuah sekolah dasar di daerah terpencil di Kalimantan Timur yang hanya memiliki satu guru dan celakanya hanya lulusan SD! Hanya dia satu-satunya orang yang bisa dimintai jasanya untuk menjadi guru karena penduduk yang lain sibuk ke laut sebagai nelayan. Saya juga pernah mengajar di sebuah sekolah internasional dengan faslitas yang begitu ‘wah’ yang bahkan buku-buku dan pensilnya diimport dari Amerika. Kami tinggal memilih di katalog apa saja yang kami inginkan dan selanjutnya barang-barang tersebut akan datang ke sekolah kami. Kami bisa minta hampir apa saja! Saya sendiri memesan banyak buku referensi bagi guru tentang metode pembelajaran yang mutakhir. Saya tinggal conteng-conteng buku di katalog yang saya inginkan dan semua buku yang saya minta tidak pernah ditolak. Kami memang bebas untuk meminta apa saja materi, alat dan bahan-bahan pelajaran, buku-buku siswa maupun penunjang bagi bidang studi yang kami ajarkan masing-masing. Tapi ketika kepala sekolah ingin pesan ‘clay’ alias tanah liat dari Amerika untuk bahan pelajaran membuat keramik (kami punya peralatannya lengkap), saya langsung memrotesnya. ‘We don’t need clay from the States, we have plenty here’ kata saya mencegahnya memesan tanah liat import. Gila apa! Masak tanah liat aja mesti impor dari Amrik! Meski saya hanya guru bahasa Indonesia dan ia kepala sekolah tapi protes saya ia dengarkan dan ia turuti. Itu enaknya bergaul dengan expatriates karena mereka tidak otoriter. Jika argumen kita benar maka ia akan mengikuti kita.

(more…)

 

BUANG PUNTUNG ROKOK SEMBARANGAN…?!

puntung_rokokSaya juga pernah melihat orang yang naik Mercedes membuang kantong plastik berisi sampah dari McDonalds. Dibuang di depan kaki saya, dekat rumah. Hampir saja saya ambil dan taruh di atas kap mesin (mobil lagi tunggu di lampu merah). Tapi saya tahu pemilik mobil pasti marah sekali, jadi saya abaikan saja.

Gene Netto

+ My story, Gene.

Dua minggu yang lalu saya dan istri naik kereta dari Surabaya ke Madiun. Di ruang tunggu saya melihat dua anak muda yang merokok dengan asyiknya di depan saya. Kebal-kebul…! How intolerant! Perkiraan saya mereka adalah mahasiswa yang akan balik ke Jogya. Ketika selesai, salah seorang dari mereka membuang puntungnya di tempat sampah. Saya bersyukur dalam hati bahwa anak muda tersebut memiliki kesadaran akan pentingnya kebersihan lingkungan, however. I wish all students did the same.
(more…)